4 Kasta Mental Anak Muda Masa Kini: Kamu Dimana?

Coba imaginasikan Indonesia adalah sesosok manusia. Yang berhati dan berjiwa.

Lantas ia terserang penyakit, dua penyakit yang berbeda, bisul dan serangan jantung. Manakah yang paling berbahaya bagi keselamatannya?

Penyakit mana yang akan mudah membunuhnya?

Tentu, serangan jantung. Karena jantung adalah organ dalam, sesuatu yang penting lagi krusial. Performanya haruslah diperhatikan, dan kualitasnya harus terus-menerus dijaga, untuk mewujudkan mimpi sehat yang di dambakan setiap manusia.

Dari analogi ini kita bisa belajar, kawan. Bahwa Indonesia tidak akan redup sinarnya oleh bisul kecil yang berupa korupsi, perselisihan, fitnah, dan lain sebagainya.

etapi Indonesia akan hancur sehancur – hancurnya oleh serangan dalam tubuhnya, yaitu anjloknya mental anak mudanya yang tak dapat berbuat apapun!

Tetapi apakah kalian tahu, anak muda Indonesia itu memiliki berbagai macam mental yang patut di perhatikan. Beragam jenis mental tersebut, bila disusun akan menciptakan sebuah kasta yang sungguh menarik.

Mau tahu?

KASTA KEEMPAT: Mental Kampungan

Kita mulai dari kasta terbawah.

Anak muda kekinian yang menganut mental ini, adalah orang – orang yang terbawa arus zaman, orang – orang lugu yang tak terarahkan oleh siapapun. Tak punya mimpi besar untuk hidup, tak pernah sekalipun memikirkan mau jadi apa kelak nantinya.

Kukatakan, hidup mereka adalah hidup yang benar – benar hampa. Sibuk oleh pergaulan dan trend alay, terlena oleh kemaksiatan yang menjerumuskan, seolah – olah membiarkan diri menjadi sampah tak berguna.

KASTA KETIGA: Mental Pemalu

Kita lihat kasta selanjutnya.

Hidup terbilang sederhana, sanking sederhananya anak muda yang mempunyai mental seperti ini sering menyederhanakan dirinya sendiri. Tak percaya diri.

Suka sekali membuat – buat alasan untuk minder dihadapan khalayak, malu menceritakan mimpinya, malu menunjukkan karyanya. Berkelakar bahwa, ‘Malu adalah sebagian dari iman’.

Padahal jujur saja, jika mereka diam, duduk atau berdiri termangu sendirian, orang takkan ada yang peduli. Orang lain butuh bukti bahwa kita berkarya, dengan telinga dan mata mereka.

KASTA KEDUA: Mental Penyerah

Kasta ini bahkan lebih konyol lagi.

Mereka memang bukan kampungan, mereka mungkin pandai berbicara, dan juga aku akui mereka adalah anak muda yang suka menghasilkan karya. Akantetapi, semangat mereka hanya sebatas buih dilautan, saat muncul pertama kali begitu banyak dan meyakinkan, namun ketika ombak menariknya, buih itupun lenyap.

Mereka yang menyimpan mental seperti ini adalah orang yang sangat aktif ketika awal dia mempelajari sesuatu, atau ketika menciptakan karyanya pertama kali. Tetapi, itu hanya sementara, seiring waktu berjalan kemalasan dan kejenuhan menguasai mereka. Ide mereka mentok, karya mereka mandet jauh dari kata produktif, akibatnya kata menyerah membumi dalam jiwa mereka.

KASTA PERTAMA: Mental Pejuang

Kita sampai di kasta tertinggi.

Siapa gerangan yang memiliki mental ini? Siapa lagi, kalau bukan kita.

Kita yang tak pernah mau mendekati maksiat, berusaha untuk selalu istiqomah, memegang teguh ajaran agama dan kitab suci, tanpa mempedulikan pergaulan yang semakin menjadi – jadi.

Kita yang tak pernah menyepelekan diri sendiri. Mempresentasikan diri dan karya dengan bahasa santun dan lugas kepada siapa saja. Berusaha untuk membuka diri demi saran dan kritik dari orang lain.

Pemilik mental tertinggi itu adalah kita, kawan. Kita yang tak pernah menyerah apapun kondisi yang kita lalui. Semakin semangat untuk melawan, menerjang, ketika cobaan kemalasan dan kejenuhan itu datang tanpa permisi, ketika kegagalan datang dengan iri.

Fokus pada tujuan, akrab dengan proses dan pembelajaran.

Sungguh jika kita selalu pegang teguh hal itu, pasti kita akan menjadi penyelamat nyawa Indonesia kelak. Yakin? Ya, harus!

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.