Adab: Kunci Pendidikan Peradaban Ala Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Ulasan Buku)

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa At-Taqwa College Depok) — ADAB saat ini menjadi istilah primadona, khususnya bagi lembaga pendidikan Islam. Namun masih banyak orang yang beranggapan keliru, bahwa adab hanya sekedar sopan-santun belaka, tanpa ada visi peradaban di dalamnya. Adalah Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang ilmuwan Muslim terkemuka yang mengembangkan konsep adab menjadi fondasi utama demi terbentuknya peradaban Islam yang gemilang.

Inilah yang merupakan fokus pembahasan dari buku “Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi” karya Dr. Muhammad Ardiansyah. Diangkat dari Disertasi beliau berjudul serupa, Dr. Ardiansyah yang juga pimpinan Pondok Pesantren At-Taqwa Depok, dalam buku ini mencoba mengebolarsi gagasan adab dari Prof. Al-Attas, yang bagi beliau adalah “master of idea”  dari sekian banyak sumbangan pemikiran tokoh tersebut.

Sebagai kata yang sudah dikenal dalam bahasa Arab sejak zaman Pra-Islam, kata adab termasuk salah satu istilah yang mengalami Islamisasi. Kendati para ahli bahasa Arab (lughawiyyun) sepakat tentang makna asal kata adab adalah “Undangan”, Dr. Ardiansyah menjelaskan bahwa para ahli tersebut tidak memaknai adab sebatas makna asalnya, tapi justru mereformasi dan menyempurnakan maknanya sehingga menjadi terminologi Islam. Seperti halnya Ibnu Manzhur, yang ketika menyebut asal kata adab sebagai undangan, maka maksudnya adalah menyeru, mengajak, dan mengundang seseorang kepada setiap perbuatan terpuji dan mencegah dari segala yang buruk.

Adab telah banyak dibahas oleh para ulama, baik dari sisi kondisi jiwa, sikap yang baik, pengamalan aklak yang baik, dan sebagainya. Namun, salah satu tokoh yang memengaruhi pemikiran Prof. Al-Attas tentang adab adalah al-Imam al-Ghazali (450-505 H). Dimana filsuf besar tersebut memaknai adab sebagai pendidikan diri lahir dan batin yang mengancu empat perkara: perkataan, perbuatan, keyakinan, dan niat seseorang.

Kata adab tidak termaktub secara eksplisit di dalam al-Qur’an. Akan tetapi, di dalam hadist kata adab bisa ditemukan dengan berbagai makna: firman Allah, perilaku, dan saksi kedisiplinan. Para ulama banyak mengaitkan adab kepada ilmu. Dalam perjalanan intelektualnya, mereka memiliki perhatian penting terhadap adab, bahkan meletakkan adab lebih tinggi daripada ilmu. Umar ibn al-Khattab pernah berkata, “Pelajarilah adab kemudian baru pelajari ilmu”, nasehat ini begitu masyhur, sehingga jelaslah bahwa proses mempelajari adab harus mendapat prioritas utama sebelum mempelajari ilmu.

Senada dengan itu, seorang tabi’in dan juga pakar Hadits, Abdullah Ibn al-Mubarak juga menyampaikan, “Kami lebih membutuhkan sedikit adab daripada ilmu uang banyak”. Dr. Ardiansyah pun mengungkapkan, bahwa perkataan Ibn al-Mubarak ini menunjukkan adab menjadi kebutuhan utama bagi penuntut ilmu dibanding ilmu itu sendiri. Sedikit ilmu dengan adab akan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebaliknya, ilmu yang banyak tanpa disertai adab akan menjadi tak bernilai apa-apa.

Buku Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi karya Dr. Ardiansyah

Sejak menghadari Konferensi Dunia Pertama Pendidikan Islam di Mekkah pada 1977.  Prof. Al-Attas yang sudah memiliki otoritas dan track record panjang sebagai cendikiawan Muslim yang diakui dunia, sudah menyampaikan bahwa masalah umat Islam saat ini adalah masalah ilmu. Melalui pengalaman intelektual dan pengkajian yang tak sebentar. Prof. Al-Attas berpendapat bahwa masalah internal ini berakar dari hilangnya adab (loss of adab), dimana fenomena ini berakibat kepada munculnya para pemimpin palsu dan kerusakan ilmu, yang keseluruhannya saling berkaitan satu sama lain, atau dalam bahasa beliau “lingkaran rumit yang tiada ujung pangkalnya”. Kondisi inilah yang kemudian membuat umat Islam tenggelam kepada kezaliman (zhulum), kebodohan (humq), dan kegilaan (junun).

Dr. Ardiansyah menuliskan, bahwa kezaliman adalah lawan dari keadilan. Jika keadilan dimaknai meletakkan sesuatu kepada tempatnya, maka kezaliman berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kebodohan menurut al-Ghazali adalah tujuannya benar tapi menempuh jalan yang salah. Sedangkan kegilaan adalah memilih yang tidak seharusnya dipilih atau menentukan pilihan yang salah. Oleh karena itu, demi menyelesaikan problematika ini Prof. Al-Attas menawarkan sebuah gagasan pendidikan berbasis adab yang disebut dengan istilah ta’dib. Beliau berpendapat, pendidikan dalam Islam sejatinya adalah melahirkan manusia beradab (insan adabi), yang mampu mewujudkan tujuan perbaikan (ishlah) yang sebenarnya.

Selain menawarkan pendidikan berbasis adab, melalui forum yang sama, Prof. Al-Attas juga mengusulkan agar ta’dib menjadi istilah menjadi istilah untuk pendidikan dalam Islam, daripada tarbiyah maupunta’lim. Sebab dalam pandangannya, ta’dib telah merangkum empat ciri pendidikan: Pertama, proses penyempurnaan insan secara bertahap (al-tarbiyah). Kedua, pengajaran dan pembelajaran (al-ta’lim wa al-ta’allum) yang memperhatikan aspek kognitif, intelektual, dan akal seorang murid. Ketiga, disiplin diri (riyadhah al-nafs) yang merangkumi jasad, ruh, dan akal. Dan keempat, proses penyucian dan pemurnian akhlak (tahdzib al-akhlaq).

Dr. Ardiansyah mengelaborasi konsep adab Prof Al-Attas dalam tiga bagian yang saling berkaitan, yakni: Adab sebagai asas keadilan, adab sebagai asas Islamisasi ilmu, dan adab sebagai asas Universitas Islam.

Menurut Prof. Al-Attas, adab adalah salah satu istilah yang khas dalam tradisi Islam. Jika pengertian adab adalah undangan yang dianologikan sebagai “undangan kepada satu jamuan”, maka konsep pendidikan Prof. Al-Attas sudah memasukkan tiga unsur dalam pendidikan. Pertama, jamuan makanan yang mengandung pesan konten pendidikan. Kedua, tamu undangan yang mengandung unsur manusia dalam pendidikan. Ketiga, etika menikmati jamuan yang mengandung pesan metode pendidikan.

Selain menjabarkan konsep adab dari makna aslinya, Prof. Al-Attas juga memberikan makna baru terhadap istilah adab, yakni “Adab is recognition, and acknowledgment of the reality that knowledge and being are ordered hierarchically according to their various grades and degrees of rank, and of one’s proper place in relation to that reality and to one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and potential.”

Recognition atau pengenalan yang dimaksud adalah ilmu. Untuk menjadi manusia yang beradab, dibutuhkan ilmu yang memadai, sehigga ketika ia mengetahui bahwa segala yang wujud diciptakan berbeda baik secara fisik, intelektual, dan spiritual maka seseorang yang beradab akan berlaku adil, dengan meletakkan semua itu sesuai dengan tempatnya. Ketidaktahuan seseorang akan kedudukan dan tingkatan segala yang wujud akan membuatnya salah menempatkan sesuatu itu. Kondisi seperti ini akan menyebabkan ketidakadilan, karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Contohnya, Tuhan dan Manusia memiliki tingkat atau derajat yang berbeda. Menurunkan derajat Tuhan menjadi makhluk yang bisa diingkari adalah perbuatan yang tidak beradab, begitu pula sebaliknya, meninggikan manusia sebagai Tuhan yang tak boleh diatur juga biadab. 

Dalam proses Islamisasi ilmu juga demikian. Ketika para ulama dan ilmuwan klasik menghadapi ilmu yang datang dari luar Islam, mereka melakukan serangkaian pekerjaan ilmiah untuk mengislamkannya. Sebagai tokoh pertama yang menggagas tentang Islamisasi ilmu kontemporer, Prof. Al-Attas begitu kritis terhadap ilmu-ilmu dari Barat yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam (Islamic Worldview). Beliau mendefinisikan worldview dalam Islam sebagai pandangan tentang realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth) atau pandangan Islam terhadap wujud (ru’yat al-Islam lil al-wujud). Bila ada ilmu yang dipahami secara keliru, atau melampui batas wilayahnya dalam konsep Islam ini juga adalah loss of adab.

Oleh karena itu, Prof. Al-Attas merumuskan langkah Islamisasi Ilmu dalam dua cara. Pertama, de-westernisasi atau pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaandan peradaban Barat dari setiap ilmu saat ini. Kedua, memasukkan unsur-unsur Islam lengkap dengan konsep-konsepnya di setiap ilmu tersebut. Untuk itu, Islamisasi ilmu bukanlah gerakan anti sains atau anti Barat, tapi merupakan bentuk adab seorang Muslim terhadap ilmu.

Mengingat aplikasi adab erat hubungannya dengan proses pendidikan, maka Prof. Al-Attas juga menyampaikan betapa penting peran universitas Islam di tengah umat. Secara singkat, konsep universitas Islam yang dicanangkan oleh Prof. Al-Attas merefleksikan tokoh Nabi Muhammad Saw sebagai manusia universal (al-Insan al-kulli) atau manusia sempurna (al-insan al-kamil). Universitas Islam bukan hanya ruang untuk menyampaikan ilmu dan mencetak orang pintar saja, tapi juga adalah ladang dimana ta’dib dijalankan, dan insan-insan beradab dilahirkan.

Prof. Al-Attas begitu memahami, bahwa sebagai manusia adalah dwi hakikat yang terdiri dari jiwa dan raga, jasmani dan ruhani sehingga kebutuhan manusia atas keduanya haruslah terpenuhi. Oleh sebab itu, kurikulum pendidikan tidak boleh menyamaratakan semua ilmu, sebab ilmu perlu di klasifikasikan dengan hierarki yang benar ke dalam ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Karena berdasarkan makna dari keduanya, klasifikasi ilmu semacam ini relevan untuk menyesuaikan potensi tiap manusia dan kebutuhan umat secara umum. Dengan klasifikasi ilmu yang benar, akan lahir manusia yang beradab dan manusia universal. Bukan manusia yang biadab dan parsial pengetahuannya.

Sebagian cendikiawan menganggap gagasan adab ini terlalu filosofis dan tidak praktis. Namun, Prof. Al-Attas menjawab keraguan itu dengan mengaplikasikan gagasannya ke dalam sebuah perguruan tinggi bertaraf dunia, yakni International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Sejak didirikan pada 1 Desember 1987, ISTAC adalah bagian yang tidak lepas dari sosok dan pemikiran Prof. Al-Attas. Demi mewujudkan impiannya untuk menghadirkan pendidikan tinggi Islam modern dalam struktur akademik, hubungan sosial, dan bangunan fisiknya, Prof. Al-Attas turun langsung mengatur segalanya. Mulai dari pemberian nama, pemilihan tempat, konsep pendidikan, kurikulum, mencari tenaga pengajar, menyiapkan buku-buku di perpustakaan, sampai kepada rancangan bangunannya. Maka tak heran, meskipun dinilai elitis dan sangat ambisius, di tangan Prof. Al-Attas, ISTAC dikenang sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang berwibawa, dan diakui sebagai tempat lahirnya para cendikiawan muslim dunia.

Melalui ISTAC, Prof. Al-Attas membuktikan bahwa konsep adab bisa diaplikasikan di segala lini. Dalam tujuan pendidikannya, tidak ada satupun tujuan pragmatis yang tertulis di sana, alih-alih mengejar keuntungan duniawi, ISTAC senantiasa berupaya mendidik para mahasiswanya untuk mengenali konsep-konsep fundamental sesuai cara pandang Islam, kemudian mengamalkannya dengan cara merespon berbagai tantangan yang datang. Sehingga mahasiswa ISTAC diharapkan bisa bersikap adil terhadap berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi pada masa ini. Tujuan-tujuan itupun didukung oleh berbagai tujuan praktis, yang sarat dengan semangat keilmuwan untuk membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam.

Gedung International Insitute of Islamic Thought and Civilization, Malaysia

Dalam hal kurikulum, Prof. Al-Attas menerapkan klasifikasi ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah dengan serius. Ungkapan Dr. Ardiansyah yang menyatakan Prof. Al-Attas seolah-olah adalah juru bicara para ulama terdahulu memang tidak dapat dipungkiri, sebab lebih dari 10 abad yang lalu klasifikasi semacam ini telah dirumuskan oleh Imam al-Ghazali, yang melandasi teorinya dengan hadits Nabi yang berbunyi, “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban atas tiap Muslim.” Dimana kewajiban yang dimaksud dalam hadist ini mencakup dua kewajiban, yaitu kewajiban manusia sebagai individu dan kewajiban manusia sebagai makhluk sosial. Begitu pula al-Zarnuji dan Imam al-Nawawi, dalam konteks pendidikan, keduanya juga menyutujui pendapat Imam al-Ghazali tentang pembagian ilmu tersebut.

Prinsip klasifikasi ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah ini tidak statis, tapi dinamis sesuai dengan kondisi tiap orang dan masanya. Sebelum mengambil spesialisasi bidang, ada empat kursus wajib (fardhu ‘ain) yang harus diambil semua calon Master dan Doktor di ISTAC, yaitu the Religion of Islam, the History and Methodology of the Quranic Sciences, the History and Methodology of Hadith, dan Formal Logic. Setelah itu, semua mahasiswa harus menyelesaikan 48 sks dalam bidang yang dikelompokkan menjadi 3 jurusan, yaitu Pemikiran Islam (Islamic Thought), Sains Islam (Islamic Science), dan Peradaban Islam (Islamic Civilization), yang merupakan ilmu-ilmu fardhu kifayah dengan Inggris dan Arab sebagai bahasa pengantar dan rujukan utama. ISTAC tidak menjadikan setiap bidang sebagai satu jurusan terpisah. Hal ini karena tujuan ISTAC adalah melahirkan manusia sempurna, yang memiliki otoritas di dalam berbagai bidang keilmuwan, sehingga meski berbeda kekuataanya namun tetap wujud sebagai satu kesatuan

Lantas bagaimana dengan metode pembelajarannya? Tentu metode merupakan satu hal yang penting dalam aplikasi sebuah konsep. Tapi menurut Prof. Al-Attas adab itu sendiri adalah adalah metode pendidikan, sehingga beliau cenderung menekankan bahwa kandungan pembelajaran adalah prioritas tertinggi dibandingkan metodenya. Namun, berdasarkan wawancara Dr. Ardiansyah dengan beberapa mantan mahasiswa ISTAC, setidaknya ada delapan metode yang digunakan Prof. Al-Attas dalam proses mendidik murid-muridnya, yakni 1.) Penanaman Tauhid, 2.) Diskusi, 3.) Perumpaan (Tamtsil/Metafora), 4.) Bercerita, 5.) Penugasan, 6.) Nasehat yang membangun, 7.) Reward dan Punishment, 8.) Keteladanan.

Di ISTAC Prof. Al-Attas dibantu oleh beberapa tenaga pengajar, baik dari dalam maupun Malaysia. Dalam hal kualifikasi guru, Prof. Al-Attas sangat memerhatikan kewibawaan dan spesialisasi dalam bidangnya masing-masing, serta kesediaan mereka memahami filsafat Islam secara menyeluruh. Meskipun kebijakan Prof. Al-Attas yang mengundang berbagai tenaga pengajar berlatar belakangang negara dan madzhab yang berbeda sering menuai kritik, beliau dikenal ketat dalam pemilihan guru. Sehingga setiap tenaga pengajar di ISTAC telah berkomitmen dengan beliau terkait batasan-batasan tertentu dalam pembelajaran yang ia sampaikan. Ini juga aplikasi adab dari Prof. Al-Attas, dimana beliau memilih guru-guru terbaik untuk mengajar para mahasiswanya.

Ketatnya standar pendidikan dari Prof. Al-Attas di ISTAC juga tercermin dari evaluasi pendidikan yang beliau canangkan. Prof. Al-Attas berpandangan bahwa pendidikan tinggi bukanlah hak semua orang, untuk itu syarat menuntut ilmu tidak cukup hanya bermodalkan kemampuan intelektual semata, tapi juga harus memerhatikan masalah adab dan moral. Dr. Ardiansyah mengungkapkan, jika aspek adab diabaikan, dan semua orang berhak belajar di tingkat perguruan tinggi, maka akan muncul pemimpin-pemimpin zhalim yang tidak beradab dalam menggunakan ilmunya dengan adil dan benar.

Aplikasi adab dalam evaluasi pendidikan ini jelas menampar pendidikan Barat modern yang hanya menilai aspek kognitif dalam evaluasi para lulusannya, sehingga ilmu yang dipelajari tidak berpengaruh kepada keimanan dan perilaku sebagaimana insan yang baik. Maka dari itu, adab menurut Prof. Al-Attas harus masuk kedalam unsur utama penilaian dan evaluasi bagi para mahasiswa. Pandangan evaluasi pendidikan Prof. Al-Attas ini mirip dengan konsep maqam dalam tradisi sufi, dimana seorang murid tidak boleh naik ke maqam selanjutnya sebelum adab-adab di maqam yang dijalaninya tertanam dengan baik.

Aplikasi adab di ISTAC tidak hanya berlaku pada sesama manusia, sarana dan prasarana yang ada di dalamnya juga tak luput mendapatkan dampak dari gagasan universal ini. Dr. Ardiansyah mengisahkan, selama memimpin ISTAC Prof. Al-Attas senantiasa memberikan teladan para muridnya untuk beradab terhadap lingkungan sekitar. Diantaranya, beliau melarang para pekerja untuk menebang pohon-pohon di ISTAC, beliau juga membuat posisi gedung ISTAC menghadap kiblat, menjaga hubungan baik dengan karyawan di ISTAC baik yang berbeda ras, kenegaraan, maupun agama, hingga merancang logo ISTAC dengan meletakkan nabi Muhammad di dalamnya sebagai uswatun hasanah atau model dari insan adabi.

Tidak cukup sampai disitu, demi menunjukkan keunggulan peradaban Islam pada dunia, beliau juga menciptakan desain bangunan ISTAC dengan begitu megah dan indah, yang terinspirasi dari arsitektur peradaban Islam di Andalusia. Beliau juga menyempurnakan koleksi perpustakaan dengan karya-karya ilmiah lintas bahasa yang bermutu tinggi dan otoritatif. Aplikasi konsep adab pada sarana dan prasarana di ISTAC seperti ini memang membutuhkan biaya tinggi, namun berkat usaha wakaf produktif atau unit-unit usaha yang dikelola secara profesional oleh Prof. Al-Attas, ISTAC bisa mandiri secara finansial, dan tidak bergantung pada bantuan dari luar maupun dari pemerintah.

Serangkaian aplikasi konsep adab yang telah dilaksanakan di ISTAC, jelas menunjukkan betapa konsep adab yang digagas oleh Prof. Al-Attas bukanlah sebuah angan-angan. Maka dari itu, dalam bab terakhir buku ini Dr. Ardiansyah berupaya menjabarkan aplikasi konsep adab tersebut di perguruan tinggi di Indonesia. Ini bukanlah hal yang tidak mungkin, mengacu pada Pasal 5 UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, diantara empat tujuan pendidikan tinggi, tertulis sebagai berikut. “Berkembangnya potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.” Berdasarkan apa yang termaktub dalam Undang-Undang ini, jelas pendidikan tinggi di Indonesia memiliki peran penting untuk melahirkan manusia yang beradab, yang indikatornya adalah keimanan, ketaqwaan, akhlak mulia, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

Namun, masalah loss of adab pendidikan seperti munculnya kampus-kampus fiktif, kecurangan ujian, dan plagiarisme masih marak ditemukan di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Ini menandakan bahwa tujuan pendidikan tersebut belum benar-benar menjadi perhatian. Maka dari itu, Dr. Ardiansyah berpendapat bahwa sebagai konsep yang universal, gagasan adab yang dibawa oleh Prof. Al-Attas adalah solusi yang aplikatif untuk menyelesaikan masalah ini. Mengacu pada kosep adab yang telah diaplikasikan di ISTAC, Dr. Ardiansyah menawaran enam langkah praktis untuk diaplikasikan perguruan tinggi di Indonesia untuk menjadi kampus peradaban.

Pertama, adalah mensosialisasikan tujuan pendidikan sebagai proses menanamkan adab. Kedua, menyusun kurikulum pendidikan dengan klasifikasi ilmu-ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Ketiga, Membuat Program dan Metode Pendidikan Berdasarkan Prinsip al-Ta’adub Tsumma al-Ta’allum. Keempat, mengoptimalkan peran dosen sebagai Muaddib yang peduli dan menjadi teladan. Kelima, Merumuskan sistem evaluasi pendidikan berdasarkan adab dan ilmu. Yang dalam hal ini memiliki beberapa kriteria, diantaranya: 1.) Evaluasi pendidikan harus memadukan antara adab dan ilmu, 2.) Evaluasi pendidikan tidak terikat tempat dan waktu, 3.) Evaluasi pendidikan dirumuskan untuk mencapai tujuan tertinggi pendidikan, yaitu mencapai ridha Allah Swt, 4.) Evaluasi pendidikan tidak bersifat statis, tetapi dinamis sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuhnya, 5.) Evaluasi pendidikan bersifat menaikkan dan menurunkan (dalam hal ini jenjang pendidikan seseorang). Dan langkah yang keenam, adalah menyiapkan sarana pendukung dan berkualitas internasional.

 Karya dari Dr. Ardiansyah bagi saya begitu penting. Dari karya inilah bisa disimpulkan bahwa adab adalah satu kata yang singkat namun kaya akan makna. Karena itulah, bila kita mengenal pendidikan khas Islam yang telah dirumuskan oleh para ulama dan ilmuwan Muslim, kita akan segera menyadari betapa selama ini pandangan keilmuwan kita tertutupi oleh pemikiran Barat. Yang perlahan tapi pasti membuat kita semakin jauh dari adab, hingga menafikkan peran manusia sebagai seorang hamba Allah dan Khalifah di muka bumi. Semoga melalui buku ini, pendidikan Islam semakin maju dan menjadi rahim bagi lahirnya para cendikiawan dan pejuang Islam di masa depan. Amiin…

Pancur Batu, 28 Mei 2020.