Adab Memimpin Diri

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa STID Muhammad Natsir) – Seekor kuda perang berderap lincah di jalan kota Madinah, membuat semua orang terpana seketika. Bukan saja karena sang kuda yang gagah, tetapi juga penunggangnya ialah orang terhormat, Umar bin Khaththab. Seorang pemimpin hebat yang terkenal bertubuh besar dan penuh wibawa. Namun penampilan memukau itu tidak berlangsung lama, tatkala sang Amirul Mukminin tiba-tiba menepuk kudanya dengan keras, hingga sang hewan menurut dan melemahkan langkahnya. Mengapa beliau melakukan itu? Sebab ketika rakyatnya memandang dengan suka cita, dia mengaku ada setitik kesombongan di hatinya, dan tidak ingin adzhab Allah datang kepadanya.

Rasulullah Saw pernah bersabda: 

السلطان ظل الله فى الارض يأوي اليوكل مظلوم من عباده فان عدلكان لو الاجر

وكان يعني على الرعية الشكر وان جار أو حاف أو ظلمكان عليو الوزر وعلى الرعية الصبر

واذا جارت الولاة قحطت السماء واذا منعت الزكاة ملكت الدواشي واذا ظهر الزنا ظهر

الفقر والدسكنة

“Pemimpin adalah bayangan Allah Swt di muka bumi. Kepadanya berlindung orang-orang yang teraniaya dari hamba-hamba Allah, jika ia berlaku adil maka baginya ganjaran, dan bagi rakyat hendaknya bersyukur. Sebaliknya apabila ia curang (dhalim) maka niscaya dosalah baginya dan rakyatnya hendaknya bersabar. Apabila para pemimpin curang maka langit tidak akan menurunkan berkahnya. Apabila zina merajalela, maka kefakiran dan kemiskinan pun akan merajalela”(HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar).

Hadits di atas menggambarkan ikatan yang erat antara pemimpin dengan Tuhannya. Keadilan yang diterapkan oleh seorang pemimpin adalah nikmat bagi rakyatnya, yang senantiasa mengundang berkah di wilayah kekuasaannya. Sebaliknya, kezaliman yang dilakukan seorang pemimpin adalah dosa besar bagi dia pribadi, dan di luar daripada itu merupakan penunda keberkahan Allah serta ujian bagi rakyatnya. 

Poin yang dapat kita ambil, ialah bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekedar tanggung jawab seseorang atas satu wilayah atau komunitas masyarakat. Pemimpin dalam Islam sejatinya adalah orang yang diamanahkan untuk memimpin dirinya sendiri, sehingga ketika dia berbuat kesalahan maka dosa itu hanya dialamatkan kepadanya, dan jika ia berbuat kebaikan, maka baik dirinya maupun rakyatnya akan mendapatkan nikmat dan keberkahan dari Allah Swt. 

Apa yang dilakukan oleh al-Faruq di awal tulisan, merupakan contoh bagaimana adab seorang pemimpin dalam memosisikan diri di hadapan Allah Swt. Seorang yang mengenal adab, tentu tahu bahwa dirinya adalah “rendah” di hadapan Allah Swt. Beliau melakukan demikian bukan semata agar tidak dianggap sombong oleh rakyatnya, tapi ia takut bahwa hubungannya dengan Allah rusak karena rasa sombong itu. Sikap Umar bin Khaththab ini, menjadikan kita memahami mengapa Prof. al-Attas menolak teori social contract yang dielukan oleh masyarakat Barat. 

Menurut Jean Jacques Rousseau, salah satu penggagas teori social contract dalam filsafat Barat, satu-satunya otoritas yang sah adalah otoritas yang disetujui oleh semua orang. Di mana kontrak sosial dianggap sebagai wadah bagi kehendak umum, yang dianggap sebagai kebutuhan kolektif guna mewujudkan kebaikan bersama (https://www.sparknotes.com/philosophy/rousseau/section2/). Bagi Prof. al-Attas, dalam konteks pandangan alam Islam “kontrak manusia” sesungguhnya bukan kepada manusia lain atau aspek sosialnya, tetapi langsung kepada Allah Swt. 

Seorang muslim yang benar atau Khalifatullah itu tidak diikat dalam social contract, tapi individual contract yang merefleksikan perjanjian agung manusia dengan Allah (QS Al-A’raf [7]: 172). Maka dari itu, tujuan dan akhir dari etik dalam Islam pada hakikatnya kepada individu. Apa yang dilakukan oleh seorang muslim adalah apa yang diyakininya baik, di mana standar kebaikan itu adalah apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya. (Lihat, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hlm. 141-142). Jika kontrak sosial diterapkan, maka hukum Islam akan berubah-ubah mengikuti aspek sosialnya. Hanya karena seorang muslim tinggal di tengah mayoritas kafir, bukan berarti ia diperbolehkan tidak shalat atau mengkonsumsi Babi. Sebab otoritas hukum yang mengikatnya bukan kehendak umum, melainkan aturan dari Allah dan Rasul-Nya. 

Man of adab atau seorang yang beradab, adalah orang yang mampu meletakkan loyalitas tertingginya kepada Allah Swt, bukan kepada manusia lain ataupun negaranya.  Apakah pemikiran ini lantas menjustifikasi individualisme? Tentu saja tidak. Individualisme lahir daripada hasrat mendahulukan kehendak pribadi, dan menolak intervensi sosial. Sementara dalam konteks Islam, seorang berbuat baik kepada sesama manusia, menjadi warga negara yang baik, atau menjaga bumi ini dari kerusakan, bukan sekedar untuk manusia, negara, atau bumi. Akan tetapi, itu merupakan tanggungjawab yang diamanahkan Allah untuk manusia. Hal itu tercermin dari hadits Nabi Saw: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ (Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya).

Seringkali saya mendengar dari guru saya, bahwa adab adalah sinergi antara right knowledge (ilmu) dengan right action (amal). Rumus ini juga berlaku dalam memimpin. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam karyanya yang terkenal, Fat-hul Bari, memaparkan pentingnya seorang pemimpin untuk terus menaikkan kualitas keilmuwannya. Beliau kemudian mengutip pesan dari Umar bin Khathtab: “Hendaklah kalian ber-tafaqquh (mendalami ilmu agama) sebelum kalian memimpin”, yang diperjelas dengan mencantumkan riwayat Imam Bukhari atas ucapan itu, yakni “setelah kalian menjadi pemimpin”. Hal itu dimaksudkan sebagai penekanan, mengingat para sahabat Nabi Saw (termasuk Khulafaur Rasyidin) masih menuntut ilmu diwaktu tua mereka.

Ilmu tidaklah lengkap jika tidak diamalkan. Keduanya bisa berguna bila dijalankan beriringan. Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad menyebutkan,“Al-ilmu bi-laa ‘amalin junuunun, wal-‘amalu bi-laa ‘ilmin lam yakun.” (Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu tiada nilainya). Selaras dengan itu, Syekh al-Zarnuji, lewat kitab Ta’limul Muta’allim juga menuturkan, bahwa suatu ilmu dikatakan bermanfaat jika memenuhi dua unsur: diamalkan dan diajarkan. Pendapat dua ulama tersebut menegaskan bahwa tujuan dari menuntut ilmu bukanlah untuk ilmu itu sendiri, sebagaimana doktrin Aristoteles dan pengikutnya, akan tetapi ada tujuan pengamalan yang menentukan manfaat atau tidaknya suatu ilmu dipelajari. 

Oleh sebab itu, pemimpin yang baik adalah ia yang mampu memimpin dirinya sendiri dalam dua hal: Pertama, menjaga loyalitasnya kepada Allah Swt. Kedua, mengupayakan sinergi antara imu dan amal dalam tiap aktivitasnya. Jika seorang pemimpin bisa melakukan kedua hal ini secara istiqomah, maka Insya Allah keberkahan akan mengiringi dirinya dan rakyatnya.