Aku Bodoh Dan Kau Cerdas, Lalu Mau Apa?

Jum’at lalu Sekolah Alam Medan Raya (Samera) mengadakan City Adventure, berkeliling Kota Medan dengan misi mempelajari dan membandingkan tiga jenis pusat perbelanjaan; Pasar Tradisional, Pasar Semi-modern, dan Pasar Modern. Sebagai kakak senior SMA, aku mendapatkan posisi sebagai fasilitator tambahan, yang bertanggung jawab penuh menangani adik – adik kelas dari mulai SMP hingga TK.

Ditengah perjalanan, sesuai rencana sebelum bertolak ke destinasi pasar selanjutnya, rombongan kami singgah di Masjid terdekat. Menunggu waktu Shalat Jum’at serta ramai – ramai menyantap makan Siang.

Menjadi fasilitator bukan berarti menjadi Satpam, setiap hari di Sekolah aku harus belajar memahami dan mengendalikan segala keunikan adik kelasku. Belajar menjadi pendengar yang baik sekaligus pengayom yang bijaksana, begitu pula ketika aku berada diantara mereka saat Shalat Jum’at berlangsung. Setelah memastikan kondisi terkontrol, akupun bisa duduk dan bersiap mendengarkan khutbah.

Seorang Ustadz muda kulihat menaiki tangga mimbar, menyampaikan salam dan kata – kata pembuka seperti biasanya. Pada awalnya tidak ada yang aneh pada ceramah Ustadz itu, namun ada sebuah celetuk darinya yang begitu menggelitik untuk dikomentari.

“…..Tatkala Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad, ‘Iqra! (bacalah)’, sempat Nabi Muhammad tidak menjawab. Bagaimana bisa menjawab? Sedangkan Nabi Muhammad bodoh, tidak bisa membaca…..”

Bukan bidangku memang membantah bahwa Rasulullah bisa membaca atau tidak, tetapi kalimat terakhir itu benar – benar membingungkanku. Nabi Muhammad, bodoh?

Apakah pantas kita menyebutkan kalimat ini? Sementara yang disinggung adalah orang paling mulia yang ada di muka bumi, yang saat usianya belasan tahun sudah menjadi entrepreneur muda yang di kagumi seluruh jazirah Arab.

Beliau adalah pemimpin sekaligus panglima perang tertinggi yang telah memenangkan banyak peperangan dengan berbagai taktik brilian, bekerja membangun perekonomian umat Islam dari nol, dan juga telah berjasa mengantarkan peradaban Islam sebagai peradaban paling maju dalam sejarah dunia. Sekali lagi, apakah pantas manusia sehebat itu dijuluki orang bodoh?

Bodoh. Kita selalu memakai kata – kata buruk ini, sering kali menyelipkannya diantara rentetan kalimat hinaan. Tetapi pernahkah kita memutar otak dan bertanya, bodoh itu sebenarnya apa? Ketika ada yang bilang ‘aku bodoh dan kau cerdas’, lalu apa yang mau dilakukan? Apa ada sesuatu yang berubah disana?

Kita lihat sedikit gambaran dari Sekolah Alam Medan Raya, Sekolahku. Disana siswa tidak dituntut untuk menjadi sempurna disetiap pelajaran, setiap anak berhak menjadi dirinya, merubah hobinya sebagai bakat yang membuat dirinya hebat dan berbeda.

Contohnya di Samera ada anak yang lemah sekali menulis dan membaca, malas berhitung, serta sangat hyperaktif, apakah kami guru/fasilitator langsung mencapnya bodoh atau bandel? Tidak pernah. Karena di sisi lain daya imaginasinya, niatnya untuk melayani dan menyenangkan orang lain sungguh menganggumkan, jika itu terus dilatih serta di fasilitasi dia akan sadar untuk merubah diri, lebih giat lagi belajar dan mengisi kekurangannya, namun kali ini demi hobi dan mimpinya.

So, jangan pernah gunakan kata ‘bodoh’ sembarangan, apa lagi kepada seseorang yang tak pernah kita kenali betul siapa dia, terus terang itu tidak berarti apa – apa untukmu ataupun orang lain yang kau singgung.

Pahami keunikan orang lain dan jadilah dirimu sediri!

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.