Anak Durhaka 2.0

Aku dan Mamaku di Acara Jambore JSAN 2017: Urban Nature Synergy di Surabaya

Banyak orang yang bertanya-tanya padaku, mengapa di boardgame Tuntungan Ground buatanku aku memasukkan nama ‘Malin Kundang’ di dalamnya. Muncul sebagai salah satu tokoh yang ikut berperan mengalahkan Ebu Gogo, sang villain dari game ini, menurut sebagian teman agak ngeganggu, soalnya identitas Si ‘Anak Durhaka’ dari karakter yang satu ini begitu melekat sedari dulu.

Tidak ada maksud bikin distorsi cerita yang pro terhadap kelakukan si anak terkutuk ini, hanya saja waktu mengkonsep game ini, aku kesulitan mencari suatu karakter yang bisa merepresentasikan skill “Enterpreneurship”, lantas tiba-tiba yang terlintas di kepalaku adalah “Malin Kundang” yang kalau kita telusuri legendanya adalah seorang saudagar kaya yang jago berdagang. Tapi sayang, mata hatinya tertutup sehingga tak mengakui ibunya sendiri dan berakhir binasa.

Durhaka kepada orang tua, memang adalah sebuah kesalahan yang tak termaafkan sampai kapanpun. Bahkan dalam Islam saja seorang anak yang berkata ‘Ah’ di depan orang tuanya, sudah dilaknat bumi dan langit, apalagi sampai durhaka?

Ngomongin soal hubungan antara anak dengan orangtuanya, ada sepotong kisah yang kuambil dari salah satu buku paling berpengaruh dalam hidupku. Biografi “Chairul Tanjung: Si Anak Singkong.” yang ditulis oleh seorang wartawan senior Tjahja Gunawan Diredja.

Ini nih bukunya!

Seperti halnya istilah konotasi yang dipakai pada judulnya, buku ini mencoba mengabadikan kehidupan masa lalu yang sederhana, dari seorang pengusaha hebat Indonesia, yang saat ini menduduki kursi ke-5 dari tahta manusia terkaya di Indonesia, Chairul Tanjung.

Orangtua adalah pahlawan, begitu pula yang menjadi keyakinan sosok pebisnis fenomenal ini. Dikisahkan saat mulai menapaki bangku perguruan tinggi, Chairul Tanjung sedang mempertimbangkan dengan sangat matang langkah apa yang saat itu akan dijalaninya.

Mengingat keterbatasan dalam banyak hal terutama biaya, tiada cita-cita khusus dalam benak beliau untuk kuliah di Universitas mana. Namun, satu-satunya pilihan adalah Universitas Negeri, karena jauh lebih murah dibandingkan swasta. Kalau tidak dapat masuk negeri, bisa dipastikan beliau tidak akan pernah mengenyam pendidikan tinggi di Universitas manapun.

Beruntung jurusan IPA saat SMA memberikan beliau kesempatan lebih luas ketika mendaftar di perguruan tinggi. Sistem pendaftaran universitas negeri kala itu memperbolehkan beliau untuk mengambil 3 jurusan berbeda di lima universitas, dan salah satu pilihan beliau adalah Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Selepas Shalat Shubuh, semangat bercampur grogi melingkupi hati Chairul Tanjung muda, hari itu beliau menuju Parkir Timur Senayan, Jakarta, tempat pengumumuman kelulusan Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPTN). Saat itu puluhan ribu calon mahasiswa sudah riuh berkumpul