Angkat Senjatamu, Dunia Tinggal Menghitung Mundur!

Sepulang dari Palembang, diundang menjadi pembicara talkshow kepenulisan di Sekolah Alam Palembang. Masih belum pudar ingatanku seputar obrolanku bersama Profesor Yuwono, Founder Sekolah Alam Palembang di rumah beliau. Di shubuh terakhir sebelum aku berangkat ke bandara.

Sesekali bibirku tersenyum bahkan tertawa, mendengar analogi dan pemahaman menarik dari beliau, namun tak terhitung berapa kali aku tertegun dan merenung tatkala Pak Yuwono menerangkan kondisi kritis umat Islam dan generasi penerusnya.

Terbang jauh ke Negerinya Rasulullah, Arab Saudi. Bagaimana konflik keluarga Raja Arab Saudi yang dimanfaatkan pihak luar yang memiliki kepentingan sendiri, harus berakhir dengan naiknya Raja baru serta di jebloskannya beberapa anggota keluarga Raja dengan tuduhan korupsi. Jika keluarga Raja Salman bukan kumpulan orang kaya, tidak ada satupun yang meragukan tuduhan itu hari ini.

Ketika internet semakin menggila perkembangannya, berbagai hal bisa dilakukan manusia untuk mendapatkan uang. Mulai dari yang halal hingga yang haram, segalanya tumpang tindih tanpa ada dinding pemisah. Pak Yuwono mengambil sosok ancaman generasi Muslim Indonesia dari seorang Jack Ma, pebisnis asal China itu telah membuktikan seberapa hebat kekuatan internet menjadi pencetak uang. Sejak Alibaba.com, perusahaan milik Jack Ma menjadi e-commerce store terbesar se-Asia, kini Jack Ma punya kekayaan sebesar $37,4 miliar, itu cukup membuat dirinya menjadi pria terkaya ke-18 sedunia.

Hubungannya dengan Indonesia sudah terjalin sejak lama, pasca mengambil alih sebagaian saham Tokopedia dan Lazada (online marketplace terbesar se Asia Tenggara), Indonesia mengalami fenomena baru dengan ‘matinya’ mall – mall konvensional di beberapa Kota.  Sehingga Menkominfo menobatkan Jack Ma sebagai penasihat e-commerce RI. Belum jelas apakah keputusan itu akan berdampak signifikan untuk pertumbuhan Ekonomi Indonesia, yang jelas dalam waktu dekat ini Sang Boss Alibaba itu akan membuat gudang ratusan hektar di Indonesia untuk produk perusahaannya.

Dunia tinggal menghitung mundur untuk bertemu dengan persaingan luar biasa yang menentukan masa depan kelak, itu kataku. Ini bukan sekedar perlombaan, tak ubahnya ini  sebuah peperangan. Kesimpulan yang kudapat dari obrolanku ini bersama Pak Yuwono adalah kita perlu senjata untuk menghadapi ini. Apa itu?

Ilmu dan ahlak.

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, membangun ahlak (kepribadian) yang islami adalah keharusan. Keduanya tidak bisa berjalan sendirian, keduanya saling menguatkan, menjadi pembeda kita diantara orang lain. Tidak usah jauh – jauh kita mencari contoh, jika Islam sudah menerangkannya dengan jelas.

“Allah menyatakan tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS Al-Imran: 18).

“Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kedermawanan dan ahlak yang mulia serta membenci ahlak yang rendah/hina” (HR. Al-Hakim).

Ilmu kita butuhkan untuk tetap eksis di Dunia, sedangkan ahlak kita perlukan untuk menjaga hati dan fikiran sehingga berdampak pada perilaku yang mencerminkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Hilangnya ilmu artinya tidak ada tempat bagi kita untuk berada di garda terdepan membela keadilan serta kesempatan mendapatkan rezeki yang halal pun hilang, tidak punya ahlak berarti siap – siap menjadi pribadi yang labil dan dibenci oleh orang lain.

Coba fikir baik – baik, betapa agama Islam telah berusaha dari ribuan tahun yang lalu membentuk kita anak – anak muda menjadi pemimpin – pemimpin dunia, tidak malukah kita hanya menjadi orang biasa – biasa saja?

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.