Antara Aku dan ‘SEARCH’

Entahlah aku malas menanggapi perkataan papaku sendiri kala itu.

“Papa berangkatkan abang ikut Edutrip, tapi dengan satu syarat. Harus ada satu novel yang jadi setelah itu!”

Ya, seketika perasaanku seperti terkurung oleh ketidaksukaan, cenderung menganggap hal itu adalah hal yang membosankan dan menganggu kesenanganku di perjalanan nanti. Tetapi aku kenal sekali papaku, dia tidak pernah main – main dengan perkataanya, khususnya bila aku hendak pergi jauh dari rumah.

Dan saat itu tiba, aku bertolak dari Kualanamu International Airport menuju Changi Airport (transit Soekarno-Hatta), menjalani petualangan Internasional pertamaku (Edutrip Singapore-Malaysia), sendirian.

Aku tidak percaya apa yang aku lewati disana, tiada kata apapun selain rasa syukur kepada Allah SWT. Petulangan itu benar – benar sebuah perjalanan yang paling berkesan bagiku. Disanalah, pikiranku terbuka lebar, lika – liku serta masalah yang kuhadapi menjadikanku lebih tangguh dan dewasa. Sepanjang hari aku terus takjub, pelajaran demi pelajaran kupetik dari tiap detik waktu yang sudah kulalui.

Tepat malam terakhirku disana. Di tengah malam yang gelap gulita, bersama temaramnya lampu gedung – gedung perbelanjaan megah Bukit Bintang, Malaysia.

Aku berbisik dalam hati, “Ini harus jadi buku! Harus!”

Setelah pulang dari Edutrip itu, di kepalaku telah sesak oleh konsep cerita yang berbeda dari novelku sebelumnya.

‘SEARCH’

Bukan sebuah buku catatan perjalanan, atau diary yang membosankan. Search adalah novel yang menghadirkan aksi gila lagi mematikan yang terjadi diatas tanah serumpun (Singapore dan Malaysia).

Riset panjang kulakukan demi novel ini, belasan buku fiksi dan non-fiksi telah kubaca, ratusan artikel, peta kedua negara, termasuk selebaran turis, bertumpuk diatas meja kerjaku. Bersama coretan – coretan abstrak yang terlintas lebih seperti sampah daripada hal penting.

Segala riset rumit ini menghabiskan hampir seluruh waktuku, bayangkan saja, untuk seusiaku, duduk 6 jam di depan komputer sambil merangkai kata demi kata itu adalah hal yang gak rasional. Tapi terserah apa kata dunia, aku menikmatinya. Menikmati segala proses itu, bahkan terkadang kayak orang gila; tertawa, menangis, dan berbicara sendirian. Menanti – nanti kapan paragraf terakhir berujung pada titik yang membanggakan.

Tapi, alangkah anehnya jika sebuah proses yang dijalani dengan ikhlas dan benar tidak berbuah hasil yang memuaskan. Aku membuktikan kalimat kuno itu: Bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

SEARCH. Novel Fiksi-Ilmiah; bergenre action, adventure, fantasi, dan thriller. Setebal 450 halaman. Mantab kuselesaikan dalam waktu 3 bulan.

Walau berakhir dengan sakit dua hari, karena nyaris tidur hanya 4 jam tiap hari. Tak apa, itu cobaan, hikmahnya aku dapat istirahat dan memulihkan fikiran lagi.

Lebih dari itu, aku tak pernah berhenti bersyukur, papa-mamaku tidak pernah meragukan kemampuanku. Sedikit saja aku menujukkan tanda – tanda kejenuhan, mereka datang dan menyemangatiku, memberiku arahan, selalu mengingatkanku akan berdoa dan membaca Al – Qur’an sebagai ‘pemanggil’ inspirasi.

Hmm….. Aku fikir jika sekali saja aku menyerah pada passion yang kupilih, lantas apa yang nanti kukatakan pada tuhan, kalau aku tidak menggunakan salah satu nikmat yang Ia berikan?

Bagaimana denganmu, kawan? Apakah kau sudah melakukan yang TERBAIK pada bakat dan kemampuan terpendam mu?

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.

Comments are closed.