Antara Kita, Sampah, dan Penghargaan

Aku sudah berencana mengosongkan Bank Sampah SAMERA dan Rumah Literasi ILA education semenjak beberapa hari yang lalu. Terlalu asyik dengan tugas yang setiap hari beranak – pinak, membuat sampah non-organik itupun tak kunjung beranjak ke tangan Pengumpul. Selagi teringat dan tidak ada tugas lain yang nganggur, Rabu siang sebelum Kelas Menulisku di Rumah Literasi, aku sempatkan mengurus semua barang itu.

Bersama teriknya Matahari, akupun mulai memilah – milah sampah itu berdasarkan jenisnya, ada tumpukan Kardus, botol plastik, besi, kertas/buku, dan botol kaca. Kenapa? Dari pengalaman, akan lebih mudah bagi Pengumpul untuk menimbang dan mengelompokannya. Karena tidak semua sampah non-organik bisa dijual.

Bekerja ditengah pengapnya udara, dengan wajah dan telapak tangan berselimut debu dan keringat. Membuatku merasa senasib seperti Ray, perempuan muda tangguh di Serial Film Star Wars yang terpaksa menjadi pemulung demi seporsi roti untuk bertahan hidup.

Setelah kegiatan memilah itu rampung, berangkatlah aku dan gunungan sampah itu dengan menggunakan Betor (Becak Motor) yang kebetulan milik orang tua murid salah satu siswa di Rumah Literasi. Sampai di tempat Pengumpul, satu per satu barang – barang bekas itu diturunkan dan ditimbang, aku tersenyum, terbayang di angan akan seberapa banyak hasil yang akan di dapat nanti.

Tiba saat diberi selembar kertas Kwitansi, sontak senyum itu raib dari tempatnya.

“Apa? Kok cuma segini?”

Kira – kira itulah kata pertama yang keluar dari mulutku. Jelas jumlah upah itu takkan sebanding dengan lelah, waktu, dan kerja kerasku beberapa jam sebelumnya.

Berputar dibenakku, jika menjadi pemulung sehari saja sudah membuatku tak habis fikir. Bagaimana dengan orang – orang di luar sana yang menggantungkan hidupnya dengan pekerjaan seperti ini? Terpaksa mengorbankan banyak waktu dan tenaga hanya untuk hal kecil, yang bahkan tak kuasa membuatnya tersenyum

Apakah aku meremehkan pekerjaan itu? Tidak.

Tahun 2000, Mohammad Baedowy mantan Auditor Royal Bank of Scotland berhenti dari pekerjaannya dan menjadi Pemulung. Berkeliling memungut sampah di kotanya, demi membidik bisnis sampah plastic yang  membuatnya kini menjadi seorang Miliarder.

So, aku yakin setiap orang memiliki potensi, tapi kesalahan yang pertama adalah tidak semua orang mau memanfaatkan potensinya dan selalu berfikir sempit. Apalagi para anak muda seperti kita. Takut keluar dari zona nyaman, cepat puas dengan penghargaan kecil, dan mendadak sibuk jika diajak bicara tentang masa depan.

Sering sekali aku mengingatkan diri sendiri, ketika rasa malas mencoba menggoda, menghadangku dengan seribu alasan demi lari dari komputer dan kertas, untuk sekedar menulis satu-dua paragraph. Bakat dan potensi adalah anugerah dari Allah. Segala bentuk cinta, semangat, dan fasilitas diberikan Orang tuaku setiap harinya. Andai aku tak terus bergerak menajamkan kembali potensi, belajar, dan berkarya.

Bukan saja aku durhaka kepada Tuhanku dan Orang tua. Selebihnya aku takkan dihargai layaknya setumpuk sampah.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!