Apakah Percaya Diri Itu Nomor Satu?

Dia datang ke pertemuan Internasional itu dengan membawa nama Bangsa Indonesia. Bersama tongkat kayu dan peci hitam kesayangannya, ia percaya diri berdiplomasi bersama para Presiden dan petinggi Negara – Negara Dunia, menyampaikan gagasan yang brilian, berunding, melibas keputusan yang menurutnya memiliki kekurangan dengan kritikan pedas.

Walau tubuhnya kecil dan pakaiannya sederhana, ilmunya begitu luas, kecerdasan dan jejak – jejak Intelektualnya tersebar dalam banyak bidang. Dia mampu mengusasai 9 bahasa dengan sangat fasih, karya tulisnya tentang filsafat, politik, dan sosial diakui para tokoh Negarawan dunia. Bahkan ide nyentriknya yang hari ini disebut ‘Home Schooling’ membuat dunia Pendidikan kagum bukan main.

Siapa dia? Dunia menjulukinya sebagai ‘The Grand Old Man’, Haji Agus Salim (1884 – 1954). Menteri Luar Negeri Republik Indonesia ke-3 dibawah Presiden Soekarno

Haji Agus Salim terkenal punya sejuta cara untuk menghadapi segilintir orang yang mencoba menghinanya. Alkisah, sekitar tahun 1930 Haji Agus Salim hadir dalam sebuah rapat Internasional SDAP (Sociaal-Democratische Arbeiders Partji) di Belanda. Ada sekelompok pemuda yang hadir pada pertemuan tersebut, melihat penampilan Agus Salim yang aneh dengan janggut dan kumis putih, mereka mengolok – olok beliau dengan mengembik bersama ketika Agus Salim berbicara.

Sadar menjadi sasaran ejekan, beliau mengangkat tangannya. Ilmu dan kerendahan hatinya ternyata mampu meredam amarahnya, lantas menyulut lisannya untuk mengatakan rangkaian kalimat yang melegenda itu dalam bahasa Belanda.

“Bagi saya sungguh suatu hal yang menyenangkan bahwa kambing – kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengar pidato saya. Hanya sayang sekali mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara tinggalkan ruangan ini untuk sekedar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya selesai, saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka…..”

***

Apakah percaya diri itu nomor satu?

Aku selalu ingin bertanya pada diriku sendiri tentang hal ini. Melihat banyaknya anak – anak muda yang terus melatih kepercayaan dirinya, senantiasa lihai dalam berkata, jago memberi motivasi dan arahan kepada orang lain, tapi melupakan satu hal yang tak kalah penting ketika kepercayaan diri telah didapatkan. Kerendahan hati.

Jujur, mendengar kisah dari seorang Haji Agus Salim ini mematik semangatku untuk terus belajar menjadi anak muda yang rendah hati. Bagaimana seorang yang sudah dikenal memiliki segudang ilmu dan pengalaman yang mumpuni, tapi tetap menjaga sopan santun kepada siapapun bahkan kepada orang – orang yang kontra terhadapnya.

Nah, kewibawaan ini menurutku belum banyak tertanam pada diri kita, anak – anak muda Indonesia. Mungkin kita tidak bermaksud besar kepala, kita hanya berusaha menunjukkan kemampuan kita, karya kita, atau ide dan gagasan hebat kita. Tidak ada yang salah dengan proses itu. Tapi tatkala dihadapkan dengan orang – orang yang menurut kita tak memiliki kemampuan seperti kita, tanpa terasa kita terperosok ke dalam jurang kesombongan.

Menciptakan dinding tebal yang membuat jarak antara diri kita dan orang lain (yang awalnya ingin belajar) semakin jauh, boro – boro mau sharing ilmu, kita malah mendapatkan kritikan dan hinaan. Sekali saja itu terjadi, mau sebanyak apapun ilmu kita, segila apapun kerja keras kita, selelah apapun tubuh kita dahulu ketika merintis sebuah karya. Seketika semuanya sirna bersama debu, terabaikan.

Mengerikan? Ya, maka jangan lupakan!