Kebebasan Mana Yang Mau Diperjuangkan? (Catatan di Balik Karantina)

Patut “Liberty” yang diangkat sebagai simbol “Kebebasan” di negeri Paman Sam

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa At-Taqwa College Depok) — DI AWAL Maret lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita tentang dua orang WNI yang positif terinfeksi virus Covid-19 (Corona). Merespon situasi ini, Pemerintah segera mengumumkan keadaan darurat, lantas menghimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar, dan tetap berada di rumah masing-masing. Sudah kurang lebih sebulan masyakat Indonesia menjalani perintah ini. Walaupun pada awalnya situasi ini seakan menjadi ‘liburan’ yang menyenangkan, terutama bagi anak muda. Namun semakin ke sini, di samping rentetan tugas dan kewajiban yang mesti dilakukan, sebagian orang sadar ternyata ‘liburan tak terduga’ ini tetap tidak sebebas yang mereka bayangkan. Karena arti ‘bebas’ kini juga sering disalahartikan dan cenderung membingungkan.

Filsuf Prancis Jean-Paul Sartre (1905-1980) pernah mengatakan, “Manusia itu dikutuk menjadi bebas dan tanpa tujuan ketika diciptakan”, kalimat ini seakan membangkitkan sanubari anak muda, yang jiwanya menentang segala bentuk pengekangan. Memunculkan berbagai bentuk penolakan terhadap aturan, terutama aturan agama dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan. Sebab Tuhan dan aturan-aturannya, bagi mereka adalah sesuatu yang berat dan merepotkan. Ujung-ujungnya agama dan Tuhan dinilai tidak penting, cukup diletakkan di rumah ibadah, dan tidak perlu jadi perusuh di ruang publik.

Pada saat Konferensi Asia-Afrika berlangsung di Bandung tahun 1955, mantan Perdana Menteri China, Chou Eng Lai dengan bangga menyatakan dalam pidatonya, bahwa mereka sebagai Komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Mengikuti apa yang di bawa oleh Karl Max (1818-1883), Chou Eng Lai ingin menegaskan bahwa faham kekirian yang dianutnya, telah membawanya pada satu konsep bahwa rasa ketergantungan terhadap agama dan Tuhan hanyalah khayalan manusia, yang diilhami oleh segala bentuk ketidakadilan dan pengekangan yang mereka rasakan. Maka ketika kebebasan rakyat di tegakkan, khayalan tentang Tuhan tentu akan terhapus dengan sendirinya.

Jika ‘bebas’ diartikan secara sempit sebagai ‘tanpa aturan’ dan ‘tanpa ketergantungan’ akan sesuatu,  jalan pemikiran yang seolah rasional ini tidak menunjukkan kebebasan yang sesungguhnya. Disinggung dalam buku Kuliah Tauhid karya seorang cendikiawan muslim Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim, mustahil mewujudkan kehidupan yang benar-benar bebas tanpa aturan dan tanpa ketergantungan. Lantas, apakah manusia memang tidak bisa hidup dengan merdeka? Dalam buku ini dijelaskan, bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang paling utama justru adalah kemerdekaan, karena kemerdekaan merupakan harga diri setiap manusia, dan menjadi pembeda dirinya dengan mahkluk yang lain.

Buku “Kuliah Tauhid”

Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim juga menerangkan, di dalam Al-Quran sendiri tidak ada satu ayatpun yang membahas tentang ‘orang-orang yang tidak bertuhan’ atau ateis. Meskipun orang-orang Arab modern menggunakan kata ‘mulhid’ untuk ‘ateis’, dan ‘ilhad’ untuk ‘ateisme’, namun bila diselidiki di dalam Al-Qur’an, perkataan ‘mulhid dan ilhad’ artinya sangat jauh dari “ateis dan ateisme”. Sementara itu, perkataan ‘ilah’ yang selalu diterjemahkan sebagai ‘Tuhan’, di dalam Al-Qur’an dipakai untuk menyatakan berbagai objek, yang dibesarkan atau dipentingkan manusia (Lihat QS [45]: 23, [25]: 43, dan [28]: 38). Dari contoh ayat-ayat yang dijabarkannya, sang penulis menyimpulkan, ternyata“ilah” bisa mengandung arti berbagi benda, baik absrak seperti nafsu atau kepentingan pribadi, maupun benda nyata seperti halnya Fir’aun, raja, ataupun penguasa yang dipatuhi dan dipuja oleh suatu kaum. Tidak adanya perkataan ateis dan ateisme, jelas membuktikan tidak mungkin manusia itu tidak bertuhan.

Dr. Yusuf Qordhowi, pula menuturkan dalam buku Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan karya beliau, bahwa “Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri dihadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a dan betawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya.”. Berdasarkan penjelasan tersebut, bisa disimpulkan bahwa manusia yang mendambakan kebebasan tak bertuhan, sebenarnya juga menuhankan akal dan hawa nafsunya. Ilah tersebut jelas salah kaprah, dan akhirnya membawa mereka pada kesesatan yang nyata.

Mereka tidak mengerti, bahkan dalam mempertahankan kemerdekaannya sebagai manusia, mereka tidak bisa sendirian. Karena memang manusia sifatnya serba bergantung. Contohnnya, saat seorang bayi lahir, ia tidak tahu apa-apa tentang dunia, walhasil iapun bergantung kepada manusia lain yakni Ibunya. Apakah itu mengotori nilai-nilai kebebasan dan kemerdekaan pada dirinya? Tentu tidak. Karena setiap Ibu dianugerahkan oleh Allah swt suatu kasih sayang dan keikhlasan yang tulus. Maka seorang anak yang menaati Ibunya, sama sekali tidak mencemari nilai kemerdekaannya sama sekali. Sebab dengan landasan kasih sayang inilah seorang manusia menjalani kehidupannya, mengingat seorang ibu bukan hanya memberikan kasih sayang, tapi juga pengetahuan kepada anaknya untuk hidup mandiri sebagai manusia. Oleh karena itu, mendurhakai orang tua juga adalah pelanggaran terhadap aturan Allah Swt dan takkan diampuni selama Ibu sendiri tidak mengampunkannya.

Kesalahan Iblis yang membuatnya dikeluarkan dari Surga, bukanlah “tidak percaya akan keberadaan Allah.” Seperti yang kita tahu, Iblis adalah salah satu ciptaan Allah yang sangat taat, sebagaimana malaikat, Iblis pun menghuni surga sebelum manusia diciptakan dan memiliki derajat yang tinggi. Namun, tatkala manusia (Nabi Adam a.s) diciptakan, ia menyombongkan diri dan mengingkari aturan Allah untuk sujud di hadapan manusia. Kesalahan fatal inilah yang menjatuhkan kodratnya, sehingga kelak ia meminta izin kepada Allah untuk bebas menyesatkan umat manusia sepanjang zaman.

Maka dari itu, bila ada manusia yang latah mengatakan bahwa ia ingin bebas dari aturan Allah, atau bahkan ingin mendiadakan Allah dalam kehidupannya, kebebasan mana yang ia perjuangkan? Apakah ‘kebebasan’ seperti Iblis?

Wallahu ’alam bi al-sawab.

(Artikel ini terinspirasi dari Buku “Kuliah Tauhid” karya Almarhum Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim. Semua kisah dan argumen yang tertulis di dalam artikel ini merupakan buah dari pemikiran beliau. Semoga Allah melapangkan kubur beliau dan memberkahi ilmu yang beliau sampaikan. Amiin)

Pancur Batu, 6 Maret 2020