Bersiap Aja Dulu, Nanti Juga Kau Ngerti

Bicara tentang bencana, adalah momok paling menakutkan yang sering kita jumpai di Negeri ini. Tanah longsor, Tsunami, Gempa bumi, Gunung meletus, atau sebut saja yang lain, Indonesia kemungkinan besar pernah mengalaminya.

Orang tuaku kebetulan adalah mantan relawan Lembaga Sosial. Belum genap sebulan pasca Tsunami maha dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam, mereka berdua hadir di tengah – tengah kondisi memilukan di tanah tersebut. Seantereo negeri heboh bukan main, berbondong – bondong manusia dari dalam maupun luar negeri memberikan bantuan, sibuk menggotong mayat demi mayat, membersihkan reruntuhan, serta berusaha sekuat tenaga mengembalikan puing – puing jati diri dari rakyat Aceh yang diambang keputusasaan.

Mendengar cerita dari orang tuaku, mengingatkanku pada sebuah ungkapan klasik: Apapun yang terjadi diatas muka bumi, pasti mengandung makna yang dapat kita petik dan pelajari.

Masih tak jauh dari kenangan Konfrensi CEI 2017 di USA yang kuikuti bersama ke-12 delegasi dari Indonesia. Hari itu beberapa rombongan dari berbagai Negara, termasuk kami (delegasi Indonesia) diajak kesuatu tempat penelitian pengembangan Teknologi yang dimiliki oleh Oregon State University, bernama Tsunami Simulator.

Selama bertahun – tahun para Ilmuwan serta mahasiswa berjibaku melakukan penelitian panjang di sini. Beragam alat peraga gempa bumi dengan miniatur rumah – rumah penduduk, parit besar dengan mesin pendorong air yang bisa mempertontonkan Tsunami dengan ketinggian yang sebenarnya, akuarium panjang berdesain sama (seperti parit) yang juga bisa menciptakan Tsunami walau dengan skala kecil, serta yang sungguh menakutkan adalah satu ruangan raksasa seluas nyaris 100 x 100 m yang gilanya digunakan untuk melihat kondisi ketika ratusan ribu liter air ditumpahkan bersama beberapa sukarelawan di dalamnya.

Dengan kata lain, segala yang kau butuhkan untuk meneliti salah satu fenomena alam paling mematikan, ada di satu tempat ini.

Menurut penjelasan dari salah satu penanggung jawab Tsunami Simulator, Amerika sendiri setidaknya mengalami bencana Tsunami 300 tahun sekali. Ini jelas mengherankan, hasil dari penelitian dari tempat pengembangan teknologi semegah ini hanya akan dipakai oleh Amerika hanya sekali dalam 300 tahun.

“…Kami hanya bersiap, selebihnya ilmu yang kami dapat akan kami sebarkan ke seluruh dunia…” Jawab mereka dengan senyuman, ketika seseorang dari rombongan kami bertanya kenapa mereka melakukan ini semua.

***
Aku tidak akan membahas betapa anehnya Indonesia sebagai langganan Tsunami di dunia, tidak memiliki Simulator bencana Tsunami sehebat ini, padahal rakyat Indonesia begitu membutuhkannya. Aku hanya bertanya mengapa kita selalu malas untuk bersiap.

Bila yang kita takutkan telah datang atau dunia begitu bergerak tiba – tiba dan tak terduga. Kita baru berlagak terkejut, bingung, dan menyesali kondisi. Akibatnya apa? Kita tertinggal jauh dengan bangsa – bangsa lain.

Masalahnya satu? Kita tak mau bersiap sedini mungkin, suka sekali meremehkan dunia, dan bersantai ria dalam zona nyaman.

Bersiap aja dulu, nanti juga kau mengerti. Apa salahnya sih bersiaga demi menghadapi keadaan masa depan yang takkan pernah kita ketahui?

Berkerja keras seawal mungkin, menuai kegagalan sebanyak mungkin. Memang hasil tidak akan muncul diawal, tapi persiapan luar biasa yang kita lakukan pada potensi yang kita punya. Akan berdampak seberapa besar kualitas keberhasilan yang akan kita raih di masa depan.

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.

Comments are closed.