Bisa Melihat, Tapi Kok Disebut Buta?

Dilanda kebosanan membaca novel dan komik, tergoda aku mencoba untuk mencicipi koleksi buku – buku lawas yang menganut genre pemikiran, politik, dan sejarah. Serius, tapi asyik.

Salah satu yang menarik perhatianku adalah buku Capita Selecta 1, karangan M. Natsir (1908 – 1993), yang tak lain adalah tokoh pahlawan, negarawan, sekaligus intelektual Indonesia yang sangat terkenal hingga sekarang.

Capita Selecta 1, adalah kumpulan tulisan M. Natsir yang pernah beliau tulis pada rentang tahun 1936 – 1941. Isi tulisannya mencakup banyak bidang persoalan, seperti kebudayaan, filsafat, pendidikan, agama, ketatanegaraan, dan politik.

Gaya tulisan M. Natsir yang memadukan antara keindahan sastra Indonesia dan kecerdasaan berfikir, menciptakan karya tulis yang tidak hanya memiliki esensi seni yang tinggi, namun juga lugas, penuh data dan logika, dirangkai dengan statement yang kokoh lagi mencerdaskan.

Dalam tulisan beliau yang berjudul Jejak Islam Dalam Kebudayaan, M. Natsir menuliskan sejarah tentang Ilmuwan – Ilmuwan Muslim yang berjasa dalam kebudayaan dunia. Satu yang beliau contohkan adalah Ibnu Haitham, penemu konsep Camera kira – kira 200 tahun sebelum Ilmuwan barat melakukan percobaan tentang mesin cerdas ini.

Namun apa yang terjadi? Dunia seolah menutupi kenyataan, pengaruh teori Ibnu Haitham dalam ilmu cahaya ternyata sangat berkesan dalam karangan seniman dan ilmuwan termashsyur di dunia, Leonardo da Vinci.

Setelah mengetahui hal ini. Timbul pertanyaan dibenakku, jika Ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina, Al – Khawarizmi, Ibnu Haitham, kita tahu sangat berpengaruh bagi kebudayaan dan Ilmu pengetahuan di dunia sampai – sampai negara barat harus susah payah menutupi sejarah itu.

Apa sebenarnya peran prinsip Islam dalam membimbing dan menginspirasi Ilmuwan – Ilmuwan Islam tersebut?

M. Natsir menjawabnya dengan keren.

Dalam pada itu jangan pula kita lupakan bahwa sebenarnya kepiutangan budi dunia kebudayaan terhadap Islam itu bukanlah terutama sekali terletak pada hasil dan buah dari pekerjaan pujangga – pujangga Muslim dalam abad keemasan itu, akan tetapi terletaknya adalah dalam ruh intiqad, kekuatan mensyiasat dan menyelidik kebenaran  yang ditanamkan oleh Agama Islam dalam dada tiap – tiap putera Islam itu.

Allah berfirman, “Dan janganlah engaku turuti saja apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan atasnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu, semuanya akan ditanya tentang itu!” (Al – Isra: 36)

Kesimpulannya, Ruh intiqad dalam bahasa zaman now sama harfiahnya dengan jiwa literasi.

Dijelaskan oleh M. Natsir, Ruh Intiqad inilah yang mendidik mereka (para Ilmuwan Islam), supaya mempergunakan akal dan menyelidik dengan seksama, serta menjauhkan mereka dari taklid membuta tuli dalam semua perkara. Artinya, walaupun ngomong dikit, tapi penuh bukti.

Pak M. Natsir serasa menunjukkan kepada kita, kecerdasan diawali dengan memiliki jiwa literasi yang kuat. Kita tahu di zaman sekarang, kita di hujani dengan miliaran informasi dari internet yang tidak ada pembatas antara kebohongan dan kebenaran. Ketika itu terjadi kita tidak boleh cepat mempercayai sesuatu, menyebarkan sesuatu informasi yang tak jelas sumbernya, atau terbakar emosi hanya karena idola medsos kita dilecehkan dengan omong kosong.

Bukankah Allah sudah memperingati, jangan ikuti apa yang kita tidak punya ilmu atasnya, karena kelak apa yang kita sampaikan, apa yang kita lakukan, akan di pertanggung jawabkan kelak.

Mau, ditendang ke Neraka hanya karena menyebarkan artikel tentang bumi itu datar, matahari itu kotak, dan bulan itu segitiga?

Kritis dan pahami lah terlebih dahulu apa yang engkau sampaikan. Buktikan, darah pejuang muda Islam masih mengalir di tubuh kita.

 

Hidup Anak Muda Muslim penjaga NKRI!