Dasar Amatir! Tahu Apa Kau?

Bertemu para senior di bidang yang ia tekuni, adalah tugas penting yang mestinya dilakukan seorang Anak Muda.

Itulah yang kusadari tatkla hari Sabtu (8/9/2018) kemarin diundang sebagai Narasumber di Hari Aksara Internasional Tingkat Nasional 2018 di Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Disandingkan bersama para Sastrawan senior asal Deli Serdang, membuatku hari itu berkomitmen untuk terus menyambung tali silaturahmi dengan Pujangga – Pujangga hebat tersebut.

Menjadi seorang ‘Bayi’ yang bisa dibilang baru saja mencicipi ‘manis diawal’ sebagai seorang penulis, ditengah para master yang sudah mengalami pahit getirnya dunia Kesusastraan dan kepenulisan selama puluhan tahun. Rasanya bangga dan terharu.

Hadir di sampingku, Pak Mihar Hararap (kemeja biru lengan pendek) ketua Forum Sastrawan Deli Serdang (Fosad), yang pada kesempatan itu mengupas sebuah buku kumpulan pusi dari kaca mata beliau sebagai Sastrawan. Demi meramaikan kegiatan tersebut, beliau tidak datang sendirian, ikut serta sahabat – sahabat Fosad-nya dari seluruh wilayah Deli Serdang.

Salah satunya adalah Pak Sulaiman Sambas, tokoh Sastrawan yang dari tahun 60-an telah mengabdi pada seni menggores kata ini. Sempat mengobrol panjang dengan beliau di akhir kegiatan, menancapkan betul semangat dan inspirasi luar biasa pada sanubariku.

Ajang diskusi Literasi hari itu bagiku adalah forum curhat sesama penulis yang takkan terlupakan. Obrolan santai yang menghangatkan, diselingi lelucon konyol dan nasehat – nasehat jitu, membuatku merasa dekat dengan mereka.

Tepat dihadapan mereka, aku tak bisa berhenti bercerita tentang pengalaman atau istilah mereka proses kreatif, ketika Allah mengizinkanku menghasilkan beberapa karya sastra seperti Novel, cerpen, sajak, dan tulisan bebas (di blog). Walau tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia mereka, melihatku yang bermimpi bisa meng-upgrade Kesusastraan Indonesia agar nyaman dinikmati lagi oleh kalangan muda sepertiku. Mereka juga tak lupa mengingatkanku tentang banyak hal.

Karena ketika kita berkecimpung di dunia seni dan kreatifitas, kita bermain dengan hati dan perasaan..

Menulis mampu meningkatkan derajatmu di antara orang lain, mampu membuatmu disanjung dan dihormati. Tapi jangan kira menulis takkan bisa menghinakan dan menjadikanmu tak berguna. Karena saat dunia ini berubah, hati dan perasaan orang lain pun sontak dinamis dalam memandang sebuah karya seni. Lihat paradox ini, bagaimana sebuah karya Sastra yang begitu epic, dapat tersingkir oleh karya yang (maaf) isinya hanya omong kosong namun karena mengikuti trend jadinya laku abis dan terkenal.

Itulah mengapa diakhiri kegiatan, Pak Sulaiman Sambas berkata padaku.

“Dek Azzam, setiap orang adalah guru. Mungkin hari ini kami adalah gurumu, tidak menutup kemungkinan esok lusa kami lah yang belajar darimu. Kau punya kesempatan yang lebih besar dibandingkan kami 30 – 40 tahun yang lalu, kau masih mampu melihat, mempelajari, dan memahami perkembangan dunia yang begitu luas ini. Manfaatkanlah itu. Jaga diri dan nama baik keluarga dan kampungmu Deli Serdang….”

Ah, ternyata aku belum apa – apa kawan. Segala perjalanan yang kukira luar biasa melelahkan, bagi mereka adalah hal wajar. Tentu kalah seru dengan kisah masa muda mereka, yang seolah kertas dan pensil adalah kekasih hati.

Hmm… Aku sampai detik ini membayangkan, bisakah kita melakukan tantangan Pak Sulaiman Sambas ini?

Dasar Amatir! Ya PASTI BISA lah!

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!