Dukungan vs Kritik: Duluan Yang Mana?

Kembali mengunjungi Jakarta untuk kesekian kalinya, agendaku kali ini tidak jauh – jauh dari dunia anak muda dan lingkungan. Aku berkesempatan untuk menyampaikan project presentasiku yang mengangkat topik Sosial dan Alam.

Demi meningkatkan kualitas project, sudah menjadi lumrah bagiku untuk bertanya dan meminta saran kepada orang – orang terdekatku, baik itu orang tua, guru/mentor, bahkan teman – teman dan adik kelasku.

Nah, yang namanya meminta pendapat orang lain, tentu saja ungkapan bernada kritik sering menghampiriku.

Tidak jarang kritik – kritik tersebut seperti menyayat hati, melecehkan tiap lelah dan keringat, menciptakan dilema yang hebat. Seolah – olah apa yang telah kau lakukan dengan sempurna, hanya seperti sampah. Meski itu agak lebay, tapi itulah yang terjadi.

Namun, apakah itu membuat langkahku terhenti. Tentu tidak. Segala kritik itu ternyata menjadi amunisiku untuk menciptakan karya yang lebih luar biasa lagi.

Karena apa? Sebelum mencapai titik ini, ribuan dukungan telah kudapatkan dari keluarga dan orang – orang terdekatku.

Jika kalian seorang penggemar Youtube. Pasti tidak asing lagi dengan nama Agung Hapsah. Youtuber muda ini pernah mengulas tentang banyaknya muncul video maker kecil atau pemula yang menghiasi dunia Youtube. Beragam konten mereka posting setiap harinya, mulai dari Vlog, video kreatif, video lucu, hingga QnA.

Sayangnya, kehadiran mereka tidak disambut baik oleh netizen. Setiap hari, ratusan cacian dan hinaan memenuhi kolom komentar mereka. Hasilnya, sebagian dari mereka memutuskan untuk menutup channelnya dan berhenti mengunggah video.

Aku membayangkan, jika aku dahulu bernasib seperti mereka, ketika semua orang menertawakanku, tidak ada yang mendukung apa yang kusukai, tidak ada yang mau mendorong semangatku untuk terus berkarya. Mungkin dari dulu aku sudah berhenti menulis dan melupakan semua mimpiku.

So, kritik tidak boleh mendahului dukungan.

Kritik memang penting, untuk kita mengevaluasi diri dan selalu berada pada tujuan yang benar. Namun dukungan haruslah berada di titik awal, demi menambah kepercayaan diri dan semangat untuk produktif berkarya.

Tidak ada orang tua yang menghalangi anaknya untuk berhasil dan tidak ada sahabat – sahabat terbaik yang tega membuat patah semangatmu. Lakukan apa yang kau sukai, mintalah dengan tulus segala dukungan itu pada mereka, jangan pedulikan segala cemooh atau kritik jika menurutmu belum saatnya membuka telinga untuk itu.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!