Engkau Adalah Kebebasan Yang Menghidupkan

Dia Sinabung
Oleh: Nuraini Br Tarigan

Ini Kisahku tentang Dia

Dia yang bernama, Gunung Sinabung.

              Penderitaan telah menyelimuti hati Rakyat

              Cerita dan canda kini telah berubah bermuram durja

              Dia Sinabung terus menyemburkan kepulan awan dan abu

              Menyemburkan air panas

              Membakar, menghanguskan.

             Dia bilang ini tanda penderitaan, tapi dia tak mau menghentikannya

Apa yang terjadi setelah ini?

Ketika telah hancur dan terbenam nyawa saudara kami di Tanah Karo ini.

Apakah Dia akan segera berakhir?

Tolong katakan kami harus bagaimana lagi?

            Cukuplah sampai disini.

            Walau duka telah lama datang, atau mungkin kebahagiaan telah pudar.

            Dia Sinabung harus tetap tersenyum

            Demi tanah ini, demi kami, demi masa depan kami.

Desa Tigandreket, 26 Mei 2017

***

Aku dan teman – teman dari SM (Sekolah Menengah) SAMERA pernah membuat Social Project untuk anak – anak dan remaja di daerah yang terdampak erupsi Gunung Sinabung, sebuah Program akhir tahun dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satu aktivitas yang kami lakukan saat itu bersama sahabat – sahabat pengungsi tersebut adalah kegiatan Literasi Baca-Tulis.

Aku ingat sekali ketika kegiatan itu selesai, salah seorang sahabat peserta Program tersebut memberikan Sajak di atas untuk aku baca. Dan wah! Aku tidak punya kata – kata lagi selain decakan kagum.

Lika – liku petualangan dan pengalaman hebat telah membawaku ke banyak tempat, namun setahun kemudian, ajaibnya sajak kecil itu terlintas kembali di memoriku dan ‘membersihkan’ lagi pandangaku tentang dunia kepenulisan yang sebenarnya.

Saat aku mengira menulis adalah kemampuan yang membutuhkan buku dan teori, ternyata ada seorang yang mampu menciptakan karya tulis yang inda hanya bermodal  kata sederhana dan perasaannya. Aku pikir aku hebat karena sudah membaca banyak buku, menulis ratusan tulisan, bertemu dan belajar bersama penulis – penulis hebat. Padahal, aku ini belum apa – apa. Aku masih bukan siapa – siapa.

Bahkan aku baru belajar di atas segala teori dan pengalaman, pada hakikatnya menulis adalah kebebasan yang menghidupkan. Menulis bukan sekedar permainan kata dan imaginasi, lebih dari itu menulis adalah kemampuan untuk memahami, memaknai, dan menyampaikan apa yang ada di hati dan di sekitar kita dalam rangkaian kata.

So, sudah mengukir berapa kata hari ini?

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!