Garis Kematian: Siap Mencekik Mimpimu Kapanpun Itu

Loh, ini kenapa kontennya rada – rada seram ya?

Tak tahu kenapa, akhir – akhir ini #Nerror, sebuah segmen video youtube karya Nessie Judge yang berisi tentang misteri dan konspirasi sering muncul di rekomendasi Youtubeku.

Sesekali aku menonton videonya dan ikut tergelitik dengan cara si pemilik channel mengumpulkan dan menyampaikan segala hal mengerikan mulai dari pembunuhan, skandal, hingga mahluk astral. Yang tak satupun nyaman dengan degup jantung.

Tapi Nessi Judge melewatkan sesuatu yang menurutku lebih menyeramkan dari semua misteri dunia. Yap, sesuai dengan judul kita akan ngobrol tentang satu hal yang bukan hanya membuat hari ini suram, namun juga hari di masa depan.

Kalian tahu apa itu? It’s called the ‘deadline’!

Bagi sebagian orang, termasuk aku, deadline adalah sesuatu yang lebih mengerikan daripada apapun. Konon, ‘dia’ adalah batasan waktu yang terkadang kita sendiri yang menciptakannya, kita pula yang mengingkarinya. Apalagi jika bekerja bersama orang lain, deadline juga merupakan momok yang menakutkan ketika datangnya sekonyong – konyong, dan nahasnya kita tak tahu harus berbuat apa.

Sebagai seorang yang bergerak di bidang kreatif, deadline acapkali menganggu  fikiranku untuk berimaginasi dan menikmati pekerjaan yang sedang dijalani. Memunculkan perasaan ‘bodo amat yang penting siap!’ yang justru menganggu kualitas karyaku.

Pertanyaanya, perlukah deadline itu?

Haruskah ‘si deadline’ ini menunggu di waktu tertentu, dengan jubah menyeramkan, yang ketika kita sampai di depan wajahnya, dia mencekik kita dan mengatakan kita tak berguna sama sekali?

Itu tidak adil, tapi sayangnya itu harus dilakukan.

Kawan, jika kita berada di tingkat merintis atau pemula, mungkin hari ini kita masih bekerja dengan sistem yang kita buat sendiri, dengan keuangan yang kita pegang sendiri, dan dengan marketing yang senak hati kita. Ya, semua itu mudah bila dikerjakan dengan santai tanpa mempedulikan deadline atau apapun itu.

Namun malangnya, itu tidak berlaku lagi ketika kita menginjakkan kaki di level selanjutnya.

Aku membuktikan sendiri hal itu. Beberapa tahun lalu, saat aku masih menulis di catatan facebook, tak penting berapa lama jarak antara tulisan satu dengan tulisan lainnya, orang lain tetap mengapresiasi karyaku dan terus menyemangatiku. Namun, tatkala jemari ini rasanya sudah lama bersahabat dengan keyboard dan pensil, memakai metode kerja semacam itu lagi adalah bunuh diri.

Sempat mengarungi tantangan selanjutnya dari orang tua, menjadi seorang blogger di blog gratisan. Sering rasa malas membuat tulisan – tulisanku tertunda, pinsilku masih tajam, dan blog ku teronggok tak terurus.

Sepintas kukira pembaca akan setia dan terus bertanya, “Kapan nih tulisan terbarunya?” Ternyata tidak. Ide – ide dalam kepalaku terasa hampa, dan pengunjung blogku kabur entah kemana.

Lepas dari pelajaran berharga itu, suatu hari aku mencoba bekerja sama dengan orang lain. Menciptakan sebuah team, lantas merancang satu proyek komik stript yang aku sebagai penulis cerita dan ada yang menjadi illustrator dan art designernya.

Minggu – minggu awal semua pekerjaan berlangsung dengan baik, bahkan beberapa episode pertama kami sudah muncul di media sosial, dan sempat mendapatkan feedback baik dari para netizen. Sampai akhirnya teman – teman di teamku menyerah satu per satu, karena tak sanggup mengejar deadline yang telah kami sepakati bersama.

Itulah mengapa, kubilang memang deadline itu tidak adil. Toh disepakati bersama saja bisa pupus, apalagi tidak disepakati dari awal.

Tapi, kawan. Tetap kita butuh ada batasan waktu diantara kita dan karya. Bukan untuk membuat kita susah ataupun tertekan. No! Melainkan memberikan pengalaman dan pelajaran pada kita untuk menghormati waktu dan orang lain.

Jangan sampai garis kematian yang telah kita komitmenkan, membuat mimpi kita tercekik dan tak pernah terwujud kapanpun.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!