Gelas vs Galon: Nyatanya Memang Gak Mau

Entah darimana tabiat ini diwariskan, mungkin dari papa atau mungkin kakek – kakek buyutku, tapi aku suka sekali bertingkah usil.

Dari kecil kalian tak perlu bingung siapa yang suka merusak keran air Rumah, mematahkan sapu Sekolah, menggangu adik sampai nangis, atau menghapus semua file dokumentasi di kamera orang lain. Sengaja ataupun tak sengaja, aku dulu selalu senang melakukan hal baru, hingga bertingkah sembrono dan sering melibatkan orang lain dalam masalah.

Bertahun – tahun kemudian, sifat usil itu berangsur hilang, tapi tidak sepenuhnya hilang. (Gimana sih?) Ya, memasuki usia belasan tabiat usilku bertransformasi kedalam obrolan. Tetap dalam batas kesopanan, aku senang membuat orang tertawa, terdiam, atau berfikir dengan celoteh – celotehku yang bahkan aku sendiri kekeh menyebutkannya lagi.

Seperti hari itu. Di SAMERA cuaca cukup menyengat, aku mencari tempat berteduh setelah memimpin aktivitas out-door bersama adik kelas. Sambil meneguk air minum diatas pondok kelas, aku bertemu orang tua murid baru yang sedang menunggu jemputan. Kebetulan anaknya ABK, beliau sedikit bercerita bagaimana pengalamannya yang susah sekali mencari Guru dan Sekolah yang cocok dan terbaik untuk anaknya, sebelum dia bertemu dengan SAMERA.

Begitulah Bang Azzam, kalau kata Psikolog sih anak saya ini seperti gelas yang sudah penuh, tidak mungkin lagi untuk diajarkan apapun. Coba bayangkan bagaimana sedihnya sebagai orang tua mendengar itu.” Ujarnya dengan senyum yang tipis, nampak dia benar – benar sedih dan lelah.

Lain daripada yang lain, justru itulah yang mengaktifkan sifat usilku. Menjawab logika dengan logika.

“Ngapain ngisi gelas yang udah penuh Bu?” Tanyaku. Ibu itu diam, mengerutkan kening, “Cari aja wadah yang lain, mungkin disampingnya ada gallon yang masih kosong. Tinggal isi deh!” Aku tergelak. Beliau pun begitu, lantas mengangguk cepat dengan wajah yang sumringah.

“Iya juga ya hehehe…”

Untuk hari itu, jawaban usilku berhasil menghibur seseorang. Mengajaknya untuk merenung lagi, tanpa dirinya merasa terganggu atau digurui.

Karena nyatanya memang semua gebrakan besar yang kita lakukan di petualangan hidup ini, terkadang hanya diawali oleh komitemen mau atau tidak mau.

Bayangkan ada anak kecil yang tidak tahu apa – apa, tiba – tiba orang lain enak saja menganggap otaknya tak berguna lagi. Menghabisi harapan orang tuanya, sekaligus merendahkan Tuhan yang telah menciptakannya. Padahal ada banyak kesempatan disekitar anak itu, ada masa depan yang lebih cerah daripada memikirkan hal yang sekiranya tidak mampu lagi didapatkan.

Lebih bagus susah payah mengisi gallon yang kosong, daripada pusing memaksa air masuk ke dalam gelas yang sudah penuh.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!