Gelisah Aku Karenamu

Matematika selalu jadi misteri yang menantang bagiku. Walupun gak jago – jago banget, tetap saja bermain dengan logika dan angka adalah hal yang seru bagiku hingga sekarang. Sanking penasarannya, kadang demi satu soal matematika kukorbankan banyak waktu bermain hanya untuk memacu otak dan tangan. Positifnya, tugas rumahku selalu selesai, tapi sisi negatifnya ya kayak gini.

Beranjak Kelas 3 SD, aku ingat pernah di beri latihan soal tentang Faktorisasi yang mengakar ke topik FPB dan KPK. Itu pelajaran yang menarik, baru kutahu angka dapat berhubungan satu sama lain, dan ampuh di pakai untuk menyelesaikan masalah sehari – hari yang dulu tak terpikir bisa dihitung. Aku mulai mengerjakan satu demi satu soal, menarik serangkaian garis pendek berbentuk akar, untuk menghubungkan angka demi angka dengan hasil pembagian sederhananya.

Aku menyeringai kecil di depan buku tulisku, soal – soal ini terlalu mudah, kataku dalam hati.

Akhirnya aku tiba di soal terakhir, 2 angka ratusan yang harus di faktorisasi kan.  Dengan semangat yang menggebu – gebu, kurangkai lagi akar – akar itu hingga panjang menembus barisan tengah buku. Sampai pada pembagian terakhir, muncul angka 17 dan 19.

Jemariku tiba – tiba berhenti memainkan pinsil, sadar tidak ada angka pembagi yang cocok untuk dua angka tersebut. Aku menggaruk kepalaku, kok aneh sih, kataku berkali – kali.

Kusibak lembaran baru di halaman paling belakang, berusaha menyelidiki lebih lanjut angka – angka pembagi dari dua angka itu. Saat itu angka decimal masih asing bagiku, itulah sebabnya ketika angka Nol tidak muncul di operasi pembagian, aku mulai panik dan gelisah. Padahal kedua orang tuaku ada di rumah, tapi tak satupun dari mereka yang kutanya tentang soal menjengkelkan ini, karena aku yakin ini soal mudah aku bisa mengerjakan ini sendiri.

Aku terus berpacu dengan waktu, mulai bosan dan menyerah dengan coretan – coretan ini. Tapi bukan Azzam namanya kalau gak ‘ging – ging’, dengan modal rasa gelisah dan penasaran yang menggebu – gebu, kubuka semua buku matematika di kelas yang lebih tinggi, menatap tiap materi dengan melongo terheran – heran, ternyata ada banyak yang belum ku pelajari. Finally, mataku terhenti di salah satu Sub-bab Matematika berjudul ‘Bilangan Prima’.

“Bilangan Prima adalah angka yang hanya bisa dibagi habis oleh angka 1 dan dirinya sendiri”

“Oooh gitu”

Aku menepuk jidat sambil menggeleng, setelah memandang deretan angka mana yang di sebut bilangan prima itu. Lantas aku menemukan diantaranya ada dua angka menjengkelkan itu, 17 dan 19.  Senyumku bergerak naik, sumringah menatap jawaban terakhir yang kutulis dengan font capital.

“BU GURU, INI BILANGAN PRIMA! GAK BISA DIBAGI HABIS!”

***

Gelisah. Aku tak pernah mengundangnya masuk ke kisah hidupku, dia datang sendiri dengan ribuan kakinya, lantas melenggang begitu saja dengan ribuan tangannya. Haruskah aku takut dengannya, karena seringkali dia membawa rasa panic, sedih, dan luka yang menganga.

Padahal kutahu Tokoh – tokoh besar hidup di antara kegelisahan hatinya. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari hidup dengan kegelisahan mereka akan bobroknya Pendidikan, dan maraknya praktek maksiat dan kesesatan pada rakyat Indonesia. Sehingga berkat semangat mereka, lahirlah Muhammadiyah dan Naudhatul Ulama yang selama ratusan tahun telah mencerahkan Indonesia dengan syiar dan gerakan Islam nya.

Samuel Morse, hidup dengan kegelisahannya akan lambatnya komunikasi jarak jauh di zamannya, yang membawanya menciptkan kode morse yang begitu berguna sampai menjadi cikal bakal lahirnya komunikasi yang lebih canggih.

Karena kegelisahanku pula tentang kepedulian anak muda kepada lingkungan dan dirinya sendiri, maka lahirlah Program “Let’s Write with the Nature : An Innovative Program to Improve Ecological and Environment Awareness of the People in Young Age” yang berhasil ku tulis menjadi Project Ilmiah, dan membawaku ke perhelatan Konferensi CEI 2018 di Austria.

Kegelisahan telah membuat mereka kuat. Memaksa jiwa mereka untuk terus belajar tentang hal baru dan ilmu baru. Jangan tanya seberapa besar luka di hati mereka, seperapa banya tetesan keringat dan air mata tumpah di tiap detik perjuangan mereka. Tapi lihat, apa yang mereka hasilkan dari kegelisahan itu.

Merasa gelisah dengan lingkungan dan diri kita adalah tanda bahwa kita akan naik kelas. Tapi terjebak di ruang gelisah tanpa belajar dan mencari jawaban, itu aneh.

 

2019

Anak Indonesia untuk Indonesia.