Haruskah Aku Menganggap Dia Masih Berharga?

Sebuah Riset di bidang karir pekerja di Industry Pendidikan Indonesia mengemukakan, dari 3.473 responden yang merupakan guru TK, guru SMP, guru SMA, guru privat, dan guru kursus bahasa asing. Rata-rata  menerima gaji sebesar Rp 3,32 juta per bulan. Akan tetapi, tingkat kepuasan guru, dilihat dari karier, work life balance, budaya perusahaan, dan faktor manajemen. Menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat rendah dibandingkan dengan Negara – Negara di Asia Tenggara.

Sementara itu, analisis dari Pusat Data dan Statistik Kemendiknas menunjukkan bahwa jumlah kepala sekolah dan guru Dikdasmen yang layak mengajar atau memiliki ijazah S1 atau D4 sebesar 84,82%, berarti masih ada 15,18% kepala sekolah dan guru yang tidak layak mengajar.

Maraknya kasus penganiayaan guru, system yang buruk, kurangnya kepedulian pemerintah kepada para pengajar di daerah – daerah terpencil, menimbulkan pertanyaan yang cukup mengejutkan.

Apakah seorang Guru masih berharga di tanah air ?

***

Aku sering tergelak sendiri bila bernostalgia tentang masa kecilku di Taman Kanak – Kanak. Pernah beberapa kali aku bertemu dengan guru – guruku dulu, saat aku bertanya kepada mereka bagaimana aku dahulu, jawaban mereka sama.

“Lasak, bandel, tak tahu menurut, macam gasing!”

Hahaha, hal itu tidak bisa kubantah. Memang sebelum aku bisa duduk tenang mengerjakan project dan karya tulis seperti yang kulakukan hari ini, ternyata aku dan Sekolah dahulu bukanlah teman baik.

Karena ada satu bagian dari Sekolah yang kuingat tidak pernah akrab denganku, yaitu Guru.

Beberapa tahun lalu, bisa dibilang aku sangat tidak menyukai sosok seorang guru. Yang kutahu guru hanya perusak kebebasan, guru hanya robot yang ingin dihargai, padahal dirinya sendiri tak mau menghargai dan peduli kepada siswanya. Sampai – sampai, aku berfikir bahwa tanpa Guru aku juga bisa cerdas.

Aku tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah.

Setelah 10 tahun lamanya orang tuaku mendirikan Sekolah istimewa bernama Sekolah Alam Medan Raya. Aku mulai banyak belajar dan mengamati banyak hal tentang dunia.

Di titik inilah aku baru menyadari satu hal dari dunia pendidikan yang harus di tanamkan kepada semua orang.

Bahwa Guru bukan sekedar profesi, tetapi jiwa yang abadi.

Bahkan kita adalah guru bagi diri kita sendiri dan juga orang lain, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap. Kita harus melakukannya untuk melangkah maju.

Setiap orang punya tanggung jawab untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat, membuka fikirannya dan orang lain, tentang makna sebuah ilmu dan kehidupan.

Setiap orang diwajibkan untuk mengajarkan dan menunjukkan tentang nikmat dan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa, kepada dirinya dan juga orang lain.

Karena semua berhak untuk mendidik, mengajar, dan membimbing. Demi masa depan Indonesia!

 

Hidup Anak Muda Penjaga NKRI!