Haruskah Menghina Yang Terbaik?

Raut muka lesu mengiri langkahku yang lemas dan malas. Membuat seisi rumah tiba – tiba mengkerut dan bertanya, mengapa ‘Si Gasing’ (julukanku ketika kecil) yang biasanya ribut dan tidak kenal diam, malah tak semangat hari ini.

Tiba saat waktu makan siang, Mama yang pertama kali menegurku di sebelah meja makan,“Azzam, sini dulu!” Aku menghela nafas panjang, kenal betul nada dan kalimat itu, melihat ekspresiku pasti beliau mau berbicara serius denganku. Mama menarik kursi, menyuruhku duduk dan bercerita apa gerangan yang terjadi?

Akhir tahun ajaran baru, ada acara bertukar hadiah di kelasku. Seluruh kelas heboh menyiapkan Kadonya masing – masing, ada yang membawa kotak pencil lucu, celengan bergambar, buku cerita, action figure, dan mainan anak lainnya. Tak mau kalah akupun ingin memberikan hadiah yang pastinya lebih istimewa, berbekal ilmu menjahit kain flannel ditambah sentuhan manik – manik dan potongan origami, aku berhasil membuat boneka Bintang Laut dengan tanganku sendiri.

Disinilah rasa sedih itu berasal. Ketika semua hadiah dibagikan secara random kepada semua siswa di kelasku, salah seorang teman mendapatkan hadiahku. Akupun menanti – nanti komentarnya, namun bukannya mendapatkan ucapan terima kasih. Hasil karyaku ditertawakan, dan tidak satupun yang mau menerimanya.

8 Tahun setelah hari itu, aku sadar itu hanyalah kejadian sepele, bahkan sanking sepelenya tidak ada yang ingat peristiwa itu membuat ‘Si Gasing’ yang terkenal petakilan itu menangis. Hingga mama harus menceritakan sebuah dongeng klasik yang terbukti berhasil menenangkan hatiku yang rapuh.

“Di sebuah Kerajaan besar, ada seorang Raja yang hebat dan bijaksana. Hari itu ia hendak menguji kejujuran dan kesetiaan Prajurit Kerajaannya. Dipanggilnya Tiga orang pemimpin perang Kerajaan yang paling hebat, ketiganya diperintah untuk memanen Buah – buahan dari kebun Kerajaan.

Prajurit pertama berfikir ini bukanlah pekerjaannya, seharusnya dia ikut berperang, bukan memanen buah seperti ini. Karena kesal dia hanya mengutip dedaunan kering, lantas memasukkannya kedalam karung. Toh Raja mungkin hanya main – main, pikirnya.

Prajurit kedua lebih malas lagi, dia adalah seorang Pemimpin yang disegani lawannya, baginya perintah Raja memanen Buah ini hanyalah omong kosong. Tanpa rasa bersalah, dia hanya mengutip buah – buahan busuk yang telah jatuh dibawah pohon, lantas memasukkannya pula kedalam karungnya.

Lain halnya dengan Prajurit pertama dan kedua. Prajurit ketiga tidak memandang perintah Raja adalah omong kosong atau permainan. Meskipun ia punya kekuatan dan jabatan yang tak kalah hebat dengan kedua Prajurit tadi, ia tidak mengeluh. Dengan tekun dan telaten ia memetik buah – buahan yang ranum dipohon, membersihkan, bahkan memilahnya agar mendapatkan hasil yang terbaik sebelum masuk kedalam karungnya.

Setelah itu Sang Raja kembali memanggil ketiga Prajurit tersebut untuk menghadap, serta membawa karung mereka masing – masing. Lalu Sang Raja berkata, “Kalian adalah Prajurit terbaikku, silahkan makanlah apa yang telah kalian panen!”

Betapa terkejutnya Prajurit pertama dan kedua mendengar hal itu, mereka tak pernah mengira harus memakan daun dan buah busuk karena ulah mereka sendiri. Sebaliknya Prajurit ketiga tersenyum bahagia, membayangkan begitu nikmatnya buah yang telah ia panen dengan kesungguhan hati.”

Apa kata dunia bila hanya secuil hinaan, sepotong egoisme, atau sekeping rasa malas,  membuatmu berhenti memberikan yang terbaik untuk dirimu sendiri dan orang lain?

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!!