Hei! Di Mana Matamu!

Hari kian terik saat Ojek Online (Ojol) yang kupesan baru muncul sejak 20 menit yang lalu mengkonfirmasi lokasi penjemputan melalui fitur chat aplikasi. Dengan sigap sang supir menyodorkan Helm hijau itu, sambil meminta maaf sudah menunggu lama, sebab ada perbaikan jalan yang mengharuskan semua kendaraan bermotor mengambil jalur memutar.

Jam di tanganku menunjuk pukul 1 siang, setidaknya sejam dari sekarang aku ada janji dengan salah seorang ahli IT keren dari Indonesia, Om Ismail Fahmi di kantor beliau, Drone Emprit di daerah Jakarta Selatan. Beliau hari ini berbaik hati menyisihkan waktu luangnya untuk bertemu denganku, sekalian ngobrol tentang Tuntungan Ground Board Game, demi mendapatkan secercah inspirasi di balik segudang pengalaman beliau bergelut di industri teknologi di Indonesia.

Tiba di Stasiun Poris, aku langsung menghampiri mesin penjual kartu KRL Commuter Line, memilih Stasiun Lenteng Agung sebagai tujuan akhir. Keseringan main ke Ibukota, membuatku hafal semua rute dari moda transportasi umum yang satu ini. Jelas saja, sebelum transportasi online menjamur, KRL Commuter Line telah lama menjadi transportasi favorit sejuta umat untuk perjalanan antar Jabodetabek, karena selain jangkauannya yang luas, transportasi ini pun terbilang mudah dan murah bagi semua kalangan.

Sekilas info, ada 6 rure yang dilewati oleh KRL Commuter Line, dengan 80 stasiun yang beberapa di antaranya adalah stasiun besar yang menjadi lokasi transit di setiap rute yang ada. Dari Stasiun Poris hanya ada satu rute, yakni Tangerang-Duri, artinya aku harus transit di Duri sebelum berangkat ke Stasiun tujuanku di Lenteng Agung.

Kereta besi itupun membawaku dengan bunyi desing baja, dan suara operator yang khas, yang seakan tak lelah mengoceh di setiap pemberhentian. Jakarta hari ini menurutku sudah mulai tak tertebak, jika dulu banyak-sedikitnya penumpang bisa diperkirakan dengan waktu pergi dan pulang kerja, saat ini tak sekalipun waktu terlewati tanpa harus menikmati berhimpitan ria di gerbong kereta, yang rasanya udah kayak sekumpulan sarden di kaleng raksasa.

Setelah berhenti dengan mulus di Stasiun Duri, ribuan penumpang berbondong-bondong keluar dari gerbong. Karena ini stasiun terakhir tak banyak penumpang yang masuk untuk menjalani rute sebaliknya. Dengan sekejap gerbong-gerbong kereta yang awalnya penuh sesak, akhirnya kosong melompong.

Namun, keramaian belumlah usai. Penumpang yang akan menjalani rute lainnya, harus menyebrang ke peron sebelah, aku yang sudah menyangka acara berdesak-desakan telah berakhir, ternyata justru diperlihatkan pemandangan unik yang sepertinya hanya milik negara kita yang tercinta ini.  

Negara Tersantai di Dunia

Tidak ada yang salah dengan stiker di rangkaian tangga ini. Tentu bagi kita yang sering berkunjung ke Airport, Mall, Café, atau tempat-tempat umum lainnya, rambu-rambu kecil semacam ini sering kita jumpai. Bahkan mungkin di Sekolah, atau Universitas tempat kita menuntut ilmu, aku yakin tidak ada satupun orang yang tak paham apa maksud dari stiker-stiker tersebut.

Lalu, apa yang terjadi?

***

Sepulang dari Turkey, untuk menghadiri konferesi kepemudaan dan mengerjakan beberapa misi rahasia di Istanbul, tak kusadari ternyata bemacam isu dan masalah tengah bersileweran di tanah air. Salah satunya yang menarik perhatianku adalah isu tentang polusi udara dan kualitas lingkungan hidup di Ibukota yang dinilai semakin pelik.

Kembali pihak pemerintah menjadi kambing hitam, memunculkan berbagai wacana dan opini yang terangkum mulai dari pembahasan serius seperti dalam artikel online atau majalah. Hingga yang bentuknya hanya komedi berbau sarkasme yang banyak di share para netizen melalui meme, kartun, dan video-video lucu.

Tanpa sumber yang jelas, serta pengetahuan yang cukup, semua orang seakan tahu segalanya. Ikut-ikutan mencibir tanpa merasa perlu memahami dan menelusuri fakta dari informasi yang sebenarnya.

Ya, layaknya para penumpang KRL Commuter Line yang tak tahu, atau bahkan tak peduli lagi membedakan mana jalur masuk dan keluar di tangga Stasiun Duri, menurutku begitulah kebiasaan kita sebagai bagian dari netizen Indonesia.

Gagal memahami informasi, namun ikut-ikutan berkoar, seolah budaya literasi itu tak pernah ada di muka bumi.

Kita mungkin bisa marah ketika seorang menabrak kita di jalan, lantas berteriak “Hei di mana matamu!?” Demi menyadarkannya akan kesalahan yang dibuatnya. Tapi mengapa kita sendiri sering menutup mata dengan kebenaran, menabrak begitu saja nilai-nilai adab dan etika pada orang lain, lantas membiarkan diri mengikuti arus ego yang sesatnya bukan main.

Jika kita merasa benar, mengapa kita harus menutup-nutupi kebenaran? Sebab tugas kita itu bukan berbicara dan bergerak, dengan gawai dan jemari di atasnya. Lebih dari itu kewajiban kita adalah membantu menginisiasi sebuah solusi, melakukan gerakan nyata yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Salam Anak Muda HEBAT Indonesia!