Indonesiaku Yang Lebay

Bertemu serta bergabung bersama anak – anak muda dari seluruh dunia, di Konfrensi CEI 2017 USA yang kuikuti awal bulan lalu. Benar – benar telah banyak membuka lebar fikiran serta inspirasiku. Gagasan demi gagasan brilian yang mereka presentasikan, sifat kedisiplinan, ketekunan, dan kegigihan yang mereka punya. Menjadi cermin diri bagiku, bahwa aku masih harus banyak belajar.

Sering mengobrol dengan teman – teman dari negara lain, mendengar cerita – cerita menarik dari negara mereka. Semakin menggelitik hatiku untuk kembali menilik kondisi Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di dunia.
Aku punya cerita lucu. Di sela – sela padatnya jadwal Konfrensi, saat istirahat makan siang, aku bersama teman – teman dari Turki asyik mengobrol dibawah rindangan pohon.

Nah, yang namanya anak muda, kami tentu tak melulu membicarakan soal Konfrensi dan project. Dari tempat – tempat gaul, makanan khas, fashion serta mainan yang lagi trend dari negara masing – masing tak luput kami jadikan topik pembicaraan. Ngalor – ngidul, tak behenti hingga penghujung waktu istirahat.

Seketika ditengah obrolan, sesuatu tersirat di benakku, sebuah pertanyaan yang mungkin hendak ditanyakan seluruh masyarakat di Bumi Pertiwi.

“Do you know? Your President is very famous in my country”

Tak kusangka. Mereka terdiam, menatapku dengan tatapan aneh. Sejenak kugigit bibirku, menyesal dalam hati, apa pertanyaanku salah?

“Really, Azzam?” Omer, salah satu dari mereka bertanya balik sambil mengerutkan alis.

Melihat tanggapan mereka yang bingung, aku pun menjelaskan bahwa Presiden mereka, Erdogan. Sering menjadi contoh pemimpin yang hebat di Indonesia. Beliau di elu – elukan karena berani, tegas pada pihak yang salah, berjiwa ksatria Islam, namun tetap menjaga sopan-santun apa lagi terhadap rakyatnya. Bahkan beliau juga tak jarang dibanding – bandingkan dengan Presiden di Indonesia.

Aku juga mengatakan sejak saat itu, serial – serial Turki menjadi sangat laris. Para aktornya diundang ke Indonesia, rantingnya tinggi, dan sponsornya begitu membludak. Aku tak berbohong, karena Andung (Panggilan untuk Nenekku) adalah salah satu penonton garis keras Serial Turki, yang tiap hari menayangkan 3 episode sekaligus (3 jam).

“Wow, We did not even know it was happened!”

Mereka tertawa kekeh, mengaku dari sejumlah serial Turki yang kutunjukkan lewat Google, yang sempat booming di Indonesia, hanya sedikit yang mereka tahu. Bahkan mereka tak berkomentar apa – apa mengenai Presiden mereka yang ternyata sangat di kagumi di negara lain.

Waktu istirahat telah berakhir, rentetan jadwal Konfrensi menunggu kami, hingga tengah malam nanti. Aku berdiri, melambai meninggalkan kelompok Turki itu karena ada meeting bersama Delegasi Indonesia di gedung lain.
Sebelum itu aku mematung sembari berkacak pinggang, menghembuskan nafas dengan perasaan miris yang bercampur aduk.

Aku baru sadar, bahwa negara tanah air kita, bisa menjadi penjara untuk kita sendiri. Menjadikan kita tertutup dan membiarkan pihak – pihak lain menguasai. Bagaimana tidak? Hal – hal yang menurut kita luar biasa di Ibu Pertiwi, hanya menjadi omong kosong di negara lain.

Lebay dan suka menyalahkan, mungkin kalimat yang cukup kasar. Tapi cukup kata inilah yang mampu menggambarkan mental buruk yang sampai sekarang belum mampu kita usir dari jiwa ini.

Untuk apa kita membandingkan orang lain dan melecehkan apa yang kita punya? Buat apa kita mengangungkan karya negara lain, padahal jutaan karya tangan kita sendiri, tak pernah kita pedulikan.

Berusahalah untuk menghargai apa yang ada di Nusantara kita tercinta ini. Cobalah untuk menutup telinga dengan suara media yang tahunya hanya memoles cantik karya asing, jangan mau terkecoh, jangan mau ikut – ikutan melakukan hal bodoh.

Berlombalah kita semua dalam menciptakan sebuah inovasi original dari tangan anak bangsa.

Salam dariku Untuk Anak Muda Indonesia.