Ini Salahku, Lalu Apa Maumu?

Lubuk Linggau adalah kota kedua setelah Palembang yang menjadi tujuanku kali ini di Provinsi Sumatera Selatan. Ibu Lena, sang Direktur Sekolah Alam Insan Mulia (Salim) Lubuk Linggau, menghubungiku sebulan yang lalu, saat aku masih bertandang di Istanbul. Beliau mengundangku untuk berbagi pengalaman tentang perjalananku melintasi 3 benua bersama sahabat-sahabat muda di sana, sekaligus belajar bareng tentang literasi. Tanpa fikir panjang, aku langsung menyesuaikan jadwal, dan mengatakan siap buat petualangan ini.

Pesawatku mendarat mulus di Bandara Sultan Badaruddin 2 di Palembang, mengawali perjalananku ini tanpa sempat mengucapkan selamat datang. Informasi yang kubaca di Internet, jarak Palembang ke Lubuk Linggau tercatat sekitar 313,6 km, atau menghabiskan lebih 6 jam perjalanan menggunakan mobil.

Lama tak bersua dengan jalan lintas Sumatera, aku hampir lupa rasanya cerita-cerita indah di jalanan. Berhimpitan ria bersama truck dan mini-bus, menghadapi kawah gunung berapi yang bisa tiba-tiba muncul di tengah jalan, atau melewati amblasnya aspal yang membuatku seakan berada di Radiator Spring bersama McQueen. Namun, sebagai anak muda yang lahir di Pulau ini aku cukup menikmatinya hehehe…

Rangkaian kegiatanku di kota Lubuk Linggau dimulai esok harinya. Dijadwal akan hadir di 3 sharing session, membuatku sudah bersiap-siap menyesuaikan materi dan gaya Bahasa yang berbeda di tiap sesi. Pagi di Salim berlangsung meriah dengan teriakan semangat dari adik-adik SD, setelah mendengarkan pengalamanku keliling dunia dan bertekad memiliki yang sama.

Teman-teman SM (Sekolah Menengah) pun tak kalah antusias, membawakan tema tentang literasi untuk anak muda, aku mendapati berbagai pertanyaan menarik, tentang masalah-masalah anak muda, sampai dikepoin abis apa sih yang aku lakukan hingga bisa terbang ke 3 benua di usiaku yang ke 17 tahun.

Bersama Ibu Walikota Lubuk Linggau, di SALIM Lubuk Linggau

Sebelum adzan Ashar menjelang, aku berkumpul bersama para fasilitator Salim untuk mengobrol dalam sharing session terakhir. Masih tentang dunia anak muda, aku mencoba bercerita bagaimana sih kondisi anak muda sekarang menurut pandanganku, serta bagaimana Sekolah dan Orangtuaku menanamkan mental juang di usia muda, demi melakukan penilitian ilmiah dan bisa mempresentasikannya di kancah Internasional.

Jika Inggris punya pribahasa, “Rome doesn’t build in a day,” Bahasa Indonesia punya “Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.”

Tidak ada yang pernah mengira aku bisa menjalani petualangan sejauh ini, ada banyak proses pembelajaran yang tentunya tak dapat kupelajari satu-dua hari, salah satunya adalah belajar mengelola sebuah kesalahan.

Sebagai mantan trouble maker, tak satupun hari dilewati orangtuaku tanpa catatan laporan seperti piring pecah, keran air patah, hingga anak orang yang nangis dengan kepala benjol. Aktivitas minta maaf tentu sudah akrab denganku sedari kecil, ketika suatu hari sebuah insiden terjadi, lantas melibatkan aku di dalamnya. Sengaja ataupun tidak, orangtua dan guruku pasti menyuruhku meminta maaf.

Walaupun ada kalanya mental pemberontakku ingin bilang, “Aku tidak salah!” Orangtuaku selalu sabar dan tegas memberikan pengertian, bahwa hanya pengecut yang tak bertanggungjawab atas kesalahannya.

Aku jadi teringat kisah lucu sang Panglima muda muslim, Mehmed II ketika muda. Melalui buku karya salah seorang Ustad dan Sejarawan Islam, Felix Y. Siauw, “Muhammad Al-Fatih 1453”. Dikisahkan Mehmed adalah seorang anak yang terkenal cerdas. Sebagai anak Sultan yang hidup di lingkungan kerajaan, dia selalu dikelilingi oleh ulama-ulama terbaik pada zamannya demi mempelajari berbagai disiplin ilmu, baik ilmu agama dan Al-Qur’an maupun ilmu lainnya, seperti Bahasa, Sains, juga teknik perang dan militer.

Kendati kecerdasannya begitu cemerlang, Mehmed memiliki sifat yang keras dan gemar melakukan sesuatu yang tak biasa, sehingga beberapa ulama mengaku sulit mengendalikannya. Mengetahui sifat anaknya itu, Sultan Murad II tidak marah, beliau malah berfikir itu adalah modal utama untuk buah hatinya itu belajar menjadi seorang pemimpin besar. Akhirnya beliau  memanggil syaikh pengajar yang paling bagus di masanya, untuk mengarahkan kekerasan watak Mehmed dan membentuk kepribadiannya. Salah satunya adalah Syaikh Ahmad Al-Kurani.

Ketika bertemu dengan Mehmed yang masih remaja, di tengah-tengah sebuah majlis Syaikh Ahmad Al-Kurani berkata kepada sang anak Sultan tersebut, “Ayahmu telah mengutusku untuk mendidikmu dan memukulmu bila engkau tidak menuruti perintahku.”

Mendengar ucapan itu, Mehmed tertawa dan menganggap itu hanya gertakan. Benar saja, seketika itu sebilah tongkat mendarat di tubuh Mehmed, hingga suara libasan yang amat keras membuat semua orang di dalam Majlis itu terdiam.

Aku dan patung replika Muhammad Al-Fatih di Museum Panorama 1453, Turki

Mulai saat itu, Mehmed II jera dan segan dengan gurunya itu. Dibawah tempaan Syaikh Al-Kurani, Mehmed menyadari kesalahannya, lantas mulai menata dirinya kembali. Menanamkan keyakinan yang selalu disampaikan oleh Syaikhnya itu bahwa perkataan Rasulullah, “Sungguh, Konstatinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya….” Itu ditunjukkan untuk dirinya.

Hingga tahun 1453 M, Mehmed II atau yang biasa kita kenal sebagai Muhammad Al-Fatih berhasil menjatuhkan benteng termegah di dunia, Konstantinopel dalam peperangan paling epik sepanjang sejarah.

***

Salah itu adalah hal biasa, bahkan terkadang kita hidup dan belajar hari ini dengan kesalahan yang pernah kita lakukan dahulu.

Selama 3 tahun ini menjalankan project bersama banyak orang, sering sekali aku menemukan teman-teman yang melayangkan pertanyaan konyol, seperti “Jadi, ini salah siapa?”

Ini bukan hanya pertanyaan yang menjengkelkan dalam sebuah diskusi, selain daripada itu juga menghina diri kita sendiri. Kenapa? Ketika kita berkomitmen berkolaborasi, terlebih dalam suatu project yang masing-masing anggota seharunya punya peran, pertanyaan semacam ini takkan memberi kesimpulan. Malah ini semakin menegaskan bahwa kita sebenarnya tidak punya kontribusi apa-apa dalam Team.

Kalau aku bilang ini salahku, memangnya kenapa? Tidak ada yang berubah, kecuali semua team mengevaluasi kekurangannya masing-masing, dan kembali meniti langkah kedepan.

Sosok sehebat Muhammad Al-Fatih saja pernah melakukan kesalahan, dengan tak mengindahkan ucapan gurunya. Lalu, apa daya kita yang masih menyiapkan diri dan belajar menjadi lebih baik?

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.