Izinkan Kami Mempermainkan Hatimu!

Ada ungkapan yang mengatakan: “Jangan pernah mempermainkan hati orang lain”.

Entah kenapa ungkapan itu selalu dikaitkan dengan hubungan, percintaan, dan kehidupan. Orang – orang lantas bilang, bahwa jika kita mempermainkan hati orang lain, hidup kita akan sempit, kita akan kena karma, dan sebaginya.

Padahal, menurutku tidak selebay itu.

Ya, aku paham perasaan itu menguasai fikiran dan jiwa. Tetapi pernahkah kau berfikir lebih jernih, bahwa dengan jago mempermainkan hati orang lain dapat mendatangkan karya yang brilian.

“Hmm…. Udah mulai ngawur lagi nih si Azzam..!”

Yee… Enak aja!

Tidak dikehidupan nyata. Tapi di dunia kepenulisan, dunia imaginasi yang bebas dan tiada batas.

Sebuah kisah atau cerita yang menjadi legenda, dibaca, diceritakan, bahkan dijadikan film dan ditonton jutaan orang di seluruh dunia. Mempunyai satu kelebihan yang sama.

Ingat Novel dan Film – film ini?

Moga Bunda Disayang Allah, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi, The Fast and The Furious, Mission Impossible, Serial 007.

Apakah kalian merasa bosan ketika membaca atau menonton karya – karya tersebut, sebelum ceritanya selesai? Adakah kalian tidak merasakan apa – apa ketika konflik di film atau novel tersebut mengombang – ambing membawa kalian?

Jawabannya tidak, film dan novel – novel itu begitu keren dan seru. Itulah kelebihan tersebut:

Mampu mempermainkan perasaan/hati orang lain.

Misalnya novel drama romantis. Jika penulisnya tidak pandai mengatur antara bagian yang sedih, lucu, dengan bagian yang romantis dan buat baper sesuai genrenya. Otomatis, novel itu takkan laku. Atau novel action adventure. Bila mana penulisnya tidak membuat bagian tertentu yang mengandung unsur komedi, drama, dan romantis. Jangan harap novel itu akan dikenal.

Cerita yang terbaik adalah cerita yang menimbulkan sejuta rasa. Cerita yang membuat degup jantung pembacanya tak keruan karena ketakutan, wajah mereka memerah karena marah, dan matanya sembab oleh letusan air mata yang tak terbendung.

Bagaimana caranya, agar kita bisa menciptakan cerita sesempurna itu?

Pertama

Jangan sungkan memasukkan pemikiran – pemikiran cerdas kita kedalam cerita yang kita karang, jangan malu membuat diri tersenyum – senyum sendiri karena menyisipkan unsur romantis ke dalam cerita, atau jangan buru – buru menghapus tetes air mata ketika menuliskan bagian menyedihkan.

Karena semakin kau hanyut di dalam ceritamu, begitu pula orang akan terbuai nanti ketika membacanya.
Ketika aku menulis ‘Laksana Bulan’, novel perdanaku. Segala perasaanku tertuang di sana, ketika proses kepenulisannya, aku pernah tertawa sendiri macam orang gila, dan nangis lebay kayak jones kena tikung. Tapi, jangan tertawa dulu, itu adalah hal yang normal. Bahkan tahukah kalian, saat itu aku (masih mau) memikirkan tentang menulis novel bergenre horror, tepat malamnya aku mimpi tentang hantu yang tadinya mau kujadikan tokoh utama.

Seram ‘kan? Asli. Sejak itu aku berjanji tidak akan pernah membuat novel bergenre horror hehehe….

Kedua

Jangan lupa, kawan. Jadikanlah sebanding antara unsur – unsur pembangkit cerita yang kita jabarkan tadi dengan genre cerita itu sendiri.

Bukan apa – apa, ini untuk menghindari kebingungan arah jalan cerita. Kalian pernah nontot Sinetron Indonesia? Mungkin di awal episode ceritanya keren, sedih, lucu, seru. Tapi lama – kelamaan coba perhatikan, ceritanya bakal muter – muter ditempat, konfliknya garing dan gantung tanpa solusi yang pasti.

Gimana mau buat kisah yang brilian kalau gitu? Pembacanya bingung, lah penulisnya lebih bingung lagi.

Nah, siap mempermainkan perasaan orang lain dengan karya kita? Buktikan segera!

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia