Jangan Salah Pilih Kampus!

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa At-Taqwa College Depok) — Jaringan Sekolah Alam Nusantara nampaknya harus menandai tanggal 27 Juni 2020 sebagai hari yang bersejarah. Pasalnya, setelah meramaikan dunia pendidikan tanah air selama dua dasawarsa, konsep Sekolah Alam yang digagas oleh Lendo Novo ini perlahan menunjukkan “hasilnya” dengan menghadirkan alumni siswa Sekolah Alam dalam forum EXPERT (Experience Talk). Forum ini menghadirkan tiga alumni dari Sekolah Alam: Maghfirah Rahmadiati, alumni Sekolah Alam Bogor – Mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang. Tisa Zakiyyah Rahmatika, alumni Sekolah Alam Indonesia – Mahasiswa Techische Hochschule Mittelhessen, German. Dan saya, alumni Sekolah Alam Medan Raya – Mahasiswa At-Taqwa College, Depok.

Selain membahas tentang pengalaman mengenyam pendidikan di Sekolah Alam, di forum ini, kami juga diminta untuk sharing tentang proses intelektual setelah lulus, atau dengan kata lain “kehidupan kampus”. Topik ini memang sengaja dipilih. Di tengah momen wisuda tahun ini, para lulusan SMA kini berhadapan dengan satu episode krusial dalam petualangan intelektualnya, yakni memilih kampus. Proses pemilihan ini nampaknya semakin berat, mengingat fenomena “salah jurusan” kian marak, dan senantiasa menghantui para calon mahasiswa. Tak heran, pertanyaan seperti “Bagaimana cara memilih kampus” memenuhi kolom pertanyaan, yang kemudian menjadi bahan diskusi menarik dalam forum online ini.

Meskipun memiliki latar belakang kampus yang berbeda, kami bertiga sepakat, bahwa yang terpenting dalam memilih kampus bukanlah nama atau tempatnya, melainkan apa yang akan kita pelajari di sana.

Kerap kali calon mahasiswa hanya melihat kampus dari luar, terbuai dengan nama besar, hingga lupa memerhatikan apakah kampus tersebut sejalan dengan visi kehidupannya. Satu yang menjadi kesamaan kami sebagai narasumber dalam forum ini, adalah mampu menemukan kampus yang relevan dengan apa yang sudah dijalani selama SMA.

Sebagai contoh, saya sejak SMA cukup aktif dalam bidang sosial dan pendidikan. Bahkan beberapa kali project penelitian yang saya tulis, membawa saya ke forum konferensi dunia. Maka, ketika saya memutuskan untuk memperkuat otoritas di kedua bidang tersebut, pilihan kuliah saya jatuh kepada Program Studi Pemikiran dan Peradaban Islam di At-Taqwa College Depok.  Ini merupakan substansi yang perlu diperhatikan. Sebab tanpa arah yang jelas, maka aktivitas perkuliahan hanya sekedar mengisi kekosongan, tak memiliki nilai dan ruh sama sekali.

Di sisi lain, seorang mahasiswa menyimpan harapan masyarakat. Keterlibatannya dalam dinamika sosial tentu adalah satu keharusan, mengingat mahasiswa sejatinya menanggung beban masa depan bangsa. Untuk itu, kampus yang dipilih seorang mahasiswa harus mengakomodasi ilmu yang tidak hanya relevan dengan visi hidupnya, tapi juga kebutuhan masyarakat.

Hal ini ternyata dilakukan oleh Maghfirah dan Tisa. Melihat pandangan buruk anak-anak terhadap Matematika, Maghfirah dengan kesenangannya di bidang angka dan logika, berani mengambil Studi Matematika Universitas Brawijaya yang merupakan salah satu Prodi Matematika terbaik di Indonesia. Demi mampu merumuskan satu model pendidikan Matematika yang mudah dan menyenangkan. Begitu pula dengan Tisa. Tersentuh dengan perjuangan para Dokter di Indonesia, ia nekat menempuh studi Teknik Biomedis di negara para ahli Teknologi, Jerman. Dengan harapan mampu berperan dalam pembuatan rekayasa medis dan instrumentasi kesehatan di tanah air.

Formalitas pendidikan kampus adalah sesuatu yang penting, tapi tidak menjadi yang utama. Sejak Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menerapkan kebijakan “Kampus Merdeka”, para mahasiswa harus menjadi seorang pembelajar sejati, dengan artian siap belajar apa saja. Mengapa demikian? Di era disrupsi saat ini, dunia berubah sangat cepat, bahkan hampir tidak terprediksi. Oleh sebab itu, dalam mempertahankan eksistensi diri dan tetap bermanfaat bagi masyarakat, para mahasiswa dituntut untuk “mendobrak” batas-batas formalitas dan linearitas dalam pendidikan tinggi. Dengan tujuan dapat memacu dirinya untuk memiliki daya belajar yang kuat, dimanapun dan kapanpun.

Ini bukan tidak mungkin. Sejak dahulu para tokoh-tokoh kita tidak membatasi diri mereka dalam satu keilmuwan saja. Haji Agus Salim contohnya, meskipun beliau dikenal sebagai Diplomat, otoritasnya di bidang agama dan filsafat tidak diragukan lagi, bahkan di samping itu ia menguasai 9 bahasa dan mengetahui perihal ekonomi serta budaya. Inilah yang disebut Prof. Wan – ilmuwan Muslim terkemuka – sebagai The Universal Man (al-Insan al-Kamil). Seorang yang disamping memiliki kepakaran di bidang tertentu, juga memiliki pengetahuan yang luas di bidang-bidang lainnya, sehingga mampu melihat sesuatu melalui berbagai dimensi.

Ini mengingatkan saya kepada pesan Dr. Adian Husaini, Direktur At-Taqwa College Depok kala saya dan mahasiswa beliau lainnya berkumpul di kampus. Pesan ini sangat bermakna, sehingga tak jarang menjadi pengingat dan pematik semangat selama menjadi Mahasiswa. Beliau mengatakan, “Ada tiga kunci untuk meraih ilmu. Pertama, hormati guru. Kedua, siap belajar apa saja. Ketiga, banyak berdoa kepada Allah untuk di buka hati dan fikirannya terhadap ilmu.”

Selamat berjuang berjuang rekan-rekan Mahasiswa!

Azzam Habibullah

28 Juni 2020