Kisah Cinta Sang Pendiri Bangsa

Nama Dr. Drs. H. Muhammad Hatta, sekalipun tak lekang oleh sejarah panjang bangsa Indonesia. Banyak sekali torehan perjuangan beliau dalam memerdekaan tanah air, merdeka secara pengakuan global, maupun merdeka secara ekonomi dan kesejahteraan. Bapak Perekonomian Bangsa, adalah sebutan yang boleh jadi tercetus di kepala kita ketika mendengar beliau. Namun pernahkah kita tahu, bahwa dibalik sosok sang pendiri bangsa ini, ada kisah cinta yang sanggup membandingkan rasa sayangnya terhadap tanah air.

“Cieee…” Hush! Ngapain lu cieein!

Penasaran? Ini dia.

***

Bung Hatta muda pernah bersumpah, tidak akan menikah sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya. Sumpah inilah yang merubah kisah cinta beliau awalnya begitu datar, dan hanya diisi oleh buku dan idealismenya. Sosok Bung Hatta muda yang cool dan cerdas, dengan tutur kata yang halus, serta wajah Asia-nya yang memikat, tak jarang membuat banyak gadis yang bertemu dengannya jatuh hati bukan main.

Tapi bagi Bung Hatta, cinta pada wanita adalah nomor dua. Sejak kecil dididik untuk menganut ajaran agama yang kuat oleh Ulama – Ulama besar seperti Muhammad Jamil Jambek dan Abdullah Ahmad, sehingga Bung Hatta tidak tergoda melakukan hal – hal yang tidak penting semacam itu. Karena ada hal yang jauh lebih prioritas dari itu, Indonesia bebas dari Penjajah.

Beliau mengambil kuliah di Handels Hogeschool (kini Universitas Erasmus Rotterdam) di Belanda. Bersama Organisasi “Perhimpunan Indonesia” beliau melakukan gerakan politik pertamanya. Hingga usia beliau menginjak kepala empat, beliau tetap berjuang tanpa henti, melakukan berbagai strategi politik dan melahirkan ide – ide revolusioner, seperi halnya konsep ‘Koperasi’ yang benar – benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat Indonesia.

Situasi ‘medan perang’ yang semakin sulit dan berbahaya, justru membuat sahabatnya Bung Karno merasa khawatir. Pasalnya menginjak usia 43, Bung Hatta belum juga mau memilih pendamping hidup. Tak mudah menggoyahkan janji Bung Hatta, beliau tetap bersikukuh tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.

Janji itu akhirnya terjawab, 3 bulan pasca bangsa Indonesia meraih kemerdekannya. Tepatnya pada suatu acara di Institut Pasteur Bandung, Tuhan yang maha kuasa, mempertemukan Bung Hatta dengan Bidadari pertama dan terakhirnya, Bu Rachmi. Walaupun perbedaan usia mereka mencapai 24 tahun, Bung Karno sendiri yang meyakinkan dan membujuk Bu Rachmi dan keluarganya supaya menerima lamaran sahabatnya itu, percaya dengan ketulusan dan kesederhanaan Bung Hatta, gadis 19 tahun itupun mengiyakannya.

18 November 1945, adalah tanggal dimana Bung Hatta menikah dengan Bu Rachmi. Sebagai tokoh besar yang berpengaruh kala itu, Bung Hatta justru memilih pesta pernikahan sederhana, yang dihadiri bukan hanya tokoh – tokoh besar lainnya, namun juga seluruh kalangan rakyat Indonesia. Satu hal lagi hal yang menarik dari pernikahan Bung Hatta, adalah ketika beliau memberikan Buku karangan “Alam Pikiran Yunani” sebagai mahar untuk Bu Rachmi, yang konon beliau tulis sejak masa – masa sulit dalam perjuangan menghadapi penjajah.

Setelah 35 tahun membina Rumah Tangga, Bung Hatta pun menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1980. Kembali menjalani 19 tahun lagi tanpa kehadiran Bung Hatta di sisinya, Bu Rachmi akhirnya menyusul beliau.

Menurut informasi, keduanya di makamkan berdampingan. Demi memberikan hadiah kepada kita, tentang sepotong kisah cinta sang pahlawan, yang menyempurnakan rasa cinta kepada ilmu dan tanah airnya lebih dulu, sebelum akhirnya bahagia dengan cinta – cinta yang lainnya.

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.