Kita Bisa Menebas Jarak Nusantara!

Bulan November saatnya kita bernostalgia tentang sejarah Indonesia. Mengingat kembali perjalanan segenap insan mulia yang sudah merelakan jiwa dan raganya demi kedaulatan Ibu Pertiwi.

Sebagaimana kita tahu, Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah pulau mencapai 16.056
dan luas hampir 1,9 juta m2! Wajar saja kita membutuhkan suatu transportasi yang mampu menjangkau dan menyatukannya. Yakni Pesawat terbang.

Mari menelusuri sejarah….

Belum banyak anak muda yang mengetahui bahwa Indonesia adalah bagian dari perkembangan teknologi Pesawat terbang dunia, dimulai dari tahun 1905 tepat setahun setelah Wright bersaudara berhasil menciptakan Pesawat pertama kali. Daerah Sukabumi telah menjadi lokasi percobaan tentara Belanda merakit pesawat dari bahan bambu dan kulit kerbau. Inilah yang menginspirasi VOC untuk mendirikan Technische Dienst Luchtvaart Afdeling atau lembaga penelitian dan produksi Pesawat terbang pada tahun 1923 di Sukamiskin, Jawa Barat.

Sebelum lembaga tersebut beralih ke tangan TRI (Tentara Republik Indonesia) bagian udara, muncullah para tokoh Insinyur perakit pesawat Indonesia, Akhmad Taslim dan Toslim yang sempat berkerja sama dengan pemerintahan Belanda. Lalu, pada 1935 menjadi pioneer terciptanya pesawat bermesin tunggal bernama PW1 dan PW2 yang mampu mencuri perhatian dunia karena berhasil terbang dari Indonesia menuju Belanda.

Tidak sampai disitu, pada masa akhir penjajahan Jepang, tokoh Dirgantara Indonesia yang terkenal, Adi Sutjipto bersama TRI menguasai fasilitas penerbangan milik pemerintahan para penjajah. Salah satunya adalah Lapangan Udara Maospati yang menjadi saksi bisu berhasilnya Adi Sutjipto memodifikasi Pesawat peninggalan Belanda, B-25 Mitchells dan membuatnya terbang jauh lebih baik. Serta meluncurnya pesawat Zogling dengan nama NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider), ciptaan Nurtanio Pringgoadisurjo yang mengegerkan dunia ketika pertama kali diperkenalkan kepada dunia yakni pada waktu pelatihan dan pendidikan militer di India pada tahun 1946.

Kesuksesan tersebut akhirnya menginspirasi tokoh Dirgantara lainnya, tahun 1947 giliran Wiweko Soepono yang mengharumkan nama bangsa Indonesia dengan menciptakan pesawat WEL-1 atau dikenal dengan RI-X dengan menggunakan mesin Harley Davidson pada waktu itu. Konon, beliau juga yang pertama kali merancang pesawat dengan dua orang pilot (awalnya dikendalikan 3 – 4 pilot) yang sampai detik ini digunakan oleh dunia penerbangan internasional. Sejak itulah perusahaan Airbus tertarik menggunakan sistem tersebut pada Pesawat A300-B4 FFCC milik mereka.

***
Bukankah ini semua luar biasa, kawan? Pernahkah kau berpikir bahwa pesawat yang selalu kau tumpangi ketika berlibur, yang menemanimu diatas udara melintasi belahan dunia adalah transportasi canggih yang dulunya di gagas oleh para pahlawan Dirgantara Indonesia?

Banggakah kita? Sayangnya belum.

Saat ini, pesawat asli karya anak bangsa belum terlalu bermanfaat langsung kepada rakyat Indonesia. Malah kita harus menelan pil pahit bahwa warga Indonesia lebih menyukai pesawat buatan luar, sementara Korea serta Negara – Negara lain telah banyak mengimpor dan menikmati pesawat yang diciptakan bangsa Indonesia.

Pemberontakan G30S/PKI, kekacauan politik ekonomi pada zaman orde baru, boleh jadi menghentikan sejenak pamor Dirgantara Ibu pertiwi. Tapi jangan biarkan kenangan buruk itu terus terulang hingga menahan kita untuk mendukung karya anak – anak bangsa, khususnya dibidang Kedirgantaraan.

Eits…jangan bersedih dulu. Kita masih punya satu lagi Ilmuwan ahli Pesawat Terbang yang tak kalah hebatnya, Eyang B.J Habibie. Beliau dalam waktu dekat berencana mengkomandoi proyek Pesawat Terbang, yang di beri nama R80 (Regional 80) bersama PT Dirgantara Indonesia. Proyek ini disponsori oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI), dan juga telah mendapat dukungan pemerintah, bahkan masuk dalam Program Strategis Nasional.

Tidak tanggung – tanggung, teknologi yang dipakai Pesawat R80 adalah teknologi paling mutakhir yang sengaja dirancang oleh Eyang B.J Habibie agar bersahabat dengan langit Ibu Pertiwi. Demi menjawab kebutuhan angkutan regional dan pasar Internasional pada tahun 2024.

Beliau tidak bisa bekerja sendiri, Proyek R80 membutuhkan dana yang cukup besar. Untuk itulah Eyang B.J Habibe dan tim PT Dirgantara Indonesia mengajak seluruh rakyat Indonesia berbondong – bondong untuk mendukung suksesnya proyek ini. Dengan sistem crowdfunding (patungan publik) yang disediakan situs kitabisa.com. Ayo! Sebagai bagian dari Indonesia tunjukkan bukti komitmenmu. Dukung karya anak bangsa demi perkembangan teknologi di Nusantara.
Bayangkan apa jadinya Negara sebesar ini tidak bisa membuat transportasi untuk dirinya sendiri, mau sampai kapan kita mengandalkan pesawat milik negara lain?

“…..Jika kita bisa membawa R80 menghiasi langit Nusantara, apapun kita bisa lakukan!”
B.J Habibie

Kita pernah menjadi salah satu raja Dirgantara yang disegani dunia, lalu apa alasan kita untuk berhenti melakukannya lagi?

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia!