Konsekuensi Perjuangan, Mampukah Kita Bertahan!?

Demo Mahasiswa 24 September

Fajar belum lama menyelimuti langit nusantara, namun sejuknya embun dan udara tak terasa indah kala itu, mati oleh suasana kelam. Menyusul agresi militer Belanda ke Indonesia yang dengan licik mengkhianati Persetujuan Renville yang telah ditanda tangani kedua Negara beberapa bulan yang lalu, tanggal 18 Desember 1948 rakyat Ibu Pertiwi kembali dipaksa melawan, mempertahankan kemerdakaan bagaimanapun caranya.

Jendral Soedirman tiba pagi itu di kediaman Presiden Soekarno dengan perasaan was-was, beliau tahu pasukan militer Belanda telah mengatur strategi untuk menguasai Bandara Maguwo (kini Adisucipto) pagi ini, hanya masalah waktu mereka akan menguasai Yogyakarta dan menangkap Presiden.

“Saya minta dengan sangat agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya akan meninggalkan kota ini dan masuk hutan.” Pinta Jendral besar itu kepada Presiden Soekarno dengan tegas.

Beliau ingin agar Presiden menghentingkan perjuangannya di jalur diplomasi, karena jelas negara tengah mengalami situasi genting saat ini. Sebagai seorang negarawan, Jendral Soedirman menilai upaya diplomasi yang dilakukan oleh Soekarno dan Muhammad Hatta sudah tidak ada gunanya lagi, oleh karena itu tidak ada jalan selain turun ke medan perang dan bergerilya menghabisi para pasukan Belanda itu bersama rakyat.

Akantetapi seperti yang terkenang dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2007), Presiden Soekarno menggeleng, beliau berkeras hati untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Beliau berpesan pada Jendral Soedirman, “Engkau seorang prajurit, Dirman. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukan pelarian untukku. Aku harus tinggal di sini sehingga memungkinkan aku untuk berunding dan memimpin rakyat kita semua.”

Tiada yang tahu seberapa kecewa Jendral Soedirman mendengar jawaban Soekarno, mengingat belakangan diketahui Presiden Soekarno pernah berjanji kepadanya untuk ikut mendampinginya dalam peperangan. Namun beliau paham ada kepentingan yang lebih besar selain permintaannya. Sehingga dengan berat hati beliau mengancungkan hormat, tanda menerima seutuhnya perintah dari Sang Pemimpin.

Perkiraan Jendral Soedirman tidaklah meleset, keesokan harinya pasukan Belanda mengepung kediaman Soekarno, dan menawan Presiden pertama di Indonesia itu untuk kesekian kalinya. Presiden Soekarno dan Jendral Soedirman bukanlah tokoh biasa, di balik keputusan mereka tentu ada berbagai konsekuensi yang harus mereka hadapi.

Tapi apa hasilnya?

Jendral Soedirman dengan starategi perang gerilyanya mampu melumpuhkan dan menekan pasukan militer Belanda. Meskipun dalam keadaan sakit keras, bahkan disebut-sebut hanya bernafas dengan satu paru-paru, tokoh organisasi Muhammadiyah tersebut masih bisa memimpin pertarungan selama 8 bulan. Menempuh jarak lebih dari 1000 km membelah belantara antara Jawa Tengah dan Jawa Timur

Sementara Presiden Soekarno yang masih berkeyakinan bahwa melalui jalur diplomasi ini bangsa Indonesia akan mendapatkan dukungan dari dunia Internasional, akhirnya benar – benar mampu menekan Belanda di panggung politik internasional. Pasalnya, dengan pilihan Soekarno bersama wakilnya Muhammad Hatta menyerahkan diri terhadap Belanda, peluang diplomasi di PBB lebih terbuka. Hingga pada 2 November 1949, lewat konferensi Meja Bundar serangan pihak Belanda dikecam oleh PBB, dan Republik Indonesia mendapatkan kedaulatan penuh sebagai negara yang merdeka.

***

Menghadapi konsekuensi dengan elegan adalah ciri khas orang hebat.

Itulah insight yang muncul dibenakku saat mengikuti kegiatan YAMC (Youth Academician Moslem Camp) di Istaid Center, Medan beberapa waktu yang lalu. Sebuah program training kepemudaan yang bertujuan memberikan wawasan dan semangat keislaman kepada para mahasiswa dari berbagai kampus di kota Medan.

Selama mendengarkan materi yang disajikan dalam training ini, aku belajar dalam konteks keilmuwan, ternyata setiap hal yang kita katakan dan simpulkan pasti memiliki konsekuensinya sendiri.

Aku bersama Peserta YAMC 7, Istaid Center Medan

Contohnya, jika aku menyatakan diriku beriman sebagai Muslim, artinya aku meyakini ajaran Nabi Muhammad SAW, dan senantiasa tunduk kepada aturan Allah ﷻ. Konsekuensinya adalah aku menolak semua ajaran selain agama Islam, dan percaya hanya agamakulah yang benar. Namun, sebagai orang Indonesia yang dituntut mengaplikasikan istilah ‘Bhinneka Tunggal Ika’, aku juga wajib menghargai semua keberagaman. Belajar bersahabat dengan harmonis tanpa harus menyamakan perbedaan, lantas merusak keberagaman itu sendiri.

Bicara tentang hubungan konsekuensi dan keyakinan. Aku teringat kisah Pak Ridho, seorang Programmar senior asal Indonesia yang bekerja di perusahaan computer Intel di Portland, USA.

2 tahun lalu saat aku menjadi salah satu delegasi untuk konferensi kepemudaan internasional di Amerika, rumah beliau pernah menjadi markas para delegasi Indonesia sebelum bertolak kembali ke tanah air. Beliau pernah bercerita, bahwa sering sekali rumahnya kedatangan para orientalis yang berniat menggoyahkan keimananya tentang Islam.

“Mereka datang dengan berbagai argument dan referensi yang luar biasa. Minggu ini mereka membahasa satu topik, jika itu terbantah, minggu depan mereka akan datang dengan topik baru,” ujar Pak Ridho saat itu.

Aku bersama Pak Ridho (pakai baju putih) di rumah beliau, Portland, Amerika Serikat

Beliau paham ini adalah sebuah perjuangan yang merupakan konsekuensinya sebagai Muslim, di tengah masyarakat Amerika yang bahkan tak mengenal agama. Beliau bersyukur memiliki banyak buku tentang pemikiran Islam, dan aktif belajar serta berdiskusi dalam kajian rutin yang di adakan komunitas muslim di sana. Sehingga wawasan keislamannya semakin meluas, dan imannya tak mudah goyah dengan permainan pemikiran.

Aku sempat bertanya mengapa dia menerima saja para orientalis itu untuk datang, Pak Ridho ternyata ingin mengajak mereka untuk berdialog lebih jauh, karena baginya konsekuensi menjadi Muslim juga adalah menebar manfaat bagi siapapun, dimanapun kita berada. Kita bukan sekelompok orang pengecut yang memilih untuk hidup tenang, tanpa berjuang untuk sesuatu yang akan menerangi kehidupan kita di akhirat nanti.

Karena hidup adalah sebuah perjuagan, dan perjuangan adalah seni dalam menjalani beragam konsekuensi.

Baik itu dalam perjuangan menegakkan keadilan, perjuangan menuntut ilmu, hingga perjuangan mencari kebenaran, tak lepas dari beragam konsekuensi yang berlomba menerjang kita tanpa ampun. Tidak ada kata lelah dan kalah dalam perjuangan, hanya berani atau tidak mengambil konsekuensi yang ada.

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.