Kutemukan Cinta Pertama Tapi Bukan Yang Terakhir

Mendapat jatah liburan selama 3 hari pasca Konfrensi Internasional CEI 2017 di USA yang kuikuti, benar – benar aku dan teman – teman dari Delegasi Indonesia manfaatkan semaksimal mungkin. Setelah sebelumnya berkeliling di ibu kota Oregon State, Portland. Sesuai kesepakatan bersama di Indonesia, kami memutuskan untuk bertualang ke Kota Seattle.

Sekilas, Kota Seattle adalah salah satu Kota Industri di Amerika Serikat. Semacam ‘Belawan-nya’ Amerika hehehe. Tapi meskipun terbilang kota Industri, suasana disana tidaklah panas, bau ataupun bising. Melainkan amat bersih, tertib, dan sejuk.

Jika iya Kota ini seamburadul kota Industri Indonesia, Raja Perusahaan Pesawat Amerika ‘Boeing’ tidak akan mau membangun pabrik pusatnya di sini, atau Pak Bill Gates tidak akan sudi mendirikan perusahaan Microsoft dan tinggal di kota ini.

Ya, kota ini memang menyimpan banyak kejutan bagiku. Selain banyak Komunitas Mahasiswa dan warga Indonesia muslim di Kota cantik nan asri ini. Seattle ternyata menyimpan tempat yang menjadi mimpi dari para pencinta Kopi modern di seluruh dunia.

The First Starbucks Store.

Barisan manusia sepanjang puluhan meter menyambut, jepretan sinar kamera saling mengadu, begitu penuh sesak seolah seorang bisa mati terhimpit diantara beragam jenis tubuh dari seluruh muka bumi dan takkan pernah keluar. Hanya untuk menikmati secangkir kopi.

Bukan main aku menggeleng melihat pemandangan itu. Belum lagi ketika berhasil memasuki pintu dan melirik daftar menu kopi yang disediakan, seketika rasanya aku ingin membanting sesuatu.

Sulit di percaya, toko ini hanya menawarkan beberapa macam kopi siap jadi dengan harga yang sama seperti outlet-nya di Indonesia. Tapi stop jangan senang dulu, karena sesungguhnya yang mereka jual adalah aneka cinderamata dan kopi – kopi utuh yang parahnya hanya tersedia di toko ini!

Aku yakin, pasti kau juga. Jika toko kecil nan sempit itu tidak pernah menjadi saksi perjuangan para pendiri Starbucks dalam merintis usahanya. Tidak akan ada orang yang mau berdesakan demi segelas kopi pahit atau cinderamata limited edition berlogo putri Starbucks.

Hmm.. Tak habis pikir. Pernah gak sih bertanya – tanya, mengapa Starbucks itu begitu terkenal? Sampai – sampai nongkrong di Café Starbucks merupakan standardisasi pergaulan anak muda level menengah atas di Indonesia. Bingung gak sih? Bukankah itu tak lebih cuma kios kopi, apa istimewanya?

***

Orang bijak bilang, cinta yang terbaik adalah cinta yang pertama sekaligus yang terakhir. Tapi dalam prinsip Starbucks, mereka menolak kalimat itu.

Mereka mencintai langkah pertama mereka menuju kesuksesan, ya toko kecil nan sempit yang kubilang barusan. Tetapi mereka tidak menjadikannya itu yang terakhir. Mereka tak pernah berpuas diri, karena kalian bisa lihat ribuan Starbucks telah menjalari seluruh Negara di planet ini.

Itu menyiratkan sebuah pelajaran pada kita semua.

Langkah pertamamu diatas jalan panjang menuju keberhasilan, ibarat cinta pertama yang indah. Sekecil, sekonyol, atau segila apapun itu. Dia tetaplah sebuah titik awal yang akan menyemangati dan menemanimu hingga kata sukses telah menghampiri.

Sayangilah ia dengan ide – ide liar yang inovatif, peluklah ia dengan terus belajar, buat ia rindu ingin datang padamu ketika kau jatuh dan berusaha bangkit dari keterpurukan.

Tetapi seindah – indanya cinta pertama, akan menjadi lebih luar biasa jika itu tidak menjadi cinta yang terakhir.

Jangan berhenti kala kau telah memasuki zona nyaman, jangan lupa untuk berkembang, luaskan jaringanmu, cari tantangan, tingkatkan potensi dan asah kemampuanmu kelevel selanjutnya.

Nanti suatu hari, bukan hanya kau bisa memanfaatkan cinta pertamamu untuk terus menghasilkan keuntungan, kau juga akan mengatakan apa yang mungkin dikatakan pendiri Starbucks saat ini:

“Sudah kutemukan Cinta pertamaku, dan telah kupastikan dia bukan yang terakhir.”

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.