Literasi Untuk Menggapai Mimpi dan Iman

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku “Hikmah Sejarah untuk Indonesia Berkah”) — Pada Sabtu lalu (13/06/2020), Media Kelas Bersama Kita kembali mengadakan forum sedekah ilmu bertajuk “Literasi Membawaku Meraih Mimpi”. Memasuki episode ke 11, Kelas Bersama Kita mengundang saya untuk mengobrol dan berbagi tentang literasi. Forum ini disiarkan secara live melalui platform Youtube, dan disaksikan oleh ratusan guru, orang tua, dan anak muda dari seluruh Indonesia.

            Dalam forum ini, saya menjelaskan bahwa literasi adalah kemampuan yang penting dimiliki saat ini. Dalam Jurnal pendidikan Word Economic Forum tahun 2018, para ahli pendidikan dan sosiolog dunia menampilkan 16 kemampuan yang harus dimiliki generasi muda untuk menghadapi abad 21. Menariknya, salah satu kemapuan yang dianggap fundamental adalah foundational literacies, yang kemudian dibagi dalam 6 literasi dasar: literasi baca-Tulis, literasi numerasi, literasi ilmiah, literasi teknologi, literasi finansial, serta literasi kebudayaan dan kewargaan.

Literasi jelas bukan sekedar membaca. Lebih dari itu, literasi adalah sikap bijak terhadap informasi, baik dalam mendapatkan, mengolah, hingga menyampaikan informasi itu dengan sebuah karya. Untuk menjelaskan hal ini lebih jauh, saya menguraikan aktivitas literasi yang biasa saya lakukan dalam proses belajar. Aktivitas ini terbukti efektif, sampai akhirnya mimpi saya mewakili Indonesia di pentas dunia terwujud.

Pertama adalah Curiosity (Rasa keingintahuan). Aktivitas ini adalah cara saya untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya informasi, baik melalui buku maupun dengan bertanya kepada guru dan orang tua. Kedua, Exploration (Eksplorasi). Setelah mendapatkan informasi, saya membuktikan informasi tersebut dengan eksplorasi di lingkungan sekitar. Aktivitas ini berguna untuk memicu jiwa keilmuan dalam diri, sehingga informasi tersebut tidak hanya berhenti di kepala, tapi juga termanifestasi dalam sebuah pengalaman yang berkesan.

Kemudian, yang ketiga adalah Critical Thinking (Berfikir kritis). Demi menghindari kesimpulan yang keliru, ada kalanya eksplorasi membutuhkan sebuah penalaran yang baik, atau yang biasa saya sebut sebagai pengolahan informasi. Masalah tidak akan tergali sempurna bila tidak dikritisi dengan baik, maka dari itu dengan sifat kritis, seseorang dapat memosikan diri kepada kebenaran, sehingga dirinya dapat menentukan solusi yang terbaik.

Terakhir adalah Reflection (Refleksi). Aktivitas ini jelas mengilhami ketiga aktivitas di atas. Sebagai seorang Muslim, saya selalu berdoa kepada Allah agar dibukakan hati dan fikiran dalam proses mencari ilmu. Sebab dengan memaknai informasi yang ada di sekitar, saya dapat menumbuhkan keimanan untuk dekat dengan Allah dan terus menginspirasi banyak orang.

Lantas apa hasilnya jika empat aktivitas itu dijalankan? Tentu adalah karya.

Salah satu karya literasi yang saya tunjukkan kepada khalayak adalah buku “Hikmah Sejarah Untuk Indonesia Berkah”, yang merupakan buku terbaru saya yang mengupas berbagai peristiwa sejarah Indonesia dan pemikiran tokoh-tokoh besar dibaliknya. Saya sangat merekomendasikan buku ini kepada para anak muda dan pencinta sejarah yang menonton forum ini. Dengan membaca buku ini, Insya Allah akan menjaga kebangaan akan sejarah bangsa dan mampu melihat sejarah dengan persepektif yang benar dan adil.

Selain itu, di sesi terakhir forum, sebagai bentuk uraian yang lebih jauh lagi atas keempat aktivitas tersebut, saya juga menampilkan sebuah project penelitian saya berjudul, “Tuntungan Ground Board Game: An Educational Game to Improve Young People’s Concern for the Environment in a Big City”. Project ini adalah environmental education game, yang merupakan jawaban atas keingintahuan saya bagaimana game dapat menjadi media pembelajaran yang relevan di era saat ini.

Eksplorasi yang saya lakukan terhadap project ini adalah membuat sebuah game yang mengandung unsur pengetahuan tentang lingkungan di dalamnya, kemudian memainkannya bersama para anak muda. Project ini jelas tidak bersih tanpa kritik, berulang kali hal-hal teknis di dalam game ini dibuang karena dinilai tidak menarik. Namun beberapa diantaranya tetap saya pertahankan dengan memodifikasinya agar tetap mengandung pembelajaran tanpa memicu kebosanan. Sampai akhirnya, game ini rampung dan menjadi salah satu project yang banyak mendapat perhatian delegasi lain dalam konferensi Caretakers of the Environment Internasional di Turki tahun 2019. Proses penciptaan game ini benar-benar memberikan hikmah kepada saya, betapa Allah menciptakan Alam sebagai ilmu yang tiada habisnya untuk dipahami dan diajarkan.

Begitulah makna literasi dan aplikasinya yang sampaikan selama 1 jam dalam forum tersebut. Sebagai penutup, saya menegaskan bahwa literasi sejatinya adalah menanamkan budaya ilmu ke dalam diri. Informasi yang ada di alam sekitar akan menjadi ilmu yang bermanfaat bila ia didapatkan dari sumber yang baik, diolah dengan penalaran yang benar, dan disampaikan atau diajarkan dengan cara-cara yang menginspirasi orang lain. Tidak berhenti sampai disitu, jika kita mampu mengubah ilmu itu menjadi keimanan, maka kita tidak akan sekedar menjadi ilmuwan, tapi juga meraih derajat tinggi sebagai “orang-orang yang berakal”.

 Sebagaimana firman Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam terdapat tanda – tanda (kebesaran Allah) bagi orang – orang yang berakal. (Yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engaku menciptakan semua ini sia – sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (Ali-Imran: 190-191)

***

            NB. Insya Allah, dalam waktu dekat saya akan meluncurkan secara resmi buku “Hikmah Sejarah untuk Indonesia Berkah” (Depok: YPI Attaqwa, 2020) Info, hubungi DIFA BOOKS 081-8111-2253 atau BU ILA 0813-9620-0313.