LOST IN THE USA: Hanya Hilang, Bukan Tidak Ada

Kedua orang tuaku pernah memberikan sebuah kejutan hebat padaku, sebuah tiket pesawat ke Ibukota. Belum setahun aku mencicipi Sekolah Menengah Pertama, ketika orang tuaku bilang aku akan pergi berpetualang sendirian, hanya bersama selembar tiket dan sebuah koper. Perasaan luar biasa itu menggebu dalam jiwaku. Bak seekor Elang kecil yang diizinkan bebas mengudara melibas angin, penerbangan itu adalah penerbangan paling berkesan dalam hidupku.

Dimana istilah ‘berpetualang’ itu walaupun dilingkupi segala macam kekhawatiran, tetap saja memantik semangat yang membara, menjadi candu yang siapa mengira menjadi modal bagiku mengumpulkan mimpi dan kekuatan, hingga mampu menapakkan kaki di belahan dunia lainnya.

Semua orang memiliki sensasi ‘berpetualang’ yang berbeda, ada yang merasa adrenalin-nya terpacu dengan mendaki gunung, ada yang merasa tertantang diajak tour dengan sepeda motor melintasi pulau, ada pula yang hobi menggembel di negara orang demi travelling dengan budget super murah. Yap, semua orang bisa berpetualang dengan gaya dan hobinya sendiri, namun hanya petualang sejati yang bisa menjadikan petualangannya sebagai ranah pembelajaran hidup, yang dapat mengenalkannya kembali, siapa dirinya dan siapa pencipta-Nya.

Kok gitu? Buku “LOST IN THE USA” ini jawabannya.

Beberapa minggu lalu perkenalanku dengan Pak Fathi Bawazier, sang penulis sekaligus tokoh utama dalam buku ini benar–benar tak pernah direncanakan. Pak Fathi bilang dalam bukunya, “ﷲ itu penulis skenario terbaik”, maka tak heran tokoh sekeren beliau bisa tiba – tiba duduk di sebelahku dalam sebuah forum Seminar di Jakarta. Dari pertemuan singkat itulah, beliau menghadiahiku buku karyanya dengan satu syarat, aku akan membuat satu tulisan khusus untuk buku tersebut.

***

 ‘LOST IN THE USA’, berkisah tentang seorang Anak Muda asal Bogor bernama Fathi yang sering di panggil ‘Anak Garpu’ karena gaya dan tingkahnya yang badung sedari kecil. Bulan Agustus 1987, dia menguji habis jiwa mudanya, dengan nekat merantau ke Los Angeles demi mencari pekerjaan. Tekadnya yang ingin menjadi orang yang berilmu dan mempunyai nilai jual tinggi, mengajak kita terjun ke petualangan gilanya, menaklukkan Kota Hollywood yang asing nan gemerlap.

Berbekal seadanya, tanpa kerabat, tanpa internet. Fathi muda benar–benar mendefinisikan dengan jelas apa yang dinamakan petualang sejati, berawal dari OB, pengantar Pizza, kasir minimarket. Siapa yang menyangka, perjalanan penuh keringat, tangis, bahkan mempertaruhkan nyawa selama 3 tahun lamanya. Mengantarkannya menjadi seorang Manager di Mobil Oil Corporation di Los Angeles. Dan mimpinya untuk menjadi orang yang berilmu, terwujud, dengan beasiswa ke Universitas impiannya.

***

Aku terdiam beberapa menit, ketika pandangan mataku tiba di lembaran terakhir buku ini. Terkesima bukan hanya karena setiap detik yang terjadi di buku ini adalah rangkaian kisah nyata yang mengagumkan. Tapi pemahaman – pemahaman keren dari sang Anak Garpu, alias Pak Fathi Bawazier sendiri lah yang membuat buku ini out of the box dari buku–buku perjalanan hidup biasa.

Jika kita sering mendengar buku – buku motivasi yang membicarakan tentang kepercayaan diri, mindset sang pemenang, melawan rasa takut, dan sebagainya. Dalam Buku “LOST IN THE USA”, Pak Fathi mencoba menyampaikan semua teori itu hanya dalam satu kalimat sederhana,

“Kepercayaan penuh terhadap ﷲ, Sang Pencipta.”

Saat menginjakkan kaki pertama kali ke Negeri Paman Sam, beliau sempat terlunta – lunta mencari pekerjaan, nama Islam yang masih asing di telinga masyarakat Negara Superpower itu sempat membuat rezekinya nyaris tidak jelas halal dan haramnya.

-Namun satu yang kusuka dari seorang Fathi muda, adalah perjuangannya untuk bertabayyun dengan alim Ulama setempat, mendekatkan diri dengan Masjid, lantas istiqomah dalam jalan ﷲ. Dia tidak ingin terpengaruh budaya pemikiran barat, yang menganggap doa dan ibadah Shalatnya hanyalah budaya omong kosong para penganut Agama.

Karena bagi seorang petualang sejati seperti beliau, dunia ini milik ﷲ, Los Angeles juga milik ﷲ, tidak ada kehilangan yang lebih menakutkan baginya, kecuali kehilangan keyakinan dan harapan terhadap pertolongan ﷲ.  Itulah sebabnya ayat – ayat Qur’an, hadist Rasulullah ﷺ, serta kalimat dzikir, senantiasa menemani petualangannya dan terangkai indah di dalam buku ini.

Cukup menjelaskan, bahwa bukan petualangan namanya, bila tidak ada rasa syukur yang hinggap di setiap inci perjalanannya, yang mampu membuat Iman semakin kuat, dan diri semakin bersemangat.

Salam Anak Muda HEBAT Indonesia.