Marvel vs DC: Pertarungan Omong Kosong Yang Berarti

Hari yang biasa, waktu yang sama saja, ketika aku membuka timeline Instagram.

Dari ribuan photo yang tercecer di media social tersebut, kutemukan satu photo dari suatu akun yang cukup terkenal belakangan ini. Pemiliknya seorang anak muda gaul penghafal Al – Qur’an, anak Ustad kondang bersuara khas yang tentu kalian tak asing lagi dengan namanya.

Kutahu dia adalah penggemar fanatik dari salah satu klub bola Inggris, Chelsea dan juga penggila film – film aksi dari DC . Karena selain menyebarkan postingan dakwah, dia juga sering membagikan video cuplikan gol dan trailer – trailer film terbaru.

Kebetulan hari itu dia membagikan photo tentang acara nobar “Justice League”, film terbaru produksi DC di sebuah bioskop. Bilik komentar penuh bukan main, emoji – emoji love beterbangan, tanggapan – tanggapan bersemangat bermunculan. Melihat itu, akupun iseng mengetik komentar.

“Film Justice League sih ngikut Avengers kan?! Hahaha…”  Tulisku ngasal, sambil kekeh sendiri tanpa merasa bersalah.

Dasar! Aku tak tahu, komentarku ini akan menjadi pemicu perang antara 2 kubu bebuyutan, penggemar DC dan penggemar Marvel.

“DC adalah perusahaan film kartun yang lebih dulu lahir daripada Marvel. DC selalu terdepan dalam hal film, game, dan action figure, sedangkan Marvel hanya pengekor yang beruntung! Cih!” Kata kubu dari DC.

Seolah tak mau kalah, kubu Marvel balik menantang, DC sudah kalah terkenal dari dulu dengan Marvel woy! Lalu, siapa bilang Marvel tak menguasai industri lain selain perfilman? Asal tahu saja, teknologi yang dipakai film Marvel lebih canggih daripada DC dan lebih menguntungkan! Lihat aja ranting bintangnya berapa di dunia!”

Aku bingung, sangat bingung. Tiada yang salah sebenarnya dari ini semua. Walau dari sudut manapun ini pembahasan omong kosong yang tak penting, tetapi aku ingin tahu satu hal, mengapa obrolan ini terasa berarti bagi sebagian manusia? Toh, mereka bukan siapa – siapa di kedua perusahaan film itu, siapa peduli mereka suka atau tidak suka, senang atau marah, membela atau diam saja?

Obrolan tak berfaedah ini, adu dalil antara informasi fakta dan hoax ini, pertarungan yang takkan berkesudahan ini. Sebenarnya membuat kami, penulis – penulis muda Indonesia, pewaris sastra kebanggaan Republik Indonesia merasa khawatir.

Bisakah kami melawan kisah – kisah dari barat, dan mendapatkan euforia penggemar seperti itu?

Apa yang harus kami lakukan? Agar kalian, rakyat Indonesia mau menikmati sedikit karya kami, bukan karya Negara lain.

Kami tahu banyak yang harus kami benahi di dunia kepenulisan fiksi Indonesia.

Diantaranya ide kami yang belum terlihat liar dan original, masih dibayangi oleh kerangka cerita lama yang telah basi. Dramatisasi berlebihan pada cerita, yang sering membuat kalian bosan. Menampilkan kisah horror serta percintaan yang tidak bermutu. Juga menciptakan kisah yang beralur jelek, serta tak menyiratkan makna dan kesan apa – apa bagi kalian.

Maafkan kami, atas kesalahan – kesalahan itu. Karena, apapun yang terjadi. Kami akan berusaha meraih hati kalian, berharap melihat mata indah kalian yang terkesima, dan kehangatan tepuk tangan kalian yang membanggakan.

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.