Masih Ging ging Juga Ternyata!

FTV Indonesia tidak pernah belajar mencari cerita yang bagus dari masa ke masa. Sebut saja FTV legend “Tukang Bubur Naik Haji”, penderitaan sang tukang bubur baik hati tak sekalipun dibarengi dengan strateginya dalam menarik pembeli, serta membungkam pedagang bubur lain yang kerap mensabotase barang dagangannya.

Rasa – rasanya FTV itu menyiratkan bahwa pedagang sabar nan sholeh itu tidak cerdas, lihat saja sudah berulang kali pesaing lain menjatuhkannya dengan mudah, tetap saja dia urung mencari cara untuk melawan dan mengatasi masalahnya.

***

10 tahun silam, orang tuaku mengadakan seminar pendidikan di sebuah Hotel. Demi meramaikan acara, aku yang dari dulu hobinya berjualan, membawa Jagung mentah hasil panen Sekolah ke area bazar.

Di Hotel, jualan Jangung?

Ya, persis seperti di fikiran kalian, itu ide yang aneh dan tidak ada satupun yang bahkan meliriknya. Jujur, aku tak mau pulang sebelum barangku habis. Kuambil beberapa bungkus  Jangungku, lantas berkeliling seantereo Hotel demi mengejar pembeli. Walaupun tidak sampai habis, metode jualanku sukses mengundang banyak senyum dan tawa. Membuat satu-dua pembeli bahkan membayar lebih banyak dari harga Jagung itu.

Sejak terjun ke dunia kepenulisan, sudah lama aku tidak bermain bersama jualanku sendiri di lapangan, saat kegiatan siswa/i Rumah Literasi ILA Education di hari pembukaan MTQ Nasional ke 28 di Medan, aku sudah menjadi Fasilitator. (silahkan baca “The Ging – Ging Man!”).

Merasa tertantang melihat hasil kurang memuaskan mereka, ditambah strategi mereka yang gagal, dan komunikasi yang mandek. Aku bertekad menunjukkan pada mereka bagaimana seharusnya berjualan itu, tak tanggung – tanggung kutargetkan kurang dari 1 jam sisa dagangan yang kami punya habis.

Kumulai petualangan dengan observasi sekilas kepada para pengunjung, menawarkan dagangan kepada semua target market. Kulihat itu tidak membuahkan banyak hasil. Mengingat daganganku adalah makanan ringan, aku memilih memfokuskan target marketku. Pertama: kepada anak – anak kecil, Kedua: Panitia acara dan Polisi, dan Ketiga: anak muda usia kira – kira lebih dari 18 tahun yang sedang ngaso.

Kenapa? Anak – anak kecil suka cemilan, kebanyakan orang tua tidak akan menolak membelikannya asalkan itu murah dan bersih. Kalian tidak tahu bagaimana letihnya mengurus event besar dengan jumlah pengunjung mencapai ribuan, mereka butuh cemilan untuk sekedar mengganjal perut.

Lalu apa pasalnya dengan muda – mudi  usia lebih 18 tahun? Jika usia mereka kurang dari itu, kebanyakan masih duduk di bangku Sekolah dan uang jajan mereka sedikit, kecil kemungkinan mereka akan membeli. Tapi jika usia mereka berkisar lebih dari angka itu, kebanyakan mereka kuliah atau sudah memiliki penghasilan, rasa malas dan lapar mereka ketika tengah ngaso sambil menunggu cuaca yang kebetulan gerimis, memudahkanku untuk ‘menodong’ mereka dengan daganganku. Sehingga antara bahagia dan terpaksa, mereka akan tergiur, dan akhirnya mengeluarkan uang dari dompet.

Bum! Semua teman – teman Rumah Literasi melongo, sisa dagangan mereka yang dari tadi pagi tak kunjung laku, lenyap dan berganti dengan lembaran uang di tanganku.

Hahaha… (tawa jahat).

Mengamati dan melakukan sesuatu yang melebihi orang lain, adalah hal yang identik dengan The Ging – Ging Man. Bila kita terus terperangkap dengan metode membosankan layaknya FTV “Tukang Bubur Naik Haji” di era disruption ini, kita akan musnah oleh idealisme kita sendiri.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!