Membina Atau Tersingkir, Pilih Yang Mana?

Meski sudah muncul di layar lebar setahun yang lalu, Cars 3 Film kolaborasi antara dua Studio Animasi ternama dunia, Disney dan Pixar benar – benar membuatku jatuh hati. Bagaimana, tidak? Teknik Animasi 3D yang terlihat nyata, sound effect yang menarik, hingga alur cerita yang rapi dan tak tertebak, mewarnai sekuel terakhir dari serial kartun yang mengangkat tema kisah dunia Mobil ini.

Gak asyik memang kalau belum nyebarin spoiler hehehe…

Di Film ini, Lightning McQueen sang mobil balap tokoh utama di serial ini tengah berada di puncak karirnya. Namun, konflik terjadi saat para pembalap muda mulai muncul menyingkirkan para pembalap lama, termasuk McQueen. Kekuatan dan teknologi canggih yang mereka miliki, membuat McQueen frustasi dan bahkan tidak bisa menahan emosinya hingga terpental keluar dari arena balapan.

Setelah insiden itu, sponsor McQueen memutuskan mendatangkan pelatih muda bernama Cruz Ramirez untuknya, serta mengizinkannya ikut balapan lagi. McQueen pun mencoba berlatih lebih keras, mencoba mencari jawaban kekalahannya dengan mendatangi kampung halaman almarhum pelatihnya, Doc Hudson dan sahabat karibnya demi mendapatkan motivasi untuk meraih kemenangan kembali.

Akan tetapi, takdir berkata lain, McQueen sadar dia sudah tua dan tidak akan mampu lagi mengalahkan para pembalap muda.

Namun, sebagai pembalap senior McQueen melihat Cruz Ramirez ternyata memiliki potensi menjadi pembalap bukan sekedar pelatih. Akhirnya McQueen memutuskan banting setir demi melatih Cruz dan menjadi mentor wanita muda itu di arena balapan, hingga anak didiknya itu berhasil membalaskan ambisinya untuk meraih Piala terakhirnya di kancah balapan mobil.

***

Seru dan bikin haru, itulah kata yang bisa menggambarkan Film ini. Tapi, bukan azzamhabibullah.net bila mengulas hal tanpa makna, seperti dalam Film Cars 3 yang membuat kita mengetahui bahwa:

Generasi lama hanya punya dua pilihan menghadapi generasi muda: Membina atau tersingkir.

Fakta membuktikan. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010 – 2035 menyatakan, ada 69,4 juta penduduk berusia muda (dibawah 45 tahun) di Indonesia pada 2025. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan pada 2015 sebesar 66 juta orang. Jadi, dalam kurun waktu tersebut, Indonesia mengalami bonus demografi dengan jumlah umur produktif lebih banyak dari usia lanjut. (Harnas.co)

Bukankah ini semua adalah kesempatan yang bagus?

Kita sebagai anak muda tidak akan bisa dihapuskan oleh generasi yang lama. Camkan itu! Ketika dunia bergulir dengan cepatnya. Mudah bagi kita untuk menyingkirkan mereka, mengalahkan kehebatan mereka, atau membuat mereka terlupakan.

Hanya saja kita tidak mungkin menghadapi masa depan sendiri. Kita tidak punya pengalaman seperti mereka, belum pernah merasakan jatuh-bangun seperti mereka, tak sekalipun menahan pahit getirnya kehidupan selayaknya mereka berjuang dahulu.

McQueen belajar untuk merasakan kemenangan dari gurunya Doc Hudson, namun seiring bertambahnya usia dia pun melatih Cruz Ramirez untuk merasakannya pula. Begitulah yang namanya Regenerasi.

Kita generasi muda butuh untuk dibina, dilatih, dan diarahkan oleh generasi lama agar mampu meraih pengalaman dan kemenangan. Bukan selalu harus dihakimi dan dikritisi.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!