Memimpin Indonesia, Catatan Safari Dakwah Tuan Guru Bajang

Jum’at lalu, aku mendapatkan kesempatan hebat.

Ikut mengawal Tuan Guru Bajang Dr.H. Muhammad Zainul Majdi, Gubernur NTB dengan segudang prestasi yang juga seorang Ulama dan Hafiz Al – Qur’an. Bersafari dakwah, bersama IPI Sumut (Ikatan Pesantren Indonesia), di beberapa Kota (Kabupaten) di Sumatera Utara. Diantaranya: Medan, Tanjung Gading (Inalum), Batu Bara (Lima Puluh), dan Asahan (Kisaran). Dalam acara bertajuk ‘Shubuh dan Tabligh Akbar’.

Antusiasme masyarakat begitu luar biasa, gema takbir menembus langit, doa dan dzikir mengundang syadu. Ribuan Jama’ah yang banyak terdiri dari berbagai Ormas Islam memadati lapangan serta Masjid – Masjid yang di datangi Tuan Guru, begitu khidmat dan bersemangat, menyampaikan salam dan berdialog hangat bersama ulama kebanggan Indonesia ini.

Tutur kata yang halus, bahasa yang santun, dan penyampaian yang simpel namun cerdas. Ketiganya dimiliki oleh ulama karismatik yang satu ini. Seolah menjadi magnet tersendiri bagi tiap mata dan telinga yang memerhatikannya.

Ketika Tuan Guru ditanya oleh seorang Jama’ah, bagaimana menjadi Pemimpin yang mampu menerapkan konsep Islam ditengah masyarakat.
Beliau menjawab. Pertama, jangan pernah mengira konsep Islam tidak dijalankan di negara kita, karena sebenarnya sebagian besar undang – undang kita meniru dari konsep Islam. Kedua, selain tugas pemimpin adalah menerapkan perundang – undangan tersebut, yang tak kalah penting dilakukan pemimpin adalah membangun kesadaran kolektif ditengah masyarakat.

Allah telah memberi contoh, bagaimana proses tersebut dijalankan. Seperti pada saat proses pelarangan khamar (minuman keras) pada zaman Rasul. Allah tidak langsung melarang hal itu. Tetapi mewahyukan perintah atau langkah – langkah kecil lewat Rasulullah kepada masyarakat Makkah kala itu, seperti tidak boleh masuk Masjid dalam keadaan mabuk, sampai pelarangan sempurna.

Dengan proses yang halus namun berkesinambungan itu. Timbul kesadaran yang di inginkan dari dalam diri masyarakat Arab, bahwa minuman keras itu tidak baik dan langsung meninggalkannya tanpa menolak. Begitu pula proses dakwah Islam Rasulullah yang terbagi dalam beberapa tahap, itu juga bagian dari membangun kesadaran kolektif yang nantinya akan membumi dalam hati orang – orang Islam.

Kita tahu, Tuan Guru Bajang adalah seorang Gubernur 2 periode yang sangat dicintai rakyatnya. Nah, ini menarik jika bertanya bagaimana beliau menegakkan Toleransi sebagai seorang ulama sekaligus Gubernur, di tengah kondisi isu SARA yang berkembang di Nusantara ini?

Dan jawaban beliau benar – benar menenangkan hati, “Kita berislam bukan berarti sesuka hati menghakimi orang kafir. Tetapi menaungi mereka dalam tuntunan dan ajaran yang Islami.”

Rasa kasih sayang, kepedulian, keadilan, ketegasan. Bukankah itu yang diajarkan Rasulullah pada kita sebagai Khalifah di muka bumi ini. Perlihatkanlah pada mereka Islam yang sesungguhnya, tetapi bukan berarti membiarkan mereka bertindak semena – mena pada kita.

Karena makna memimpin Indonesia bagi Tuan Guru adalah menjadi perintis sebuah gerakan kesadaran.

Tuan Guru bilang, apa yang dilihat manusia mempengaruhi 70% kepribadian manusia itu sendiri. Jika kita tidak memulai mengukuhkan diri untuk menjadi panutan, atau tidak ada generasi yang melihat kita menjadi seorang penggerak berubahan.

Mau sejuta nasehat kita sampaikan, Indonesia akan tetap kelam selamanya.

“Seberapa kacaunya Indonesia kini, dengan pemerintah dan permainan politiknya. Jangan pernah lupa untuk bersyukur, karena Nusantara yang indah ini, adalah sebuah amanah dan anugerah Allah yang tentu tak dimiliki oleh bangsa lain”

KHTGB.DR.H. Muhammad Zainul Majdi, Lc, MA

Tanjung Gading, Agustus 2017

Salam dariku Untuk Anak Muda Indonesia.