Mempertemukan Kedua Hati

Serangan dingin akhirnya menembus lapisan selimut itu. Belasan tahun tinggal di Kabupaten Deli Serdang yang terbilang kota panas dan lembab, membuatku rasanya ingin mati melihat suhu dini hari itu mencapai 7 Derajat Celcius. Tidak sampai disitu, ketidakseimbangan waktu antara siang dan malam yang menyelimuti Eropa, melepaskan gangguan Insomnia padaku di 3 hari pertama berada di sini.  Jujur jika tidak karena harus bangun Pukul 3, demi Shalat Shubuh dan Mandi, rasa lelah dan denyut kepala ini pasti berhasil menggodaku kembali ke tempat tidur.

Memilih Military Base sebagai lokasi berlangsungnya Konferensi, CEI 2018 telah memberikan kesan sendiri bagiku. Lain seperti tahun lalu di USA, tahun ini suasana kehangatan dan kebersamaan begitu kental. Konferensi CEI tahun ini kulihat lebih mengajak dan mengarahkan seluruh Negara untuk mempertemukan Hati mereka masing – masing. Dengan saling berbagi ide, cerita, dan Ilmu.

Itu kubuktikan saat hari Project Presentation tiba.

Ditemani para Mentor dan Guru, 25 Delegasi JSAN dari Indonesia berkumpul di Lapangan, dengan ber-Batik ria seolah akan bertandang ke Istana. Sepatah kata peluap semangat disampaikan, dilanjutkan dengan Doa demi mengharapkan yang terbaik pada Allah.

Kami tersebar bersama beberapa kelompok yang sudah ditentukan oleh Panita, bergabung dengan Tim Delegasi lain dari penjuru Dunia. Aku yang seharusnya ikut dengan Tim dari Sekolah Alam Palembang, ternyata di pisah ke ruangan Presentasi yang lain.

Boleh jadi ini kali kedua aku menyampaikan Project Ilmiah di Konferensi CEI, tentu rasa khawatir dan grogi itu masih sesekali menghinggap. Apalagi untuk kedua kalinya pula Elisabeth Burn, President of CEI hadir mendengarkan kelompok Presentasiku.

Meksiko, Turki, USA, Polandia, satu per satu menampilkan Project Presentasi mereka. Aku yang duduk paling depan, sesekali bertanya dan mencatat.Hingga tiba waktunya giliran aku yang berdiri di depan. Memulai presentasi dengan bacaan Bismillah.

Di akhir presentasiku, beberapa orang bertanya dengan penuh antusias, termasuk Elisabeth yang dari awal begitu tertarik dengan Projectku.

Sedikit kewalahan menjawab pertanyaan yang mengarah terlalu ilmiah, seperti dampak dari sisi Psikologis bagi koresponden, langkah perumusan Project ini menjadi sebuah Kurikulum Sekolah sebagaimana Visinya, dan lain – lain yang bahkan aku gak paham apa maksudnya. Tapi Alhamdulillah aku selalu punya cara untuk menjelasakan dan menjawab, meskipun ya apa adanya hehehe.

Setelah sesi Presentasi usai Mentor dari Tim USA, Meksiko, dan Polandia mengajakku untuk mengobrol dan berdiskusi.

Kaget? Sudah pasti. Awalnya aku ingin lebih banyak mendengar. Namun para Dosen dan Professor itu seperti ‘memaksaku’ untuk setidaknya mengucap beberapa kata.

Mentor dari Tim USA yang kebetulan memiliki Project yang mirip denganku begitu mengapresiasi usahaku untuk menyederhanakan sebuah Project yang seharusnya rumit. 2 jempol dari Tim Meksiko untuk Projectku karena mengambil isu Internet benar – benar membuatku tidak berhenti tersenyum.

Sementara Mentor dari Tim Polandia walau kelihatannya galak tapi begitu seksama mendengarkanku bercerita tentang kurangnya edukasi akan kesadaran lingkungan di Indonesia padahal SDA-nya sungguh tak terhingga.

Mempertemukan hati, itulah yang selalu kuingin lakukan ketika bertemu, belajar, dan menyebarkan ide kepada orang yang baru. Ini mungkin bukan perkara mudah, tapi jika kita mampu menyamakan hati atau fikiran kita dengan orang lain, kita akan mampu mengendalikan pembicaraan, membuat apa yang kita katakan didengar oleh setiap orang.

Bukankah itu tugas seorang Future Leader?

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!!