Menangkal Penyakit Isti’jal (Tergesa-gesa) di tengah Umat

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa STID Muhammad Natsir) — Awal Oktober lalu, masyarakat Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut Jawa Barat dihebohkan dengan isu bai’at Negara Islam Indonesia. Suherman, Lurah Sukamenteri menyebutkan bahwa isu ini mencuat setelah seorang warganya mengaku kalau anaknya yang berusia 15 tahun mengalami penyimpangan aqidah. Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri diturunkan untuk menanggulangi isu ini. Pasca dilakukan penyelidikan lebih dalam, Densus 88 kemudian menangkap dan menginterogasi 59 orang anggota yang didominasi oleh para pemuda tanggung, dan beberapa orang tua. 

“Mereka ini diduga masuk NII setelah dibaiat oleh seseorang. Yang masuk kebanyakan masih anak-anak, ada juga orang dewasa dan orang tua. Berdasarkan pengakuan sejumlah anak yang mengaku dibaiat, salah satu doktrin yang diberikan adalah menganggap pemerintah RI thogut,” ungkap Suherman.[1]

Menariknya, pasca diinterogasi, Suherman mengatakan sebagian besar anggota yang diba’iat tidak memahami secara jelas ideologi apa yang mereka anut, dan apa tujuan mereka sebenarnya. Mereka hanya melayangkan apa yang didoktrinkan pada mereka, tanpa memiliki argumentasi yang kuat terhadapnya. Salah satu pemuda yang diinterogasi melaporkan apa yang ia dapatkan: “Baiat hijrah katanya, dari Islam kita seperti biasa, dia bilang Islam kita nih gelap, jadi hijrah ke tempat yang terang, NII itu, menurut versi mereka NII itu terang! [2]

Kasus NII di Kabupaten Garut ternyata bukanlah hal baru. Pada tahun 2007, seorang ekstrimis, Sensen Komara mengaku telah mendirikan NII di tanah Garut. Aktivitas kelompok ini kembali muncul setahun setelahnya, di mana mereka mengibarkan bendera merah putih bergambar bulan bintang berukuran 2×240 cm di halaman rumah Sensen.[3]Selain terus dipelajari gerak-gerik kelompoknya, kini para anggota kelompok yang didirikan oleh Kartoesoewirjo ini mendapatkan binaan dari berbagai pihak, yang terdiri dari Majelis Ulama Indonesia, Pemerintah Daerah (Pemda) Garut, Bahayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyakarat (Bhabinkamtibnas), Kodim dan Bintara Pembina Desa (Babinsa).[4]

Di luar dari berbagai kontroversi tentang dugaan ba’iat ini, berita di atas menunjukkan bahwa penyakit isti’jal(tergesa-gesa) masih menggelayut dalam akal-jiwa sebagian umat ini. Ekstrimisme tidak saja lahir dari dorongan eksternal, tetapi juga kerusakan dari pikiran dan jiwa seorang muslim. Terburu-buru dalam memandang, menyimpulkan, dan menindak sesuatu tanpa ilmu yang benar adalah tidak diperbolehkan dalam Islam. Dalam konteks di atas, menyikapi ketidakhadiran Islam sebagai dasar negara Republik Indonesia, tidak serta-merta menjustifikasi umat Islam untuk buru-buru melakukan tindakan non-konstitusional, selayaknya mendirikan negara dalam negara. 

Isti’jal Sebagai Penyakit Jiwa

Jika ditinjau dari segi bahasa, isti’jal dalam bahasa Indonesia dapat diistilahkan dengan ‘tergesa-gesa’, sehingga makna yang sama juga dinisbatkan kepada sinonimnya, yakni ‘ajalah, dan tasarru’. Lawan dari kata isti’jal adalah anaahdan tatsabbut, yang berarti ‘pelan-pelan’ atau ‘tidak terburu-buru’. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan bahwa tergesa-gesa, dalam konteks ini, adalah keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebelum tiba waktunya. Hal ini disebebkan oleh besarnya keinginan seseorang kepadanya, sebagaimana keinginan untuk memanen buah sebelum datang waktu ranumnya.[5] Sayyid Muhammad Nuh menerangkan isti’jal sebagai berikut: 

Keinginan merubah keadaan kehidupan ummat Islam dalam waktu yang singkat atau sekejap mata tanpa mempertimbangkan akibatnya, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi serta tanpa persiapan yang matang dengan segala metode dan sarananya.[6]

Islam mencela pemeluknya yang memiliki sifat isti’jal, sebagaimana mewanti-wanti mereka untuk menjauhi sifat dan berlambat-lambat dalam sesuatu. Peringatan ini selaras dengan sifat manusia yang disinggung dalam firman Allah Swt:“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.”[7] Sifat ini memang kerap hinggap di dalam diri manusia. Misalnya dalam hal membaca al-Qur’an. Allah Swt mengingatkan manusia untuk tidak terburu-buru dalam melantunkan kalam-Nya, sebagaimana firman-Nya: 

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya”.[8]

Maksud dari ayat di atas tentu saja bukan sekedar peringatan untuk membaca al-Qur’an dengan tartil, tetapi juga mencakup bagaimana sikap seorang muslim dalam mendengar dan mencermati ayat-ayat al-Qur’an. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman terhadal al-Qur’an itu sendiri, yang bisa jadi berbuah tindakan yang ‘mendahului’ Allah dan Rasul-Nya. Senada dengan itu, Allah Swt juga memperingatkan: 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[9]

Itulah mengapa Rasulullah Saw mengafirmasi jawaban dari Mu’adz bin Jabal ke Yaman, yang ketika ditanya: “Bagaimanakah solusimu jika engkau menemui masalah?” Sahabat yang mulia itu menjawab bahwa ia mengetengahkan petunjuk al-Qur’an dan As-Sunnah terlebih dahulu sebelum ijtihad pribadinya, itu pun jika tidak menemuka solusi atas masalahnya.[10]

Sikap tergesa-gesa juga dikabarkan Rasulullah Saw bisa timbul dari ketidaksabaran manusia dalam menghadapi musibah, sehingga dia lalai dalam berdoa kepada Allah. Padahal, Ahmad Farid mengatakan sabar dan pertolongan adalah saudara kandung[11], di mana Allah selalu bersamanya[12], dan Dia lah yang menentukan kepemimpinan agama pada seseorang bergantung pada kesabaran dan keyakinannya.[13] Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: 

“Seorang hamba akan senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah Jalla wa ‘Ala selama dia tidak berdoa yang mengandung kezaliman, tidak memutuskan tali silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa. Kemudian ada sahabat yang bertanya, ‘Apa yang dimaksud tergesa-gesa di sini, wahai Rasulullah?” Lalu beliau menjawab, ‘Aku telah berdoa, aku telah berdoa, tetapi mengapa aku melihat tanda doaku dikabulkan? Sehingga dia Lelah dalam berdoa dan meninggalkan doanya tersebut.”[14]

Ath-Thabari menegaskan untuk tidak tergesa-gesa dalam menentukan sebuah keputusan, baik dalam peperangan maupun dalam perkara keagamaan. Ibnu Qayyim menyebut sifat tergesa-gesa adalah dari setan, sebab dampaknya yang dapat menghilangkan ketenangan dan kewibawaan manusia, serta lebih mendekatkan kepada keburukan. Beliau menegaskan:

“Sifat tergesa-gesa adalah dari Setan. Sejatinya sifat tergesa-gesa juga merupakan sikap gegabah, kurang berpikir dan berhati-hati dalam bertindak. Yang mana sifat ini menghalangi pelakunya dari ketenangan dan kewibawaan. Dan menjadikan pelakunya memiliki sifat menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan mendekatkan pelakunya kepada berbagai macam keburukan, dan menjauhkannya dari berbagai macam kebaikan. Dia adalah temannya penyesalan. Dan katakanlah, bahwa siapa saja yang tergesa-gesa maka dia akan menyesal.”[15]

Menangkal Isti’jal

Ketika keinginan yang dilandasi oleh nafsu tanpa ilmu bertemu dengan ketidaksabaran atas pertolongan Allah, maka sifat isti’jal akan muncul di dalamnya. Ibnu Qayyim dalam kitab Tazkiyyatun Nafs-nya, menjelaskan bahwa hawa nafsu tidak berdiri sendiri dalam melakukan keburukan, kecuali disertai dengan kebodohan. Sebab jika ia mengetahui bahwa sesuatu itu berbahaya dan berdosa untuk dilakukan, maka ia akan lantas menolak untuk mengerjakan hal tersebut. Allah menciptakan jiwa manusia untuk senantiasa mencintai hal yang berbau manfaat, dan membenci sesuatu yang mendatangkan keburukan. Oleh sebab itu, tidak heran jika beliau mengatakan kalau seseorang mengerjakan sesuatu yang berbahaya misalnya, maka hal itu disebabkan oleh kelemahan pikirannya.[16]

Untuk itu, peran pendakwah di sini begitu penting dalam memahamkan kepada ummat bagaimana meletakkan sesuatu kepada tempatnya (adab), di mana hal itu hanya bisa dilakukan dengan ilmu, bukan dengan bias-bias emosional apalagi tindakan kekerasan. Sebagaimana hadits yang diriwayakan oleh Abdurrahman ibn Abu Bakrah:Abu Bakrah menulis surat untuk anaknya yang ketika itu berada di Sijistan yang isinya: Jangan engkau mengadili diantara dua orang ketika engkau marah, sebab aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Seorang hakim dilarang memutuskan antara dua orang ketika marah.” (HR Bukhari).

Sekelas Imam al-Ghazali saja, ketika menjadi “hakim” atas aliran-aliran pemikiran pada masanya tidak tergesa-gesa dalam berfatwa, dan memutuskan melakukan pengamatan yang mendalam terhadap aliran-aliran tersebut. Apa yang beliau lakukan adalah semata-mata menghindari taklid dan segala doktrin yang menyeleweng dari syariat Islam. Terkait upaya intelektualnya, al-Ghazali menuturkan dalam otobiografinya: 

“Saya juga tidak menjumpai filosof kecuali bermaksud memahami intisari filsafatnya. Begitu juga ahli Kalam, kecuali saya berusaha keras agar menelaah puncak argumentasi dan dialektikanya. Demikian juga kaum Sufi, kecuali saya menelisik rahasia inti ajarannya. Juga saya tidak menjumpai ahli ibadah kecuali saya mengamati yang mereka dapatkan dari ibadahnya. Kaum zindiq yang ateis juga tidak saya jumpai kecuali saya memeriksa sesuatu di balik mereka, agar mewaspadai kelancangan mereka dalam kezindiqan-nya dan keateisan-nya.”[17]

Ketergesa-gesaan dalam menentukan perkara, misalnya dalam persoalan menegakkan Negara Islam di atas, tidak hanya keluar dari koridor konstitusi tetapi juga tidak sejalan dengan apa yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Islam untuk negeri ini. Sikap isti’jal semacam ini memang adalah ujian yang luar biasa di jalan dakwah. Ini bisa terjadi ketika cita-cita menegakkan kedaulatan Islam tidak dibarengi dengan kesabaran untuk menempuh perjalanan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah Saw.[18] Padahal, ajaran Islam pada hakikatnya telah sukses menaungi dasar negara ini, seperti yang dikatakan oleh M. Natsir:

“Perumusan Pancasila adalah hasil musyawarah antara para pemimpin-pemimpin pada saat taraf perjuangan kemerdekaan memuncak di tahun 1945. Saya percaya bahwa di dalam keadaan yang demikian, para pemimpin yang berkumpul itu, yang sebagian besarnya adalah beragama Islam, pastilah tidak akan membenarkan sesuatu perumusan yang menurut pandangan mereka, nyata bertentangan dengan asas dan ajaran Islam…. Bagaimana  mungkin, Quran yang memancarkan tauhid, akan terdapat a priori bertentangan dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa?”[19]  

Bahkan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Situbondo, Jawa Timur, 16-21 Desember 1983 memutuskan: (1) Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang-undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam. (2) Bagi Nahdlatul Ulama (NU) Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia. (3) Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya. 

Pada prinsipnya, umat Islam adalah umat pertengahan (ummatan wasathan). Hal ini disebut Nabi Saw dalam sabda beliau yang berbunyi: “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama itu melainkan pasti ia (agama) akan mengalahkan orang itu. Maka bersikap lurus, moderat, dan sikapilah dengan gembira (lapang dada).”[20] Berdasarkan hadits berikut, tentu merupakan kewajiban bagi para pendakwah untuk memberikan pemahaman kepada ummat untuk tidak terpengaruh kepada sisi ekstrim, baik kanan maupun kiri. Salah satu yang bibit ekstrimisme yang mesti diatasi di tengah umat adalah penyakit isti’jal dalam menegakkan syariat agama. Yang pada gilirannya membawa pada sikap ekstrim yang membahayakan dirinya dan orang lain. 

Oleh sebab itu, Hamid Fahmy Zarkasyi, seorang ulama terkemuka, mengatakan untuk berpikir dengan benar sebagai muslim pertama-tama harus dapat memahami syariat Islam dengan baik sebagai sebuah sistem tazkiyatu al-nafsyang mempunyai tujuan (maqasid). Menurut Rektor Universitas Darussalam ini, syariah, aqidah, dan akhlak harus diterapkan secara integral. Beliau menuliskan:

“Jika seseorang telah memahami aqidah dengan benar maka keislamannya akan meningkat menjadi ahlaq yang dijaga dengan ketaqwaan. Maka dari itu orang yang berakhlak mulia itu mestinya tidak hanya amalam syariatnya yang sempurna, keimanannya yang kokoh serta perilakunya (amalnya) yang shaleh, tapi juga pikirannya yang lurus, benar dan tidak keluar dari konsep-konsep yang terdapat dalam syariat, akidah, dan ahlak.” [21]

Semangat membela Islam tentu harus dibarengi dengan keilmuwan yang mumpuni sembari mempertimbangkan realitas di masyarakat, itulah akhlak seorang muslim. Yusuf Qaradawi menegaskan bahwa tindakan-tindakan ekstrim itu berasal dari lemahnya pemahaman tentang hakikat agama (dha’ful-bashirati bihaqiqatid-din). Terkait hal ini, Ulama asal Mesir itu mengatakan, Yang saya maksudkan bukanlah kebodohan mutlak tentang agama. Kebodohan yang macam itu biasanya tidak memunculkan sikap ekstrem bahkan boleh jadi memunculkan sikap sebaliknya: tidak punya pegangan dan lumer. Yang saya maksudkan justru sepotong ilmu yang dengannya pemiliknya merasa sudah masuk ke dalam kelompok ulama.”[22]

Artinya, dalam hal ini kelompok ekstrim seakan memperjuangkan Islam, padahal sejatinya mereka terjebak dalam hawa nafsu dan kesombongannya sendiri. Tugas para pendakwah memang terkesan cukup berat untuk menyadarkan mereka tentang hal ini, namun bukan berarti kita pantas untuk menyerah atau justru bertindak keras dan tidak argumentatif dalam melawan mereka, sebab Allah telah membimbing kita dengan firman-Nya: 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.[23]


[1] https://www.merdeka.com/peristiwa/densus-88-dalami-dugaan-baiat-anggota-negara-islam-indonesia-di-garut.html

[2] https://regional.kompas.com/read/2021/10/09/171517378/5-hal-soal-kemunculan-nii-di-garut-diduga-baiat-59-anak?page=all

[3] https://nasional.tempo.co/read/1514783/polri-telisik-dugaan-baiat-warga-garut-oleh-kelompok-negara-islam-indonesia

[4] https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/438574/heboh-baiat-nii-di-garut-59-warga-dapat-pembinaan

[5] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Hakekat Ruh, (Jakarta: Qisthi Press, 2015)

[6] Sayyid Muhamad Nuh, Afat ‘Ala At Thariq, (Kairo: Daar al Wafa, 1416 H), hlm 57

[7] Al-Isra’: 11

[8] Al-Qiyamah: 16-19

[9] Al-Hujurat: 1

[10] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad Al-Kabir, (Beirut : Muassasah ar Risalah, 1421 H), 36/333 hadits ke 22007 

[11] Ahmad Farid, Tazkiyatun Nafs: Belajar Membersihkan Hati Kepada 3 Ulama Besar, (Solo: Taqiyah Publishing, 2010), hlm. 107

[12] “Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)

[13] “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah: 24)

[14] HR Bukhari

[15] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Hakekat Ruh, (Jakarta: Qisthi Press, 2015)

[16] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Jiwa dan Menjernihkan Hati dengan Akhlak yang Mulia, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2021), hlm. 165

[17] Akhmad Rofii Damyati, Agar Tak Salah Jalan: Otobiografi Intelektual al-Imam al-Ghazali, (Surabaya: INPAS, 2020), hlm. 52

[18] Sayyid Muhammad Nuh, Terapi Mental Aktivis Harakah, (Jakarta: Pustaka Mantiq, 1996), hlm. 81

[19] Disampaikan oleh Moh. Natsir pada saat peringatan Nuzulul Quran, Ramadhan 1373 (Mei 1954). Ungkapan Natsir ini penulis kutip dari presentasi Dr. Adian Husaini berjudul: “Bagaimana Berislam dan Berindonesia Secara Adil”

[20] HR Bukhari

[21] Hamid Fahmy Zarkasyi, Minhaj: Berislam, dari Ritual hingga Intelektual, (Jakarta: INSISTS, 2020), hlm. 197-198

[22] Yusuf QardhawiAsh-Shahwah al-Islamiyyah Bainal-Juhud Wat-Tatharruf, (Beirut: Muassasah Ar Risalah, 1996), hlm. 64.

[23] An-Nahl: 125