Menggurui vs Memperbaiki

Bulan Ramadhan adalah waktu yang paling pas bagi umat Muslim buat memaksimalkan amal ibadah. Faktor lingkungan yang sekonyong-konyong berubah menjadi Islami, selalu sukses ‘memaksa’ siapapun agar lebih dekat dengan agama dan Tuhannya. Kendati dinilai euforia musiman, tak dapat dipungkiri Ramadhan senantiasa mengundang kerinduan di setiap tahunnya.

Salah satu kegiatan yang kerap dilakukan saat Ramadhan, adalah Tadarus Al-Qur’an. Di Desaku, kegiatan ini biasa diselenggarakan oleh Badan Kemakmuran Masjid. Setelah shalat tarawih, sejumlah jamaah baik tua dan muda berkumpul membentuk beberapa kelompok, duduk bersila menghadap rehal, dengan tongkat penunjuk legandaris di tangan.

Kebanyakan anak-anak yang ikut Tadarus adalah anak pengajian, atau anak-anak yang rumahnya bertetanggaan dengan Masjid. Mereka lebih memilih ikutan Tadarus, daripada kena jewer emaknya yang lagi asyik nonton sinetron di rumah. Jika bukan anak pengajian, kemungkinannya hanya 2. Emang anaknya rajin, atau anak ‘sholeh’ yang datang cuma ngincar semangka, kue klepon dan teh manis.

Demi menghindari kericuhan, seringkali anak-anak digabungkan bersama orang tua dalam kelompok yang sama. Pertama kali ikutan kegiatan ini waktu SD, aku dan teman-teman sekolahku sedikit canggung karena didampingi oleh beberapa orang tua, yang usianya bahkan melampui orang tua kami. Sebab, sudah menjadi cerita horror di kalangan anak-anak, kalau para orang tua di Masjid itu terkenal galak dan cerewet.

Satu per satu aku dan teman-temanku bergiliran membaca Al-Quran. Beberapa temanku seketika tertunduk diam, saat salah satu orang tua menyalahkan bacaan Al-Qur’an mereka yang terbata-bata. Suara beliau memang tidak terlalu keras, tapi itu sudah lebih dari ampuh membuat teman-temanku menelan ludah.

Tiba giliran para orangtua membaca. Tidak ada satupun anak yang berani berbicara, antara khusuk menyimak atau ketakutan dipelototin, semua bercampur menjadi satu.

Namun, tiba-tiba di tengah bacaan salah satu orang tua, aku menemukan sedikit kejanggalan dalam bacaan beliau. Punya Nenek seorang guru ngaji, dan Mama yang pernah mengajar di Sekolah Islam, membuatku agak sensitif dengan hukum Tajwid, dan paham betapa pentingnya membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Karena aku selalu diingatkan, jika satu hurufnya saja salah, maka maknanya pun salah.

“Pak, maaf. Itu salah,” ucapku sambil membacakan kembali ayat tersebut.

Kesalahannya ada pada huruf Idzhar, beliau tanpa sengaja mendengungkan bacaannya ketika salah satu huruf tersebut bertemu dengan Tanwin, setahuku itu keliru. Kukira tidak ada salahnya memperbaiki sedikit, toh semuanya sedang belajar, bukan?

Namun tanpa kusadari, semua orang di dalam kelompok tersebut sontak melihatku dengan tatapan aneh. Lantas seseorang bapak paruh baya yang duduk didekatku, menepuk pundakku lantas meletakkan telunjuknya di bibir, “Ssst!” Serunya sembari memperlihatkan wajah yang tak senang. Lalu tanpa merasa perlu mengulangi ayat yang menurutku salah, bapak tadi yang sedang membaca terus melanjutkan bacaan Al-Qur’annya hingga selesai.

Aku benar-benar bingung, apa aku melakukan kesalahan?

Sesampai di rumah, aku menceritakan kejadian itu kepada kedua orangtuaku. Mereka hanya tertawa, yang tentu membuatku semakin bingung. Akantetapi, mereka berkata sesuatu yang hari ini menjadikanku tersenyum simpul ketika menulis cerita ini.

“Abang gak salah kok.”

***

Menggurui dan Memperbaiki, adalah kata kerja yang sama-sama memiliki tujuan untuk menanggapi sesuatu yang salah. Namun, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada suatu yang unik di antara dua kata ini.

Jika ‘Menggurui’ bermakna menjadikan dirinya sebagai guru (dengan mengajari, menasihati, dan sebagainya), contoh yang disajikan KBBI ternyata menunjukkan kata ini terkesan tidak menyenangkan bagi orang lain. Sebaliknya, kata “Memperbaiki” bermakna cukup luas, yakni membetulkan, baik itu kesalahan maupun kerusakan, maupun menjadikannya lebih baik, lebih bagus, lebih rapi, atau sebagainya.

Ketika kekeliruan membaca Al-Qur’an itu aku tanggapi, lantas aku perbaiki dengan bacaan yang benar. Aku tidak salah. Hanya saja, aku harus sadar semua orang memiliki persepsi yang berbeda, mungkin aku berfikir aku sedang memperbaiki, padahal orang lain tidak suka karena aku seperti mengguruinya.

“Lah, jadinya gimana? Apa kita diam aja dengan kesalahan?”

Ya enggak dong. Kita tak punya kuasa merubah hati orang lain, tapi kita bisa menjaga hati kita sendiri. Kita harus bertahan dengan apa yang kita yakini benar, dan menolak setiap kesalahan yang ada dengan cara yang tepat.

Bukan dengan tujuan untuk menggurui, tapi dengan hati yang tulus berusaha untuk memperbaiki.

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.