Meninjau Isu Transgender: Dari Psikologi Barat ke Perspektif Gender Islami

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa At-Taqwa College Depok) — Jagad maya pada 7 Juni 2020 dihebohkan dengan tweet seorang penulis terkenal, J.K Rowling yang dianggap merendahkan kaum transgender. Dilansir oleh asumsi.co, semua bermula ketika Rowling mengomentari suatu artikel yang berbicara tentang dampak pandemic terhadap orang yang menstruasi. Dalam komentar itu, ia menyindir penggunaan istilah “orang yang menstruasi” yang dinilainya tidak pantas ditulis, karena itu menyangkut hal-hal biologis dari gender tertentu. Komentar ini ternyata memicu kembali perdebatan lama: Apakah transpuan yang notabene tidak memiliki aktivitas biologis khas perempuan dapat dianggap sebagai perempuan? Perdebatan ini cukup sengit di ranah studi gender. Bahkan di kalangan pendukung feminis-liberal, terjadi perbedaan argumentasi tentang pernyataan ini.

J.K. Rowling sendiri dalam satu essaynya menyampaikan bahwa ia tidak nyaman dengan kehadiran para Transgender di lingkup khusus perempuan. Sebagai seorang yang aktif menyuarakan perlindungan atas kekerasaan seksual, baginya transgender (terutama transpuan) adalah ancaman bagi kaum perempuan. Penulis serial Harry Potter ini  juga mengkritik pemerintah Skotlandia yang hendak melonggarkan pra-syarat perubahan akte kelahiran bagi transgender. Menurutnya, peraturan itu tidak masuk akal, sebab berkat itu laki-laki tulen sekalipun bisa mendapatkan identitas perempuan seenaknya[1].

Menjawab tuduhan Rowling tersebut, Victoria Rodriguez-Roldan, seorang aktivis gender mengatakan bahwa menjadi transgender tidaklah mudah. Menurut data yang ia miliki, ia melihat para Transgender sering mendapat tindakan diskriminasi, baik di bidang perumahan, ruang pribadi, maupun professional, sehingga mereka rentan terhadap kemiskinan, kekerasan, dan persoalan mental. Masalah ini menurutnya berakar dari lingkungan, dimana kebanyakan masyarakat enggan memberikan pengakuan, dan “memaksa” mereka untuk hidup sesuai gendernya.

Beberapa aktivis feminis juga berpendapat demikian. Mereka menuduh J.K Rowling sengaja memojokkan transgender dengan dalih perlindungan kekerasaan seksual, padahal menurut mereka tidak ada hubungannya antara kekerasaan laki-laki ke perempuan terhadap transgender. Singkatnya, mereka yang pro terhadap pengakuan transgender ini ingin mengingatkan, bahwa hak-hak kemanusiaan tidak boleh digugat, dan cukup transgender saja yang boleh mendefinisikan diri mereka sendiri.

Perdebatan ini menarik, karena dari dua argumen di atas dapat disimpulkan bahwa transgender yang berasal dari Barat sebenarnya masih memiliki segilintir permasalahan. Hak asasi manusia yang kerap digaungkan Barat, nampaknya belum bisa menawarkan solusi atas problematika gender ini. Terbukti masayarakat Barat sampai sekarang masih bingung bagaimana meletakkan kaum transgender di tempat yang tepat: apakah menolaknya dengan konsekuensi menciderai HAM, atau tetap bertahan memelihara racun di tengah masyarakat.

Transgender dan Pengaruh Psikologi Barat

Transgender berasal dari dua kata: trans yaitu pindah (tangan; tangguhan) dan gender yaitu jenis kelamin. Secara terminologis, transgender dialamatkan kepada orang-orang yang merasa adanya ketidakcocokan antara fisik dan kejiwannya, sehingga mereka merubah identitas atau ekspresi gender alaminya kepada identitas atau ekspresi gender yang berbeda. Oleh karena itu, secara umum orang-orang semacam ini dapat dikenali sebagai pribadi yang tidak secara spesifik maskulin maupun feminim. [2]  

Terdapat dua pembagian istilah di dalam transgender: Pertama, pria-trans yang mengacu kepada seseorang yang transgender perempuan-ke-laki-laki. Kedua, transpuan (waria/banci) yang mengacu kepada seseorang yang transgender laki-laki-ke-perempuan. Pembagian ini tidak menjadi batas antara keduanya, sebab diantara mereka lebih suka diakui sebagai gender ketiga yang tidak terikat dengan orientasi seksual tertentu.

Psikiater John F. Oliven dari Universitas Columbia adalah Ilmuwan Barat pertama yang mencetuskan istilah transgender. Dalam buku referensi ilmiahnya tahun 1965 berjudul Sexual Hygiene and Pathology, ia menggunakan istilah tersebut untuk mendefinisikan masyarakat yang melakukan aktivitas seksual menyimpang. Beberapa tahun kemudian, istilah transgender mulai banyak digunakan dan didefinisikan secara beragam oleh orang-orang. Diantara public-figure yang menaruh perhatian tentang gender di Barat, ada Virginia Charles Prince yang memuat kata transgender dalam majalah Transvestia (majalah cross-dresser[3] yang ia dirikan) pada Desember 1969.

Seiring berkembangnya istilah masyarakat transgender di khalayak, pada tahun 1985, Richard Elkins mendirikan Trans-Gender Archive (Arsip Trans-Gender) di Universitas Ulster. Mengingat gerakan transgender sudah mulai memengaruhi kepentingan hukum dan ketenagakerjaan, pada tahun 1992 sekelompok aktivis gender menyelenggarakan International Conference on Transgender Law and Employment Policy (Konferensi Internasional tentang Kebijakan Hukum dan Ketenagakerjaan Transgender) di Texas, Amerika. Di konferensi itulah kata transgender dipakai sebagai kata umum yang mencakup makna transseksual, transgenderis, cross dressers, serta orang yang bertransisi gender lainnya.

Sebagai penyumbang huruf T dari masyarakat LGBT[4], transgender identik dengan gerakan homoseksual yang akarnya tak lain berasal dari ilmu Psikologi sekuler. Rita Soebagio, seorang peneliti INSISTS (Institute for Study Islamic Thought and Civilization), dalam satu jurnalnya[5], mengungkapkan bahwa diskursus homoseksual terus membangun paradigmanya, baik dari sisi terminologi, psikologi, sosiologi, maupun klasifikasinya agar dapat diterima luas sebagai perilaku normal atau paling tidak netral.

Adapaun perilaku transgender yang masuk ke dalam kategori homoseksual, belakangan telah dikeluarkan dalam daftar diagnostik penyakit kejiwaan. Penghapusan itu dimulai dari DSM III (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) pada tanggal 15 Agustus 1973 sampai pada DSM IV TR (Text Revision) pada tahun 2000. Kemudian diikuti ICD 10 (International Classification of Deseases) yang dikeluarkan WHO (World Health Organization) pada 17 Mei 1990.

Penghapusan ini – dijelaskan oleh Rita Soebagio – sarat akan konsep normalitas-abnormalitas Psikologi Barat yang bernuansa relativisme. Dimana dalam perspektif Psikologi Barat, sisi norma budaya, tingkah laku, dan sikap hidup seseorang dianggap normal atau abnormal tergantung pada lingkungan sosial budaya di mana ia tinggal. Akibatnya, sebuah perilaku bisa jadi normal untuk sebuah budaya, tapi menjadi abnormal dalam kelompok budaya yang berbeda.[6]

Dalam konteks homoseksual, para Psikolong Barat mengikuti apa yang dikatakan oleh Jeffrey Satinover, seorang Psikiater Amerika bahwa perilaku homoseksual adalah normal, dan tidak dapat diubah secara psikologis dan sosiologis. Argumen ini dinilai sebagai tandingan atas berbagai nilai moral, agama, sosial, dan budaya yang tetap ada dan bertentangan dengan prinsip homoseksualitas.[7]

Selaras dengan argumen di atas, Jack Drescher, Psikiater yang juga anggota Komisi Seksual Gender DSM membagi homoseksual sebagai berikut. Pertama, Teori Varian Normal. Teori ini menganggap homoseksual sebagai fenomena yang terjadi secara natural. Kedua, Teori Patologi, yang menganggap homoseksual sebagai penyakit yang berkembang sebagai penyimpangan dari normal-heteroseksual. Teori ini cenderung memandang homoseksual sebagai buruk dan tanda dari kecacatan, yang dapat terjadi baik terjadi selama kehamilan, pengasuhan orang tua yang salah, maupun kekerasan seksual. Ketiga adalah Teori Ketidakmatangan, yakni pendapat bahwa homoseksual adalah perasaan dan perilaku yang berkembang pada saat muda sebagai tahapan normal menuju heteroseksual.[8]

Dalam buku Understanding Abnormal Psychology karya Pamiliaa Ramsden, yang dikutip Rita Soebagio dalam jurnalnya, terungkaplah pula bahwa psikologi yang membawa epistemologi sekuler menyisakan banyak permasalahan dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah terjadinya bias dalam menentukan masalah normalitas dan abnormalitas. Sebab jika konsep normal dan abnormal sekuler dikemukakan, akan banyak pertanyaan yang mesti dijawab, seperti siapakah yang berhak menentukan sebuah perilaku dianggap normal atau abnormal, serta aturan dan norma apa yang akan mengatur parameter normal.[9] Hal ini menurut Rita Soebagio hampir tidak mungkin terjawab secara pasti, karena menilai perilaku abnormal adalah pekerjaan yang tidak mudah, sehingga sulit untuk mendefinisikan dan mendiagnosanya.

Meskipun argumen Psikologi Barat di atas sering termentahkan, namun tak dapat dipungkiri pemikiran tersebut memengaruhi berbagai pandangan di banyak bidang. Dalam bidang hukum contohnya, orang-orang yang pro transgender bukan hanya menuntut pemerintah untuk mengakui eksistensi para kaum trans. Dengan dalil HAM dan anti diskriminasi, mereka juga berupaya untuk menuntut legalisasi undang-undang terhadap perubahan gender dan pernikahan sesama jenis di Indonesia.

Mereka beranggapan bahwa homoseksual bukanlah suatu penyakit. Oleh karena itu, mereka berhak mendapatkan tempat di masyarakat dan tidak perlu ditolak secara berlebihan. Ini jelas tidak sejalan dengan keputusan dari Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJ) tentang homoseksual. Sebab kesepakatan pengurus sudah termaktub dengan jelas, yakni mengkategorikan homoseksual dan biseksual sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) sesuai UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.[10]

Memandang Transgender dengan Perspektif Islam

Diluar dari hal-hal yang tidak terberitakan, patut disyukuri bahwa Indonesia merupakan salah satu dari 14 negara yang menolak Resolusi PBB terkait hak-hak kaum homoseksual (LGBT). Penolakan ini ditunjukkan secara kongkret oleh kementerian, lembaga, dan kelompok masyarakat di dalam negeri[11]. Mengingat perilaku-perilaku menyimpang semacam ini tidak sejalan dengan fitrah manusia yang berpasang-pasangan (Adz-Dzariyyat: 59), Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa nomor 57 tahun 2014, juga telah mencap haram perilaku LGBT, baik yang dilakukan secara pribadi maupun kolektif.

Secara historis dan epistemologis, gambaran perkembangan awal psikologi modern erat kaitannya dengan filsafat modern yang dibangun peradaban Barat. Filsafat modern yang lahir dari epistemologi Barat menunjukkan konsep ilmu dalam peradaban Barat pada dasarnya sedang melahirkan berbagai ideologi atau paham pemikiran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisme, relativisme, humanisme, sekularisme. Semua paham tersebut dibangun atas dasar epistemologi sekuler, yang memisahkan kehidupan manusia dari sumber ilmu yang sebenarnya yaitu wahyu.[12].Oleh karena itu, dalam konteks meletakkan isu transgender ditempat yang tepat, Islam memiliki perspektifnya sendiri.

Jika Barat melihat manusia sebagai mahluk bebas yang tidak memiliki tujuan yang jelas, Islam membimbing umat Muslim menjadi umat terbaik di muka bumi. “Kamu adalah umat terbaik, yang dilahirkan untuk manusia. Kamu menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan kamu beriman kepada Allah. (Ali Imran: 110)

Maka dari itu, dalam rangka mewujudkan umat terbaik kestabilan sosial perlu dilaksanakan dengan persepektif sosial yang jelas. Islam tidak pernah memandang seseorang berdasakan gendernya, karena pada dasarnya penciptaan laki-laki dan perempuan ditentukan secara mutlak oleh Allah, bukan budaya apalagi manusia. Karena itulah, posisi laki-laki dan perempuan di dalam Islam tidak perlu diselisihkan, karena telah diciptakan sesuai dengan peran dan keistimewaanya masing-masing. Ini selaras dengan firman Allah, “Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagiandari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagaian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (An-Nisa: 32)

Ayat ini mengingatkan kepada manusia, betapa Allah swt telah menciptakan sesuatu sesuai dengan kedudukannya. Untuk itu, tidaklah pantas baik laki-laki maupun perempuan menolak ketentuan Allah, atau berupaya merubah apa yang Allah anugerahkan kepada dirinya dengan alasan apapun. Barangkali orang-orang bertanya mengapa Islam begitu sinis terhadap hak-hak kemanusiaan. Jawabannya sederhana: sebab hak-hak kemanusiaan mengabaikan hak-hak Allah. Hak untuk ditaati, hak untuk diibadahi, dan sebagainya.

Itulah mengapa, masalah diskriminasi yang dihadapi transgender bukanlah alasan untuk melegitimasi eksistensinya – sebagaimana yang termaktub dalam daftar Hak Asasi Manusia – sebab dalam hal ini mereka sudah menghilangkan kedudukan Allah yang telah menciptakan diri mereka sedemikian rupa. Kendatipun itu berat dan memengaruhi kehidupan mereka, jelas bukan maksud Allah untuk membuat mereka sengsara, jutru itu adalah jalan hidayah yang Ia tunjukkan kepada hamba-Nya untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah dalam ayat terakhir surah Al-Baqarah, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

            Konon ketika Nyai Ahmad Dahlan membangun organisasi Aisyiyah pada 1917, beliau menyadari bahwa inferioritas perempuan adalah masalah yang mengakar di tengah budaya masyarakat Indonesia. Namun, berbeda dengan tokoh perempuan lain yang melakukan pergeseran nilai budaya dan menyuarakan paham feminis-sekular, Nyai Ahmad Dahlan justru menyampaikan ayat berikut ini dalam gerakannya, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungka, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)[13].

            Nyai Ahmad Dahlan mungkin ingin menunjukkan, bahwa agama tidak boleh ditinggalkan dalam memandang berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal sosial-budaya, gender, dan psikologi. Oleh sebab itu, saya ingin menegaskan kembali, bahwa dalam persepektif Islam memasukkan nilai-nilai buatan manusia yang serba relatif dan dilematis ke dalam lingkup keilmuwan, lantas mengabaikan nilai-nilai agama yang merupakan ciptaan Allah yang pasti kebenarannya, adalah tindakan yang kurang bijak. Maka, sudah seharusnya kita melepaskan diri dari pandangan yang keliru, dan mulai menghidupkan kembali budaya keilmuwan Islam yang mengintegrasikan antara ilmu akal (rasional) dan wahyu.

Azzam Habibullah

Pancur Batu, 18 Juni 2020.


[1] Lihat essay J.K. Rowling, https://www.jkrowling.com/opinions/j-k-rowling-writes-about-her-reasons-for-speaking-out-on-sex-and-gender-issues/

[2] Wikepedia.org/Transgender

[3] Cross-dresser adalah sebutan bagi pria heteroseksual yang berpakaian selayaknya wanita.

[4] Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender merupakan istilah yang digunakan pada awal 1990-an sampai sekarang. LGBT dipakai untuk menunjukkan seseorang atau siapa saja yang mempunyai perbedaan orientasi seksual dan identitas gender berdasarkan kultur tradisional yaitu heteroseksual. Lihat Sinyo, Anakku Bertanya tentang LGBT, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2014)

[5] Rita Soebagio, Homoseksual (LGBT) dan Problem Psikologi Sekuler (Jurnal ISLAMIA Volume X No.1 Januari 2016)

[6] Yustinus Seminum, OFM. Kesehatan Mental I (Jakarta: Kanisius, 2006)

[7] Jeffrey Satinover, Homosexuality and the Politics of Truth (USA: Baker Publishing Group, 1996)

[8] Rita Soebagio, Homoseksual (LGBT) dan Problem Psikologi Sekuler (Jurnal ISLAMIA Volume X No.1 Januari 2016)

[9] Pamilia Ramsden, Understanding Abnormal Psychology (London: Sage Publication Ltd., 2013)

[10] Sulis Winurini, Memaknai Perilaku LGBT di Indonesia: Tinjauan Psikologi Abnormal (Jurnal Kesejahteraan Sosial di dpr.go.id)

[11] Ibid, hlm. 3

[12] Adian Husaini, dkk, Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 2013), hlm. 9

[13] Dr. Ro’fah, Posisi dan Jatidiri Aisyiyah: Perubahan dan Perkembangan 1917-1988 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2016), hlm 30