Menjadi Api

API.

Adalah unsur alamiah pertama yang benar – benar mengubah hidup manusia. Ribuan tahun umat manusia memanfaatkannya untuk berbagai hal, merubahnya menjadi energi, hingga menempatkannya sebagai penghancur yang mengerikan.

Api bukanlah sesuatu yang sembarangan: Ia tak tersentuh, namun tetap mampu menyala, berkobar, dan menyinari segala yang ada. Kadang dapat terkendali, namun juga tak terhitung berapa kali ia pernah memberontak.

Api bukanlah sesuatu yang sembarangan: Tanpa banyak bersuara, tanpa izin kepada sang manusia. Gedung pencakar langit sekalipun mampu dibuat hitam nan rapuh, dalam sekejap. Juga Rumah semewah apapun dapat gosong dan rata oleh tanah, dalam beberapa kedipan mata.

Api bukanlah sesuatu yang sembarangan. Sungguh, ciptaan tuhan yang menawan dan menarik. Maukah kau menjadi Api?

Kita tahu, jutaan masalah tengah menghampiri tanah air ini. Ada gelombang kehancuran yang mengintai, bersembunyi dibalik dinding – dinding pemerintahanan, tengah bersantai ria sembari menunggu aba – aba dari para pengkhianat negara untuk meluluhlantakkan Republik ini.

Mungkinkah kita hanya diam dengan ini? Sanggupkah kita hanya menjadi penonton yang kerjanya mengangguk dan menggeleng di depan layar televisi? Yang hidupnya sibuk membagikan link di medsos dan meninggalkan caption panjang tak berarti.

Yang ketika di ajak berdialog tentang apa yang disebarnya, marah – marah karena dipermainkan akibat tak paham apa sebenarnya akar masalahnya.

Hentikan itu, kawan. Cukup sampai disini!

Bukalah mata dan hati kita. Sadarkah kita jika kita tengah di alihkan perhatiannya? Sengaja benar dibuat tak peduli dengan kondisi Indonesia yang martabatnya dilumatkan sedikit demi sedikit.

Mulai sekarang kita harus berdiri, layaknya API!

Jadilah api sejati! Yang begitu marak, yang menjalar, menyentuh ‘sahabat’ daun – daun kering yang putus asa diatas tanah lika – liku dunia. Mengajak mereka juga untuk berjuang sebagai api.

Jangan hiraukan orang – orang yang mencoba menghentikan kita, menghebus dengan nafas bau, mencoba menginjak – injak kita dengan tapak kaki bayi.

Bakar habislah mereka dengan bahasa cerdas dan kata – kata orasi penuh semangat, dan mengandung kecintaan atas agama juga negeri ini. Buat mereka tak berkutik dengan fakta, jadikan mereka tercekat dengan ilmu.

***

Menjadi api, bukan hal buruk yang membuatmu rugi. Bukan pula yang membuatmu anarkis dan berakhir dibalik jeratan bui.

Tetapi dengan kita menjadi api, kita bisa bersama menghangatkan Ibu pertiwi. Membelah kegelapan kelam tempat burung
Garuda pemegang Tameng Pancasila mengurung diri, merasa bersalah.

Karena kita adalah api sejati, bukan api lilin yang kerjanya merusak diri sendiri.

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.