Menolak Bicara, Menghina Diri Sendiri

Hari itu adalah hari kedua kegiatan Field Trip kami siswa SAMERA di PT. Inalum Paritohan di Kabupaten Toba Samosir.

Kunjungan belajar kali ini punya misi khusus untuk mengenal lebih jauh tentang PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) yang menjadi Power Station bagi PT. Inalum dalam memproduksi produk Alumunium yang berkualitas di Tanjung Gading.

Beberapa bangunan asset milik Inalum seperti Bendungan Sigura – gura dan Bendungan Tangga yang sempat tenar di uang 100 rupiah telah kami datangi. Melewati petualangan seru membelah gunung dengan kecepatan tinggi, serta menelusuri terowongongan gelap sepanjang 908 meter demi menyambangi PLTA yang merupakan satu – satunya PLTA di Indonesia yang dibangun 200 meter di bawah tanah.

Sebagai salah satu Fasilitator, aku diberi kesempatan kembali menjadi mentor bagi adik – adik kelas. Ini seru, terlebih lagi ketika sesi Field Trip ditutup dengan diskusi Workbook, masing – masing siswa memaparkan tugas – tugas mereka tentang PLTA Inalum, baik itu gagasan penting yang mereka ambil dari wacana sejarah Inalum, laporan hasil wawancara, hingga satu tugas tambahan yang menurutku cukup menarik, isinya begini:

Jika kalian adalah Direktur Utama PT. Inalum, apa yang mau kalian lakukan agar PLTA ini menjadi lebih keren dan seru untuk dikunjungi?

Satu per satu siswa menyampaikan imaginasinya, ada yang ingin membuat terowongan menuju PLTA bawah tanah lebih hidup dengan layar virtual edukasi, teropong jarak jauh untuk melihat kawasan waduk dan kedalaman bendungan, ayunan panorama di ujung gunung, kios souvenir, taman baca anak – anak, dan lain – lain.

Belum cukup semua ide dan kreatifitas itu membuatku kagum. Giliran seorang adik kelasku bernama Nurul menyampaikan Idenya. Dia dikenal sebagai anak yang pendiam dan berasal dari keluarga miskin, namun itu tidak menghalangi kami memberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara di depan. Walau awalnya ia terlihat segan dan tidak percaya diri, tapi seluruh teman sekelas menyemangatinya. Selang beberapa menit diapun berdiri dan menarik nafas panjang.

“Kalau saya menjadi Direktur Utama, saya akan membuat PLTA ini menjadi lokasi Wisata yang cantik dan bersih serta bersahabat dengan masyarakat. Karena tempat secantik ini menurut saya tidak boleh disia – siakan hanya untuk satu pihak saja, tapi seharusnya dimanfaatkan sebesar – besarnya menjadi wadah bermain dan belajar bagi anak – anak bahkan Mahasiswa di Indonesia.”

Riuh tepuk tangan menggema seketika. Saat itu aku benar – benar tidak mampu berhenti menggeleng dan tersenyum.

***

Sadarkah kita kesalahan terbesar generasi muda adalah menolak berbicara? Segan dengan gagasannya, malu dengan gayanya, takut menghadapi komentarnya.

Jangan lupa kawan, bahwa pada 28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), para pemuda kebanggan Indonesia pernah menyampaikan Ikrar hebatnya yang terkenal sebagai “Sumpah Pemuda” sebagai tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak pernah berhenti bersuara, menyampaikan apa yang ada di hati mereka di depan Rakyat, dengan ilmu dan ketulusan hati yang luar biasa.

Karena sesungguhnya mereka tahu, jika menolak berbicara itu sama saja menghina diri mereka sendiri dan Indonesia.

Kita tidak tahu sampai kapan usia menunggu kita di ujung sana. Tidak ada waktu untuk bersembunyi dibalik orang lain, mau sampai kapan kita sibuk bicara di belakang, namun tiba di beri kesempatan berbicara di depan, kita bertekuk lutut.

Kalau kau suka, pujilah. Jika kau benci, katakanlah. Karena itu hak kita!

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!