Mereka Bukan Sebuah Kesalahan, Camkan Itu!

Sabtu lalu aku menemani Mama untuk menghadiri Rapat Kerja Regional 1 JSAN (Jaringan Sekolah Alam Nusantara) di Pekanbaru, Riau. Disana aku diminta untuk berbagi pengalaman di Samera dalam menangani manusia istimewa ciptaan Allah, ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).

Mereka yang disebut sebagai ABK adalah anak – anak yang memiliki tingkah atau pola kehidupan yang berbeda dengan kita, manusia normal. Mungkin kalian pernah jumpa anak – anak yang memiliki dunianya sendiri, suka berkata aneh, berteriak, berlari, atau lambat dalam berfikir dan bekerja. Salah satu dari mereka boleh jadi adalah ABK.

Biar sok pinter, ayo sedikit kita mengulik soal pendidikan.

Kami di Samera (Sekolah Alam Medan Raya), memahami bahwa setiap anak berhak untuk bergabung dan mendapatkan pendidikan yang sama, baik itu anak special (ABK) maupun anak normal. Kami berusaha menciptakan lingkungan yang asyik bagi semua anak, agar semua anak dapat bahagia dalam belajar, tanpa terkekang oleh ruang dan kelas. Istilah kerennya, Sekolah Inklusi.

Sering menjadi ‘Tour guide’ bagi tamu – tamu yang mengunjungi Samera, membuatku banyak mendengar berbagai komentar serta ungkapan dari banyak orang luar. Salah satu yang tidakkan pernah kulupakan adalah celetuk seorang Guru dari sebuah lembaga pendidikan, dia bilang: “Seharusnya kita paham, bahwa anak – anak yang tidak normal itu adalah buah dari kesalahan orang tuanya pada masa lampau.”

Siapapun yang masih berpikir seperti ini, tolong berhentilah.

Pengetahuanku mungkin terbatas, tetapi bukankah anak – anak yang spesial itu adalah calon penghuni Surga? Emang pantas kita mengatakan bahwa mereka adalah hasil dari kesalahan, sementara diri kita sendiri gak jelas nasibnya nanti di hari kiamat.

Aku punya sahabat kecil di Samera, namanya Ahmad (yang photo bersamaku diatas). Dia adalah anak pengidap ADHD, hari – harinya diisi dengan kegiatan berlari, tertawa, dan berceloteh tentang banyak hal. Awalnya bermain dan belajar bersama dia adalah hal yang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi sekarang, tanpa si lucu yang ompong itu, hariku terasa hampa.

Karena ketika aku melihat matanya, laksana menatap cermin, aku melihat diriku sendiri di sana.

Aku yang terkadang egois, sering membangkang, membenci aturan, bahkan suka membuat kekacauan dan keributan.

Maka, ketika aku berhadapan dengan kelakuan buruk yang Ahmad lakukan, terlintas di benakku bahwa inilah yang dirasakan orang tua dan orang – orang yang disekitarku.

Hari ke hari, minggu ke minggu. Segala perasaan ini tanpa sadar benar – benar mengasah mentalku.

Aku lebih bisa mengontrol diri sebagai anak muda, tidak labil dengan situasi, mampu bergerak tanggap, serta bisa memberikan keputusan yang bijak dan dewasa. Aku menjadi lebih peduli lagi terhadap orang lain, segala ide tercurahkan tanpa henti, semangat untuk terus mengembangkan potensi dan menginspirasi anak muda pun semakin membara.

Ini membuktikan, kawan. Bahwa tatkala seorang anak lahir dimuka bumi, dia bukan buah dari kesalahan siapa – siapa, bukan imbas dari perilaku buruk yang dilakukan siapa – siapa. Kita tidak tahu seberat apa pengorbanan yang dilalui orang lain untuk dia, kita tidak tahu seberapa juta peluh dan tetes air mata yang telah jatuh demi dia. Yang kita mesti yakini, dia adalah seorang masterpiece, karya dari Allah Sang Maha Pencipta.

Hati – hati dalam berbicara, buka fikiran dan hati, tunjukkan kita generasi bangsa yang mengerti makna sebuah perbedaan.

Hidup Anak Muda Muslim penjaga NKRI!