Mimpi ‘Si Gasing’ Memajukan Pendidikan di Indonesia

‘Si Gasing’. Belasan tahun lalu, semua orang memanggilku dengan istilah itu. Demi mewakilkan tingkahku yang terkenal tak bisa diam. Memiliki Ibu yang seorang Guru, tak sama sekali membuatku di Sekolah menjadi ‘bocah penurut’, yang senantiasa duduk manis sepanjang kelas. Aku lebih senang dihukum berdiri di depan dengan satu kaki, dari pada harus mendengar ‘celoteh’ guru atau ‘menjiplak’ papan tulis bersama pelajaran – pelajaran yang membosankan.

Siapapun yang mengenalku sedari kecil, tahu betul seberapa hobinya aku bereksplorasi dengan segala hal di sekelilingku. Aku tidak percaya besi itu konduktor panas yang baik, sampai tanganku melepuh demi membuktikannya. Pernah main kapal kertas dengan sabun cuci piring? Aku pernah buat satu bak mandi di rumah penuh busa dan lumpur gara – gara memainkannya.  Aku hampir tidak pernah di beli kan mainan. Dari mobil – mobilan, senjata, kapal selalu aku buat sendiri mengandalkan potongan kardus dan gunting. Walaupun ya gak pernah bertahan lama.

Usiaku baru 10 tahun, saat Papaku yang bekerja di sebuah Lembaga Amil Zakat tiba – tiba mengajakku menemani beliau untuk tugas di Posko Pengungsian Korban Bencana Gunung Sinabung di daerah pedalaman Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Tiba di lokasi Pengungsian, untuk pertama kali aku melihat tenda – tenda raksasa terpasang di segala penjuru, menjadi rumah sementara bagi ratusan kepala keluarga yang terpaksa mengungsi karena Rumah mereka hancur akibat asap vulkanik. Saat itu aku sedang mampir di Klinik Darurat, kulihat ada seorang Ibu Paruh Baya yang mendampingi seorang anak kecil yang terkulai lemas di atas selembar kain seadanya. Usia anak itu tidak jauh beda denganku, tubuhnya yang kurus di tambah raut wajahnya yang pucat membuatku terpaku.

“Anak Ibu terserang Tifus, dia harus kita kasih obat ya,” ucap seorang Dokter dengan senyum tipis. Nampak Ibu paruh baya itu menahan nafas sejenak, kedua matanya mulai berkaca – kaca, mengusap pelan kepala anaknya yang sesekali meringis menahan panas tubuhnya.

“Kasih aja Dok apa yang bisa buat dia sembuh. Ladang kami udah habis, gak ada lagi uang kami buat bawa ke Rumah Sakit kota, kecuali untuk Sekolah dia. Dia harus sehat Dok, tak apa lah cobaan ini, yang penting dia bisa Sekolah. Gak mau aku dia bodoh macam aku…”

Sontak saat itu aku kehilangan kata – kata. Kalimat terakhir Ibu paruh baya itu terkenang di dalam sanubariku. Usiaku baru 10 tahun, selintas aku bahkan tidak mengerti apa yang Ibu itu katakan. Namun, seiring waktu bergulir, setiap huruf yang keluar dari bibir Ibu itu, kasih sayang, dan harapan sederhana demi anaknya itu, akhirnya belakangan meluapkan ingatan itu di setiap momen dalam hidupku.

Seiring bertumbuh Remaja aku berjibaku di dalam proses mencari jati diri. Sampai akhirnya ingatan 7 tahun lalu itu, tersirat kembali, lantas menyadari mungkin pernah aku membenci Sekolah. Karena aku lebih senang mencari ilmu itu sendiri, di setiap eksplorasi dan petualangan dalam hidupku, dan aku harap semua orang melakukannya.

Mengapa? Karena aku ingin setiap manusia merasakan kebahagiaan ketika berbagi dan mendapatkan Ilmu. Bahwa makna dari pendidikan bagiku adalah melatih siapapun untuk sadar menjadi pembelajar sejati, dimanapun dan kapanpun.

Ya, di usiaku yang ke 17 tahun ini aku berani bertekad, ingin menjadi bagian dalam mewarnai pendidikan dan edukasi sosial di tanah air ini.

Aktivitas mengedukasi dan berbagi pada orang lain adalah sesuatu yang menggembirakan bagiku. Bakatku di bidang menulis dan public speaking aku manfaatkan untuk setiap minggu berbagi tentang ‘self-leadership dan kepemudaan’ di website azzamhabibullah.net. Dan hampir setiap bulan berkeliling ke Sekolah – Sekolah dari Medan, Palembang, Jakarta, Surabaya, dan kota – kota lainnya untuk membawa semangat, memajukan kualitas SDM bangsa terutama kepada Anak Muda.

Catatan tentang program – program Pendidikan dan Sosial yang aku lakukan di Indonesia, Alhamdulillah membawa aku menjadi salah satu Delegasi Muda untuk mempresentasikan Program tersebut dalam Konferensi Kepemudaan Internasional pada tahun 2017 di Amerika Serikat dan 2018 di Austria.

Ketika berada di antara anak – anak Muda di seluruh dunia, berkenalan dan berdiskusi tentang masalah – masalah alam dan sosial yang terjadi di negara kami sendiri. Aku melihat sebingkai fakta bahwa aku dan anak – anak muda Indonesia lainnya masih tertinggal jauh di bandingkan mereka. Dari cara mereka mengkritisi masalah di Negaranya, memetakan potensi Negaranya, hingga menemukan solusi – solusi sederhana namun memiliki impact yang luar biasa.

Namun, perjuangan itu tak mengenal kata cukup. Pada tahun ini, CEI (Caretakers of the Environment Internastioanl) sebuah Konferensi bagi para Anak Muda pecinta lingkungan hidup dan pendidikan akan menyelenggarakan Konferensi nya di Negara yang menjadi saksi peradaban Islam, Turkey. Dengan semangat yang sama untuk menghadirkan terobosan baru dalam dunia pendidikan, aku mengajukan Project Ilmiah tentang teknologi Pendidikan terkini yang telah direkomendasikan oleh World Economic Forum 2018, yakni metode ‘Play/Game Based Learning’. 

Salah satu bagian dari Game based Learning, adalah Board Game berbasis pembelajaran. Bersama permainan “Tuntungan Ground Board Game” yang aku ciptakan dengan mengangkat isu tentang permasalahan sosial dan alam di daerah perkotaan, yang aku buat menjadi sebuah permainan dengan kisah rakyat dan tokoh legenda asli Indonesia. Menjadikan ide Program ini menjadi otentik dan menembus skor tertinggi di seleksi Nasional, dan berhak di presentasikan dalam skala global dalam Konferensi CEI 2019, Istanbul Turkey pada  Juni 2019.

Usia aku menginjak 18 pada tahun ini, dan aku berharap bisa terus belajar dam mengabdi memajukan dunia pendidikan dan sosial di tanah air. Namun, harapan ini mustahil terjadi tanpa rahmat Allah dan dukungan dari para sahabat yang masih peduli dengan Indonesia kelak. Karena kini masalah dana untuk keberangkatan menuju Istanbul, menjadi halangan paling berat bagiku untuk kembali mengharumkan nama Indonesia di mata Dunia.

Aku sungguh berharap dengan aku terus bergerak di dunia Pendidikan di Indonesia, jangan lagi seorang Ibu yang khawatir akan masa depan buah hatinya, tidak ada lagi anak – anak yang membenci belajar, lantas mengabaikan pengorbanan orang tua dan mimpinya.

Merupakan sebuah kehormatan dan pemicu semangat bagiku, bila sahabat – sahabat semua bisa berkontribusi, menyisihkan rezeki untuk memperlancar keberangkatan saya demi mengisi kembali ‘Amunisi’ untuk Pendidikan dan Sosial di Indonesia. Sebagai bentuk rasa terima kasih kita kepada Tanah Air tercinta.

Salam Pendidikan

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.