Panggil Aku Abang

Sepanjang petualangan ke berbagai tempat di Indonesia bahkan di belahan dunia lainnya, tentunya berkenalan dan merajut tali silaturahmi dengan banyak teman, adalah aktivitas yang biasa kulakukan. Dengan membuka jaringan persahabatan seluas – luasnya, aku merasa fikiran pun menjadi terbuka, dan berkat sentuhan pandangan dan konsep – konsep baru dari mereka,  karya – karyaku semakin elok untuk dinikmati oleh semua kalangan.   

Indonesia memang tak pernah kehabisan cerita untuk diobrolin bersama, setiap senti Nusantara memiliki keunikannya sendiri, termasuk dalam budaya berkomunikasi dengan sesama.

Sebut saja dalam hal memanggil seseorang. Selain panggilan umum Bahasa Indonesia seperti Pak, Bu, Om, dan sebagainya. Suku – suku di Indonesia memang terkenal menyimpan sejuta panggilan special yang biasanya dipakai untuk melambangkan posisi dalam silsilah keluarga, usia, atau gelar dalam adat masyarakat, dengan tujuan menghormati dan melestarikan budaya.

Lain daerah, lain pula panggilannya.

Dalam sebuah perjalanan safari dakwah, aku berkenalan dengan seorang dari Nusa Tenggara Barat, yangmemanggilku dengan sebutan ‘Bajang’, artinya muda dalam Bahasa Sasak. Teman se Asramaku di Kampung Inggris, Pare yang mengaku orang Sunda asli, biasa memanggilku dengan sebutan ‘Kang’, membuatnya kadang bercanda memanjangkan katanya dengan ‘Kang-kung’. Namun, dua panggilan yang paling sering kudengar dari sahabat – sahabat di daerah Jabodetabek tentunya ‘Mas’ dan ‘Kakak’.

Tapi, sejauh apapun aku pergi, terbang kesana – kemari. Cukup satu pangggilan yang ingin kudengar dari orang lain untukku, yaitu ‘Abang’.

Abang adalah sebutan untuk orang yang lebih tua dalam Keluarga, terkenal sebagai panggilan yang berasal dari orang – orang Pulau Sumatera.

Lahir sebagai sulung dari Lima bersaudara (bentar lagi enam), menjadikan panggilan ‘Abang’ begitu melekat dalam diriku. Sejak dulu, sekalipun masih bocah yang setiap hari kerjanya merusuh di Sekolah. Aku tak suka orang lain memanggilku dengan sebutan ‘Adik’, atau panggilan lainnya selain Abang.

Karena dalam keluarga kami, Abang ataupun Kakak bukanlah sebutan sembarangan, dibalik itu ada amanah dan tanggung jawab besar, selayaknya jabatan tinggi di sebuah perusahaan ataupun Negara.

Seorang Abang haruslah memastikan jalannya perusahaan (Rumah) sesuai dengan SOP yang berlaku, menjadi tonggak kokoh  dalam keluarga  yang tak mudah lemah dengan dirinya sendiri, mengayomi adik – adiknya dengan sepenuh hati, terus bertumbuh dan siap menjadi sosok hebat idola mereka.

Karena tidak suka dipanggil ‘Adik’ aku juga berusaha untuk tidak memanggil siapapun dengan sebutan itu. bahkan jika seorang itu lebih muda dariku, aku akan memanggilnya dengan namanya, dan berjanji akan memangginya abang bila dia mampu mengemban tugas hebat menjadi seorang Abang sejati sepanjang hidupnya.

Tak usah jauh – jauh belajar tentang Leadership, Bisnis. Jika adik – adikmu saja masih berjuang sendirian, lantas seolah – olah menganggapmu sebagai ‘stranger’ yang tak punya kuasa dan mimpi apa – apa yang kebetulan saja menjadi abang dalam keluarganya. Karena Keluarga adalah bagian terkecil dari sebuah Negara, peran abang di setiap Keluarga bukanlah hal yang remeh. Dialah Kepala Rumah Tangga kedua setelah Ayah, yang seharusnya punya semangat dan tujuan yang sama besar dengan Ayahnya.

Untukmu Abang – Abang hebat di setiap keluarga di tanah air, salam hormat dariku.

Salam Anak Muda HEBAT Indonesia