PewDiePie vs T-Series = Anak Muda vs Perusahaan

Di penghujung tahun Youtube dilingkupi banyak warna, mulai dari perceraian dan perselingkuhan artis, iklan Shopee dengan BLACKPINK-nya, perdebatan teori trailer Avengers 4, dan Youtube Rewind 2018 saling bergantian bertengger di puncak trending topic. Satu yang mencuri perhatianku adalah pertarungan perebutan tahta Raja Youtube global antara PewDiePie, Youtuber asal Swedia dengan T-Series, channel resmi Perusahaan Film asal India.

Pertarungan semakin memanas ketika banyak orang berasumsi PewDiePie dengan 76,1 juta Subscriber-nya akan segera disalip oleh T-Series dengan jumlah Subscriber 75,2 juta. Kendati mengandalkan kultus pribadi dan jutaan fans setia di seluruh dunia, rasanya itu tidak cukup bagi PewDiePie untuk menjaga tahta ‘Raja Youtube’ dari channel T-Series yang tentunya mendapatkan dukungan penuh dari salah satu industri terbesar di dunia, Bollywood.

T-Series saat ini memiliki 39,8 juta pelanggan di seluruh Bumi, hampir setiap hari T-Series menampilkan cuplikan film dan lagu – lagu khas Bollywood yang biasanya dibuat dalam berbagai Bahasa daerah di India seperti Kannada, Telugu, hingga Tamil.

Sebuah artikel menarik dari website vice.com, mengatakan T-Series telah merilis kurang dari 12.000 videonya dan meraup US$11,6 juta/bulan dan mengumpukan rata – rata 150.000 Subscriber setiap harinya. Itu yang baru kulihat dari Socialblade.com. Belum lagi ada isu yang mengatakan, apabila proyeksi pertumbuhannya sesuai yang direncanakan perusahaan, maka T-Series akan memiliki lebih dari 86 juta pelanggan dalam setahun ke depan, yang tentunya membuat PewDiePie gigit jari.

Wow kenapa bisa sebanyak itu ya? Jelas aja banyak, seperti yang dilansir wikepedia.org, India memiliki 1,3 miliar penduduk, atau Negara kedua terpadat di alam semesta. Dari data yang kudapat, di bulan Mei – Juni  2018  setidaknya ada 500 juta pengguna Internet aktif di Negara asal Kajol Devgan ini. Bayangkan itu hampir setara 2 kali jumlah rakyat Indonesia! Maka tak heran T-Series sudah menjadi nafas dan bentuk eksistensi masyarakat India terhadap Dunia.

Masalahnya, PewDiePie sedari dulu sudah menjadi idola sekaligus panutan dari para conten creator di seluruh dunia. Seseorang yang benar – benar berkarir di Youtube dari Nol, dari bukan siapa – siapa menjadi salah satu pengguna Internet paling berpengaruh di jagad maya. Beragam dukungan kepada PewDiePie dilancarkan ribuan Youtuber atau content creator dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seperti pernyataan Andovi da Lopez di channel Youtube nya, SkinnyIndonesia24, bahwa mereka (conten creator) tidak punya masalah dengan India atau satu perusahaan tertentu. Namun ketika satu perusahaan muncul di permukaan Youtube dan mengambil alih eksistensi dan subscriber mereka dengan uang dan popularitas, persaingan ini menjadi masalah dan tidak adil lagi.

Sebagaimana slogan Youtube yang kita tahu adalah “Broadcast Yourself” bukan “Broadcast Your Company” atau apa lagi “Broadcast Your Money and Popularity”. Bayangkan jika para content creator ini sudah mengerahkan keringat, waktu, dan kreatifitas mereka selama bertahun – tahun, harus tunduk kepada channel resmi sebuah perusahaan yang bisa sepenuhnya mengerahkan SDM dan uang mereka untuk meningkatkan views dan subscriber mereka dalam hitungan menit.

***

Sebagai anak muda pecinta Youtube, aku setuju dengan ini. Tapi di belakang itu aku punya perspektif sendiri.

Sedikit cerita. Weekend yang lalu aku menemani orang tua menghadiri kegiatan ‘Reuni Lintas Generasi’ alumni Masjid Dakwah USU (Universitas Sumatera Utara). Bersilaturahmi dan berbincang soal dakwah Islam hari ini di Indonesia. Di acara tersebut aku diperkenalkan Papa kepada sahabat sekaligus mentor beliau semasa menjadi aktivis Masjid, Om Agus Dwi Handaya. Beliau adalah salah satu jajaran Direksi dari PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Dari pertemuan itu aku sedikit mengobrol dengan beliau, seputar Novel dan Sekolahku. Sepanjang obrolan aku memerhatikan beliau, dari cara dia berbicara, menanggapi sesuatu, dan gestur tubuhnya menyiratkan kewibawaan dan pengalaman yang luar biasa menurutku. Dari seorang mahasiswa Ekonomi, aktivis yang sering tidur di pelantaran Masjid dan makan nasi bungkus pakai Ikan Dencis. Kini menjadi Direktur di salah satu Bank terbaik di Indonesia, dan sering di undang lembaga dan Universitas terkenal di dunia untuk membahas tentang Ekonomi dan Perbankan.

Bagaimana dia melakukan itu? Selain karena kedisipinan dan kegigihannya, salah satu yang pasti adalah berkat pengalaman dan pembinaan yang dilakukan oleh Perusahaan tempat dia bekerja.

Ini membuka fikiranku tentang persoalan Anak Muda vs Perusahaan, yang jelas di pertontonkan oleh PewDiePie dan T-Series. Bahwa jika nantinya PewDiePie kalah oleh T-Series itu adalah hal wajar. Karena seperti yang kita tahu PewDiePie adalah conten creator yang bekerja sendiri, sedangkan T-Series adalah perusahaan yang bekerja beramai – ramai. Jika PewDiePie menggerakkan Youtube-nya hanya dengan beberapa orang team-nya, T-Series sudah memiliki visi dan proyeksi yang jelas terhadap channelnya, menggaet dan membina orang – orang yang mumpuni di bidang tersebut, berkolaborasi dan membuka jaringan bisnis yang luas. Pantas lah content – content video mereka selalu berkualitas hingga menarik views dan subscriber yang luar biasa.

Lalu, apa artinya kesempatan kita sebagai anak muda berkarya di Internet sudah tertutup, mengingat semakin maraknya perusahaan – perusahaan yang kini aktif di media social?

No. Justru ini kesempatan besar! Kita harus bangun perusahaan kita sendiri! Dengan nama yang kita suka, bersama sahabat yang kita bangga, dengan visi dan harapan yang membuat kita selalu semangat belajar dan berkarya.

Kita tidak bisa bekerja sendiri, tapi bukan berarti kita bergantung dengan orang lain. “I am a captain of my soul!” Nelson Mandela pernah mengatakan itu di balik jeruji penjara. Itu artinya kita yang membuat diri kita kalah dan menyerah, tetapi diri kita juga yang membuat kita besar dan menang.

2019

“Anak Indonesia untuk Indonesia”.