Program Default Rakyat Indonesia, Apa Pula Itu?

Tahukah kau? Ada sesuatu yang jelas terlihat di wajah bangsa kita, sebuah jati diri yang membingungkan bangsa lain. Ini tak hanya sekedar kebiasaan umum, tetapi telah mendarah daging di setiap jiwa yang lahir di atas tanah indah ini. Semacam program default yang di anugerahkan Allah pada masyarakat Indonesia. Ciri khas sederhana namun berdampak luar biasa, yang telah membangun martabat Nusantara ratusan tahun lamanya.

***
Seperti yang kukatakan di tulisan sebelumnya, pasca berkesempatan ikut sebagai Delegasi Indonesia dalam Konfrensi Internasional CEI (Caretakers of The Environment International) 2017 di USA bulan lalu, aku mendapat pengalaman keren, berkenalan dengan anak – anak muda dari seluruh dunia.

Nah, salah satu yang kukenal baik di Konfrensi itu adalah teman – teman dari Delegasi Hong Kong. Asal kalian tahu, di Konfrensi CEI tahun ini kebetulan Hong Kong adalah Negara terbanyak mengirimkan Delegasi, lebih dari 30 siswa dari setidaknya 7 Sekolah yang berbeda.

Tetapi jangan kagum dulu pada mereka. Secerdas apapun mereka, sebrilian apapun ide penelitian mereka, atau sejago apapun mereka berpresentasi di depan para Profesor dan Ilmuwan.

Mereka tak pernah berkenalan atau bahkan bersapa satu sama lain!

Hidup mereka selama Konfrensi di kekang oleh persaingan, guru – guru pendamping mereka saling membuang muka, menutup diri dan sibuk dengan urusan tim masing – masing, seolah sengaja menembok dinding egoisme diantara mereka. Apa lagi saat waktu presentasi tiba, jika kebetulan mereka berada di satu tempat yang sama, jangan heran ruangan tersebut bisa menjadi medan perang saudara, yang dihujani argumen serta pertanyaan.

Bukan berlagak picik sih, sebagai salah satu Delegasi Indonesia dari 13 Orang dari 4 Sekolah yang berbeda. Aku paham betul ada sesuatu yang mereka kejar, ada sebuah kerja keras dan perjuangan sebelum ini yang membutuhkan imbalan, mungkin saja uang atau hal – hal lainnya dari pemerintah, donatur, atau sponsor. Tentu saja imbalan tersebut tidak datang secara tiba – tiba, tanpa menghiraukan tuntutan dari orang yang memberikannya.

Tetapi ketika bendera merah putih telah berkibar di dada serta amanah telah bertengger di bahu. Aku menjadi Kami. Seketika program default rakyat Indonesia yang kami miliki, hidup dan berkerja.

Melupakan perselesihan yang tak berguna, senantiasa menciptakan keharmonisan satu tanah air.

Kami yang sedari kecil hidup dengan hal – hal sederhana: Bersopan-santun, mengucapkan salam dan berjalan tunduk ketika melintas atau bertemu dihadapan orang yang lebih tua. Bersatu dalam perbedaan, menghargai segala perbedaan, bersahabat dengan siapa saja tanpa memilih – milih soal agama, suku, dan ras.

Sebuah pelajaran berharga yang takkan mungkin kau temukan di Negara super-power sekalipun. Membentuk sifat hebat yang dipuji – puji oleh seluruh bangsa. Ramah, mudah bergaul, asyik dan terbuka.

Ketika aku menyadari hal ini, aku tak heran lagi mengapa nama Delegasi Indonesia. Terkenal dan disegani di Konfrensi tersebut.

Mau mempertahankan program default rakyat Indonesia-mu?

Dirgahayu HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2017

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.