Rasisme di Barat: Akar Masalah dan Solusinya

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa At-Taqwa College) — ISU rasisme kembali mencuat di dunia Barat, menyusul penangkapan brutal yang menimpa George Floyd, seorang warga berkulit hitam di Minneapolis, Amerika Serikat. Pria berusia 48 tahun itu, awalnya ditangkap pada 25 Mei 2020 atas dugaan transaksi uang palsu senilai $20 (Rp.292 ribu). Namun, kendati ia tidak melawan, para oknum Polisi langsung meringkusnya secara sadis, mengambrukkannya ke aspal, lantas menekan lehernya dengan lutut, hingga akhirnya ia kehabisan nafas dan tewas di tempat.

Peristiwa itu sontak menyulut kemarahan warga Amerika. Seminggu pasca tragedi itu mendapat kecaman dunia, kerusuhan luar biasa antara warga dengan pihak kepolisian terjadi di berbagai titik di Amerika. Bahkan menurut laporan dari CNN International, sudah ada tiga negara bagian yang kini memberlakukan status darurat, yakni Arizona, Texas, dan Virgina. Walaupun sejumlah pemerintah daerah Amerika, termasuk Donald Trump mengecam tragedi ini. Fenomena kemanusiaan ini semakin membenarkan kenyataan pahit, bahwa isu rasisme seakan tak pernah hilang dari dunia Barat  

Rasisme berlanjut dari sistem perbudakan di masa lampau kepada pandangan supremasi kulit putih. Supremasi yang coba dihapuskan oleh Abraham Lincoln (1809-1865) ini, justru dibangkitkan kembali dengan justifikasi ilmiah dari para sosiolog Barat. Dalam buku The Scholar Denied: W.E.B Du Bois and the Birth of Modern Sociology yang diterbitkan University of California Press pada 2015, Profesor sosiologi dan studi Afrika-Amerika Northwestern University, Aldon D. Morris menuliskan betapa rasisme begitu melekat dalam aktivitas keilmuwan para sosiolog modern. Dia menuliskan, “As research for this book proceeded, I was surprised by how deeply racism was embedded in American social science during most of twentieth century.”

Di dalam buku yang sama, Aldon D. Moris juga mengupas pemikiran seorang tokoh sosiolog keturunan Afrika-Amerika, W.E.B Du Bois (1868-1963) yang konon menghabiskan hidupnya untuk melakukan penelitian mengenai rasisme di Amerika. Sebagai seorang peneliti sekaligus aktivis sosial, Du Bois mengungkapkan bahwa inferioritas warga kulit hitam merupakan produk dari konstruksi sosial Amerika. Lebih dari itu, rasisme mengakar tidak hanya dalam budaya Amerika, namun juga termanifestasi dalam reproduksi pengetahuan sosiologi sekaligus pola pikir para sosiolog modern.

Kecenderungan para ilmuwan Barat dalam menggali dan mencocokkan tulang untuk melihat kedudukan antar manusia, dianggap sebuah metode ilmiah. Dikutip dari buku Types of Mankind (1854), metode inilah yang mengantarkan nama-nama ilmuwan seperti Josiah Clark Nott dan Goerge Robins Gliddon kepada teori bahwa tengkorak “bangsa negro” berada pada peringkat penciptaan antara tengkorak “bangsa Yunani” dan simpanse. Percaya atau tidak, rasisme ilmiah atau biasa disebur Biologi ras ini, sempat eksis dalam studi Antropologi dan Biologi dari tahun 1600 an hingga Perang Dunia II.

https://id.wikipedia.org/wiki/Rasisme_ilmiah

Pemahaman ini jelas terpengaruh oleh paham Darwinisme Sosial, yang umumnya menjadikan seleksi alam sebagai indikator pemisah antara golongan yang kuat dan lemah. Menurut penjelasan Richard Osborne, – seorang sosiolog Barat – dalam bukunya Sociology for Beginners, Darwinisme sosial pada dasarnya memunculkan kembali ide survival of the fittest dan tentang ras-ras superior secara generis, sehingga tak heran pemahaman ini menjadi “biang kerok” atas berbagai pelanggaran kemanusiaan di sepanjang sejarah. Mulai dari doktrin “pemurnian populasi” ala eugenik, yang digunakan Nazi untuk membantai jutaan orang Yahudi, sampai pemikiran imperialisme yang melegetimasi negara-negara Barat untuk menginvasi daerah di luar wilayahnya, seperti yang dilakukan Portugis dan Belanda terhadap pribumi di Indonesia.

Tindakan rasis praktis telah ditentang dalam United Nations Universal Declaration of Human Rights pada 1948, dan pernyataan anti-rasisme UNESCO, “The Race Question” tahun 1950. Namun, dampak dari pemahaman rasisme ilmiah tidaklah hilang begitu saja di masyarakat Barat. Buktinya, pada 1994 sebuah buku berjudul The Bell Curve muncul ke khalayak. Buku ini membenarkan perilaku rasis, dengan dalih perbedaan ras berhubungan dengan tingkat intelektual seseorang.

Ini menunjukkan, betapa Amerika masih mengalami dilema dalam memandang perbedaan dan kemanusiaan. Tanggapan mereka terhadap pertanyaan kuno: mengapa manusia ini diciptakan berbeda, jutru membawa mereka pada spekulasi yang tak berujung. Seperti nenek moyang manusia adalah Kera, humanity above religion, manusia tanpa tujuan ketika diciptakan, dan lainnya. Mirisnya, spekulasi-spekulasi tak berdasar semacam ini diambil begitu saja oleh sebagaian masyarakat Indonesia, seakan barang bagus yang tak ada cacat sedikitpun.

Ketika video George viral di jagad dunia maya, banyak orang Indonesia yang mengaitkan peristiwa ini dengan tindakan rasis terhadap warga etnis Papua di Nusantara. Sebagian diantara mereka menggunakan spekulasi di atas untuk menyuarakan agar Papua lepas dari Indonesia. Padahal, diluar unsur politik di dalamnya, tidak ada jaminan itu adalah solusi, terlebih kepada masalah persatuan yang membuntuti dibelakangnya. Untuk itu, perlu ditekankan bahwa rasisme bukan budaya Indonesia, tapi bentuk pandangan Barat yang seharusnya disingkirkan. Dengan cara mengkaji kembali wacana keberagaman dengan persepektif yang benar.  

Sebagai negara yang memiliki keberagaman suku dan ras, sekaligus negara dengan warga Muslim terbanyak di dunia, sudah sepatutnya Indonesia memahami bahwa hikmah dari penciptaan manusia yang berbeda-beda adalah ketetapan Allah Swt. Ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi, “Dan di antara tanda-tanda (Kebesaran-Nya) ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa-bahasa dan warna (kulit) kamu. Sungguh, dalam yang demikian itu ada bukti-bukti bagi orang yang mengetahui” (Ar-Rum: 22).

Islam memiliki persepektif yang jelas dalam konsep kedudukan antar manusia. Pada dasarnya, agama ini tidak memandang perbedaan suku dan ras sebagai tolak ukur kemuliaan seseorang, melainkan yang paling bertaqwa kepada Allah. Senada dengan itu, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”. (Al-Hujurat: 13).

Bilal bin Rabah ra adalah salah satu contoh sahabat Rasulullah, yang menjadi simbol kemuliaan yang tidak memandang warna kulit ataupun status sosial. Kemuliaan beliau bahkan tercermin dari sabda Rasulullah Saw kepada Abu Dzar, yang berbunyi “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan taqwa.” Jika Bilal bin Rabah saja punya kedudukan yang tinggi, lantas mengapa kita risau mengurus kedudukan manusia berdasarkan warna kulit dan tulang belulang mereka? Inilah kekeliruan dari para ilmuwan Barat, yang mendewakan akal dan panca indera mereka, serta menafikkan peran wahyu sebagai sumber kebenaran yang absolut.   

Allah tidak pernah memerintahkan umat-Nya untuk membenci atau merendahkan golongan manapun, apalagi sampai menggali tulang-belulang mereka dan mencocokkannya dengan Kera. Karena jelas, dengan agama, khususnya Islam, manusia tidak akan rancu lagi dalam memandang perbedaan dan kedudukan manusia satu sama lain. Ia akan terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah, menghormati orang lain, serta peduli dengan lingkungan sekitar. Sebab hanya dengan cara itulah, kemuliaannya di hadapan manusia akan bernilai di mata Sang Pencipta.

Pancur Batu, 2 Juni 2020.