Romansa Nusantara

Aku dan Delegasi Muda Indonesia dalam konferensi kepemudaan CEI 2018 di Austria

Jutaan bendera merah-putih berkibar lebih anggun pagi ini. Gegap gempita hari kemerdekaan berseruan menyongsong sinar mentari yang tak mau kalah semangat dari gumpalan awan yang berarak serasi, bak langkah gagah para pasukan PETA yang dahulu menebas rasa takut demi tegaknya Republik ini. 74 tahun Negeri ini berdiri, mengenggam sejarah panjang yang terangkai dalam indahnya senyum, sakitnya penindasan, serta pedihnya pengkhianatan. Tepat pada hari ini, kita merayakan kembali kedaulatan sang Ibu Pertiwi.

Hari kemerdekaan ini terasa begitu dinanti, pasca gonjang-ganjing politik panas yang menderu setahun ini, setidaknya hari ini bangsa Indonesia punya momentum, merekatkan persahabatan, dan menata lagi mimpi yang ingin kita capai bersama untuk Negeri ini. Dalam sebuah jalinan cinta yang kunamakan, Romansa Nusantara.

Bukan tanpa sebab diksi ‘Romansa’ kugunakan dalam judul tulisan kali ini. 15 tahun setelah berbagai lika-liku yang rumit, kisah Novel Roman fenomenal “Bumi Manusia” karya sastrawan masyhur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer akhirnya di angkat ke layar lebar. Aku sudah tak asing dengan nama sastrawan itu sedari SMP, ketika quotenya yang terkenal itu masih menghiasi dinding kamarku, bersanding dengan photo nyentrik beliau dengan sebatang rokok di tangan.

Bumi Manusia adalah novel Pramoedya pertama yang kubaca, sebuah karangan luar biasa yang bagiku tak lah berlebihan dinobatkan sebagai salah satu karya sastra terbaik di dunia. Pram dengan tangan dinginnya mampu merangkai kisah dengan pergolakan yang apik, nuansa roman klasik yang mengiringi kisah Minke, seorang pribumi cerdas yang jatuh cinta dengan gadis cantik keturunan Belanda, Annalise. Mengajak kita menyelami ‘wajah’ Nusantara pada awal abad ke-20, bersama segala perasaan gundah tentang ketidakpekaan budaya yang mengekang, keterbatasasan pendidikan yang melemahkan, serta kebiadaban kolonialisme yang semena-mena.

Sempat dianggap kontroversial karena ditulis oleh seorang yang ‘dekat’ dengan komunis, Novel Bumi Manusia yang nyatanya telah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia hingga mengantarkan Pramoedya menjadi kandidat peraih nobel Sastra beberapa kali, pernah dilarang beredar di seluruh Nusantara, dan hampir dibumi hanguskan oleh pemerintah orde baru.

Padahal entah aku yang harus lebih teliti dan belajar kembali tentang hal ini, aku tidak menemukan satu bagianpun di dalam buku ini yang terindikasi mengandung paham terlarang tersebut.

Sepintas setelah mengetahui informasi ini, aku jadi teringat kejadian tak mengenakan juga dialami oleh satu lagi sastrawan hebat Indonesia, sekaligus ulama kharismatik yang dihormati dunia, Buya Hamka. Siapa yang tidak mengenal karya beliau, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”? Dengan genre dan latar waktu yang hampir sama seperi Bumi Manusia, Buya Hamka juga mengangkat sebuah kisah cinta dari tanah Minangkabau yang sarat akan kritik beliau terhadap adat dan budaya masyarakat Indonesia saat itu.

Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijk berkisah tentang seorang Zainuddin, pemuda kampung yang sederhana dengan pujaan hatinya, Hayati. Kisah cinta mereka yang awalnya begitu manis, ternyata tak mampu bertahan indah. Tatkala lamaran Zainuddin ditolak mentah-mentah oleh orang tua Hayati. Karena sesuai adat yang berlaku saat itu, Zainuddin dianggap tidak memiliki darah Minangkabau, sehingga tidak layak mempersunting Hayati yang merupakan gadis dari keluarga Minangkabau tulen. Gejolak mulai terbangun ketika Hayati dengan sangat terpaksa harus menikahi lelaki pilihan orang tuanya, yang ternyata dikenal sebagai ‘budak’ Belanda yang hanya cinta pada uang dan kekuasaan.

Pada masa tenarnya, tidak banyak orang tahu Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk pernah mendapatkan fitnah yang luar biasa oleh pihak yang begitu membenci beliau. Oleh karena beliau adalah salah satu pendiri Partai Islam Masyumi, bersama para founding fathers Indonesia lainnya, seperti Muhammad Natsir dan Agus Salim, lawan-lawan politik beliau melancarkan serangan dengan menuding Tenggelamnya Kapal Van der Wijk adalah hasil plagiat semata.

Dan tokoh yang sangat vokal menyuarakan penghinaan tersebut, tak lain adalah Pramoedya Ananta Toer berserta kaum kiri lainnya yang aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Kenyataan ini benar-benar membuatku tak habis fikir, membayangkan apa jadinya bila buku-buku yang kutulis dengan tangan dan fikiranku sendiri, dijadikan bahan olokan hanya karena fitnah murahan.

Namun, perseteruan kedua tokoh tersebut membawaku pada penghujung kisahnya yang sungguh tak terduga.

Diabadikan dalam buku “Belajar Dari Partai Masyumi “ dan “Pribadi dan Martabat  Buya Prof.Dr.Hamka”.

Suatu ketika, Astuti, putri Pramoedya ingin menikah dengan seorang lelaki. Pram sebagai seorang ayah begitu bahagia mendengarnya, namun ada yang mengganjal di hatinya, calon suami anaknya yang peranakan etnis Tionghoa ternyata diketahui berbeda keyakinan dengan putrinya. Lantas, beliau berkata, “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda.”

Beliau kemudian meminta putri dan calon menantunya untuk datang menemui Buya Hamka, sosok Ulama yang selama bertahun-tahun berselisih paham dengannya. “Saya lebih mantap mengirimkan calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik,” demikian ujar Pram kala itu.

Berangkatlah Astuti dan calon menantunya itu mendatangi kediaman Buya Hamka. Ketika Astuti memohon kepada Buya Hamka agar bersedia mengajarkan kekasihnya itu ajaran Islam, Buya Hamka sempat tertegun sejenak, beliau jelas mengetahui bahwa gadis di hadapannya adalah putri Pramoedya Ananta Toer. Seorang yang selama ini melancarkan serangan fitnah bertubi-tubi kepadanya.

Lantas apa yang dilakukan beliau? Buya Hamka tentu punya hak untuk menolak, namun takdir menuntutnya untuk bersikap bijak.

Rusydi Hamka, putra Buya Hamka yang melihat peristiwa itu menceritakan. Tiada hati yang tak terguncang, tatkala melihat sosok ayahnya yang begitu tegar sebagai pejuang, tiba-tiba tak kuasa membendung air mata yang membasahi wajahnya. Buya Hamka, Ulama hebat itu menyatakan sepenuhnya ikhlas membimbing sejoli itu untuk belajar Islam.

Astuti tidak menyangka, sosok yang dulu begitu dibenci ayahnya, ternyata adalah lelaki yang bersahaja dan berlapang dada. Ia sungguh tak kuasa menahan haru, dan berterima kasih bisa diterima untuk menimba ilmu agama. Mereka pun larut dalam kehangatan, dan melupakan seluruh dendam yang ada.

“Lupakah ayah, siapa Pramoedya itu?” Tanya Rusydi sambil mengingat-ingat bagaimana fitnah keji yang dilontarkan para aktivis PKI terhadap ayahnya itu.

“Tidak. Betapapun dia membenci kita, kita tak berhak menghukumnya. Allah-lah Yang Maha Adil. Dan dia pun sudah menjalani hukumannya dari penguasa di negeri kita ini,” jawab Buya Hamka.

Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer semasa muda

***

Selayaknya kisah roman yang tak melulu hadir dengan senyum bahagia. Ada kalanya kisah cinta diantara rakyat Indonesia yang terangkum dalam Romansa Nusantara ini akan jauh lebih indah bila kesedihan, kepedihan, ataupun rasa haru hadir di dalamnya, menjadi bumbu-bumbu cinta yang menawan tiada tara.

Begitulah makna yang bisa kuambil dari kisah dua sastrawan besar idolaku ini. Mereka mungkin bisa saling berseteru karena perbedaan ideologi, namun sepanjang hidup kendati terlunta-lunta oleh kekacauan zaman, mereka tetap konsisten bergerak dan berkarya demi kepentingan bangsa, bukan untuk satu pihak tertentu maupun pribadi. Sehingga jasa dan karya mereka masih terkenang hingga hari ini.

Orang tuaku selalu mengingatkanku untuk jangan cepat terkesima dengan siapapun, karena sejarah tidaklah sesederhana mengklaim baik dan buruknya seseorang semasa dia hidup.

Cerita bisa dimanipulasi, namun sejarah tidak.

Seorang pahlawan yang penuh jasa bisa dihilangkan kesalahannya bak ditelan bumi, sebaliknya seorang pengkhianat bisa diceritakan sedemikian rupa agar jasanya seakan memenuhi langit.

Hari ini 74 tahun bangsa ini merdeka, aku berharap Romansa Nusantara selalu ada diantara kita. Tanpa dikotori oleh kebenaran yang hilang, ataupun kesalahan yang dicari-cari. Kita adalah keturunan pejuang, bersaudara dengan kasih dan cinta dalam naungan Ibu Pertiwi. Jangan biarkan siapapun merusak romansa kita bersama!

Dirgahayu Indonesiaku yang ke-74!

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.