Sang Pemburu Tanda

“Dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan  Allah dari langit, lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda – tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang mengerti”

(QS Al-Jasiyah: 5)

Hidup adalah mencari. Bila kalian punya novel keduaku, ‘SEARCH’. Kalian akan tahu kalimat ini tertulis jelas di covernya.

Ada sebuah ungkapan lama yang pernah disebutkan orang tuaku; Bahwa orang yang berilmu adalah orang yang gigih mencari ‘tanda – tanda’ kebesaran penciptaan di sekelilingnya, serta meyakininya sebagai ladang ilmu tanpa batas.

Sengaja ataupun tak sengaja, percaya akan ungkapan itu telah membawaku ke berbagai petualangan hebat yang takkan terlupakan.

Aku pernah sendirian berkeliling di Ibu Kota, mencicipi meriahnya jalanan Jakarta, dengan angkot dan ojek konvensionalnya. Belajar menggunakan Kereta Api, Bus dan transportasi online, bersama jutaan manusia yang seolah dituangkan dari seluruh Indonesia.

Jika aku pernah makan malam bersama para Professor dari Universitas di Amerika, Rektor salah satu Universitas Negeri, Gubernur, serta para pemilik perusahaan besar. Jangan tanya sudah berapa kali aku duduk di warung pinggir jalan (nyaris dekat selokan atau pembuangan sampah) sambil menyantap nasi uduk atau mie ayam, ditemani lalat, gelandangan, serta pedagang kaki lima berwajah penuh debu.

Aku juga punya banyak teman – teman hebat, dari mahasiswa Malaysia dan Amerika, para ABG cerdas dari Hong Kong dan Turki, hingga anak – anak muda keren dari pulau Jawa dan Palembang. Tapi kayaknya itu belum cukup, karena aku juga punya kenalan tukang cilok, kasir Supermarket, penjaga Kebun Raya Bogor, supir angkot di Surabaya, dan banyak lagi.

***

Mungkin pengalaman ini terdengar agak aneh. Tapi banyak mendengar, banyak melihat, banyak berfikir (merenung), bukankah itu yang di maksud Allah dalam ratusan kalamnya dalam Qur’an? Lalu bagaimana kita bisa melaksanakannya bila kita yang katanya berjiwa muda hanya diam, tanpa bereksplorasi keluar?

Islam hanya akan tetap menjadi olokan kaum Quraisy dan tak berkembang jika Rasulullah tidak membawa kaum muslimin untuk hijrah dari Makkah ke Madinah. Ibnu Batutah tidak akan dikenal namanya, jika catatan perjalanannya mengelilingi dunia tidak pernah muncul pada abad ke-14. Atau Republik Indonesia tidak akan pernah di akui dunia Internasional, jika Presiden Soekarno lelah terbang kesana – kemari melintasi benua demi mengenalkan Indonesia, sekaligus belajar bersama pemimpin – pemimpin dunia yang lain saat itu.

Harus ada yang kita ubah dalam diri kita, mumpung nuansa liburan dan tahun baru masih terasa. Ayo kita mulai berburu ‘tanda – tanda’ penuh hikmah yang ada di daerah kita.

Gunakan seluruh indera yang kita punya, langkahkan kaki ketempat yang belum pernah kita jamah, luaskan jaringan dengan bertemu, berkenalan, dan bercerita dengan banyak orang.

Nanti kau bagai terperanjat dari tidur panjang. Sadar bahwa Allah begitu kerennya telah mempersiapkan dunia ini sedemikian hebatnya untuk kau belajar menjadi Anak Muda yang terbaik.

Hidup Anak Muda muslim penjaga NKRI!