Sang Pencipta Bahaya Itu Adalah Kita!

Muhammad Toha

8 Juli 1946, sepotong riwayat tengah merekam seorang pemuda yang berdiri gagah di depan pintu rumahnya di sebuah perkampungan.

Tapak kakinya mantap menapak tanah, tubuhnya yang kekar, nampak kontras dengan raut wajahnya yang begitu bersahabat, khas bocah kampung yang sederhana.

Usianya baru saja menginjak 19 tahun, namun jangan salah, dia adalah salah satu prajurit terbaik dari Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) yang saat itu tengah berjuang mengusir Sekutu dan NICA Belanda dari kota Bandung.

Usia muda bukanlah halangannya untuk menjadi pembela tanah air. Dalam pasukan BBRI yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak, ia mendapatkan jabatan yang tak main-main, yakni Komandan Seksi 1 Bagian Penggempur.

Hari ini pemuda itu memutuskan pulang ke kampung halamannya di daerah Garut, Jawa Barat. Semua orang di kampung mengenal baik namanya, seorang anak muda yang terkenal cerdas dengan hati selembut sutra.

Semasa pendudukan Belanda dan Jepang, tidak ada satupun yang lupa betapa gigihnya ia mencari uang untuk demi membeli berkarung-karung beras. Sampai-sampai ia memikul dan membagikannya sendiri ke masyarakat miskin di kampungnya, hingga masa pendudukan Jepang berakhir.

Hari-hari kepulangannya ini ia lewati dengan sukacita. Hingga suatu ketika, sang pemuda itu akhirnya menyampaikan maksud tujuannya pulang ke rumah. Dia bersimpuh takzim di hadapan Ibunya, sembari meminta restu untuk kembali ke medan perang dan berjuang membebaskan Bandung dari cengkeraman musuh.

“Jangan katakan ini hari terakhirmu, Toha….” Ucap Ibunya dengan bibir gemetar, sungguh tidak ada satupun Ibu di dunia yang sanggup melepas anaknya di ujung maut.

“Enggak Ibu, saya akan kembali,” jawab pemuda itu dengan nada yang tegas, menggambarkan seberapa bulat tekadnya untuk perjuangan ini.

Kemudian dia menghampiri adik perempuannya, memberikan pelukan hangat, yang konon takkan terlupakan bagi adiknya. “Apa yang kau bawa Bang, apa itu Nanas?” Tanya adiknya saat sorot mata kecil itu menangkap ada bulatan-bulatan mirip Nanas yang melingkari pinggang pemuda itu.

Sang Komandan muda itu tertawa kecil, “Ini granat dek…” katanya sambil menyimpul senyum.

11 Juli 1946, operasi yang telah direncanakan pemuda itu mulai dilancarkan. Bersama sahabatnya, Muhammad Ramdan, pemuda itu nekat menyusup ke wilayah Kota Bandung yang saat itu tengah dikuasai musuh.

Degup jantung seakan sudah menyerah melenyapkan semangatnya, pandangan matanya yang awas menyapu medan pertempuran, menjemput bahaya dengan gerakan yang dingin nan mematikan.

Di tengah situasi tersebut, sempat terngiang di telinga pemuda itu peringatan atasannya, Omon Abdurrahman yang beberapa hari lalu menolak habis-habisan operasi ini.

“Kau akan mati konyol Toha! Penjagaan di sana pasti sangat luar biasa!”

“Tidak. Saya akan tetap melakukannya, Pak. Gedung itu menyimpan mesiu yang selalu digunakan musuh sebagai amunisi, jika itu diledakkan akan lebih mudah untuk kita menggempur habis mereka!”

“Itu berbahaya, penuh resiko! Ingat, kau masih muda!”

“Apalah arti muda, Pak! Tekadku sudah bulat, demi Tanah Air ini, sebahaya apapun akan kuhadapi!”

Sebuah peluru musuh tiba-tiba meluncur dari arah yang tak terduga, menembus angin dengan hebatnya hingga tak mampu lagi untuk dielakkan. Muhammad Toha, sang Komandan muda itu tertembak.

Ramdan segera membalasnya dengan tembakan yang membagi buta, Toha yang masih punya sedikit kekuatan, segera mengarahkan sahabatnya itu untuk mendekat sedikit lagi ke gedung mesiu itu.

“Apa yang harus kita lakukan? Mereka telah mengepung!” Seru Ramdan kepada Toha, sambil membantu sahabatnya itu untuk duduk di sebelah gedung mesiu itu.

“Pergi….” Toha berkata lirih.

“Jangan gila kau! Mau apa kau disini!?”

Toha membuka ikat pinggangnya. Desingan peluru musuh semakin menggila, waktu terus berjalan, dan apapun yang terjadi, itu harus terjadi sekarang.

“Pergilah, kawan. Serang mereka dari depan, aku akan selesaikan operasi ini!”

Ramdan mengangguk, walaupun gumpalan perasaan bersalah menyelimutinya, dia tahu Toha tak pernah main-main dengan ucapannya.

Hingga akhirnya mereka berpisah, Ramdan tanpa padang bulu segera menyambut serangan dari tentara musuh dengan senapannya. Dan Toha, sang komandan muda kebaggan kita mengangkat sedikit lengannya di atas udara, kemudian mencabut cincin pematik bulatan ‘Nanas’ di pelukan jarinya.

“Maaf, bu! Mungkin kepulanganku akan tertunda…” Gumamnya getir.

Suara dentuman hebat menggetarkan tanah Dayeuhkolot di kota Bandung, kobaran api dan kepulan asap membubung tinggi bertemu langit. Sekutu dan NICA Belanda benar-benar gigit jari akan kejadian itu, hanya butuh waktu beberapa detik, 110 Ton mesiu musnah seketika di tangan 2 pemuda pemberani Kota Bandung.

Ramdan tercatat gugur di tengah medan pertempuran, belasan peluru telah menembusnya duluan sebelum ledakan itu dimulai. Dan Komandan muda kebanggan kita, Muhammad Toha yang berjasa mematik granat demi meledakkan gedung mesiu tersebut, hingga sekarang belum ditemukan jasadnya.

Tugu Muhammad Toha di Dayeuhkolot, Bandung

***

Ketika aku dan teman-teman Rumah Literasi ILA education belajar tentang sejarah ‘Bandung Lautan Api’, sosok muda Muhammad Toha memang berhasil membuat kami takjub. Kegagahannya di medan perang, kemurahan hatinya terhadap rakyat kecil, dan kasih sayangnya kepada keluarga, membuatku serasa kehilangan kata-kata.

Muda dan berbahaya, jelas ungkapan itu berhasil dibuktikan oleh Toha.

Keberanian dan ketulusan hatinya, semua terbayar lunas oleh riwayat pengorbanan yang takkan terlupakan. Mimpinya akan kebebasan Ibu Pertiwi benar-benar mematikan ragu dan gentarnya bertemu segala macam bahaya. Karena dia tahu, apalah artinya muda bila hanya mampu bergerak lambat seperti orangtua. Apalah artinya muda, andai dia tak berani menjadi bahaya bagi para musuhnya.

Kini dunia semakin terbuka untuk Anak-anak muda. Tidak ada lagi kesempatan yang tak bisa didapatkan oleh Anak Muda. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Tutuplah ruang untuk ketakutan akan kegagalan, tutuplah mata dan telinga akan suara-suara lemah yang memerintah kita untuk diam dan berhenti berperan.

Yah, walaupun Toha dan Ramdan masih belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Setidaknya kisah heroik mereka, bisa jadi catatan untuk kita, agar senantiasa menjadi pemicu bahaya bagi setiap musuh di bidang kita masing-masing, baik itu diri kita sendiri maupun para raksasa yang berkuasa di antara kita.  

Karena sejatinya, kitalah pencipta bahaya di sepanjang sejarah dunia!

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.